Startup Chatbot, Botika Bakal Rambah Internet of Things Tahun Depan

Botika menyediakan chatbot untuk UMKM hingga perusahaan besar.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
1 Oktober 2019, 19:49
Startup chatbot,Botika berencana merambah pasar IoT tahun depan.
Instagram/@botikaonline
Co-Founder Botika Eri Kuncoro, Chairman Markplus, dan CEO Botika Ditto Anindita dalam acara IMF 2019. Startup chatbot,Botika berencana merambah pasar IoT tahun depan.

Startup Botika berencana merambah layanan Internet of Things (IoT) tahun depan. Sebab, perusahaan penyedia platform robot percakapan (chatbot) ini memperkirakan teknologi itu bakal masif digunakan di Indonesia pada 2020.

Pendiri sekaligus CEO Botika Ditto Anindita mencatat, layanan IoT berbasis suara (voice) mulai diadopsi oleh banyak perusahaan Indonesia. “Tahun depan kami rambah IoT,” kata dia di Jakarta, Selasa (1/10).

Ia ingin membuat asisten virtual berbasis IoT yang bisa diakses lewat suara. Untuk itu, perusahaannya perlu mempersiapkan beberapa teknologi seperti chatbot yang sesuai, voice, dan platform untuk integrasi dengan IoT.

Ia mencontohkan, klien nantinya bisa meminta asisten virtual berbasis IoT untuk mematikan lampu hanya dengan suara atau tanpa mengetik. “Kami ingin fokus ke arah sana (IoT)," katanya.

(Baca: Startup Chatbot, Halosis Dapat Modal Rp 17 Miliar)

Akhir tahun ini, perusahaan juga berencana merilis layanan pengeras suara (smart speaker) seperti Alexa. Layanan ini nantinya bisa diakses dengan bahasa Indonesia.

Botika berdiri pada September 2016 lalu. Awalnya, startup ini hanya memiliki layanan chatbot untuk pelanggan perusahaan (customer enterprise). Kini, perusahaan rintisan ini memiliki empat layanan.

Pertama, chatbot untuk perusahaan. Kedua, aplikasi Chatbotika yang bisa diperuntukan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Ketiga, omni chatbot yang memungkinkan perusahaan menjawab pelanggan secara otomatis di media sosial. Terakhir, voicebot yakni chatbot melalui suara.

Untuk aplikasi Chatbotika, omni chatbot dan voicebot bersifat berlangganan. Sedangkan untuk layanan chatbot enterprise, dikenakan biaya pengembangan (development) dan pemeliharaan (maintenance). "Pelanggan yang ingin membuat karakter suara sesuai brand perusahaan juga bisa," katanya.

(Baca: Kominfo Gandeng Startup Prosa, Kembangkan Layanan Chatbot Anti Hoaks)

Layanan chatbot enterprise dibanderol mulai dari Rp 100 juta. Sedangkan, untuk kustomisasi voice chatbot mulai dari Rp 200 juta. Lalu biaya berlangganan aplikasi Chatbotika untuk UMKM Rp 50 ribu dan omni chatbot Rp 500 ribu per bulan. 

Hingga saat ini, Botika sudah bermitra dengan lebih dari 100 perusahaan. Aplikasi Chatbotika juga sudah diunduh lebih dari 1.000 kali.

Botika pun tengah menggalang pendanaan pra Seri A US$ 5 juta. Tambahan modal itu bakal digunakan untuk mengembangkan keempat layanan yang sudah ada. "Kami butuh lebih banyak sumber daya manusia (SDM),” kata dia.

Perusahaan juga berencana membangun fasilitas pelatihan untuk mengembangkan talenta di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta membangun pusat riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) di Yogyakarta. "Setelah dapat pendanaan, kami targetkan (realisasinya) pertengahan tahun depan," kata dia.

(Baca: Kata.ai Jadi Penyedia Fitur Chatbot WhatsApp Bisnis)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait