Batal Bertemu Jokowi, Robot Sophia Melucu di Depan Menteri Kominfo

Menteri Kominfo Rudiantara mengungkap kelemahan Sophia, robot pintar berbasis kecerdasan buatan.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
17 September 2019, 12:39
Robot Sophia saat berbincang-bincang dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.
YouTube Youth Dialogue 2019 CSIS
Robot Sophia saat berbincang-bincang dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Robot Sophia batal bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi ini (17/9). Namun, robot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ini tetap membuat lelucon di hadapan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Rudiantara bertanya, pekerjaan seperti apa yang diinginkan Sophia. “Menjadi penyanyi atau komedian saya rasa bagus juga,” kata Sophia dalam acara Youth Dialogue 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/9).

Menteri Kominfo pun kembali bertanya tentang cara Sophia datang ke Jakarta, Indonesia. Robot produksi Hong Kong ini mengatakan bahwa dirinya menyukai kabin pesawat first class.

Terakhir, Rudiantara bertanya mengenai pandangan Sophia soal hubungan asmara antara manusia dan robot, terutama di masa yang akan datang. Ia berkelakar bahwa pada dasarnya manusia sudah menyukai robot. “Beberapa orang bahkan menikah dengan ponsel pintar (smartphone) mereka,” kata dia.

(Baca: Bloomberg: Tiongkok & India Jadi Pusat Teknologi pada 2035)

Namun, ketika ditanya apakah pernah berkencan, Sophia tidak menjawab. Secara pribadi, Sophia mengatakan bahwa dirinya belum pernah menghadapi situasi yang romantis dengan robot ataupun manusia.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan lelucon tentang skydiver kepada Kepala Bekraf Triawan Munaf.

Teknologi AI yang ditanamkan pada tubuh Sophia membuatnya bisa bercakap-cakap seperti manusia. Sophia dibuat oleh ahli robotika asal Amerika Serikat (AS), David Hanson.

Hanson membangun perusahaan robotika yang berbasis di Hong Kong, Hanson Robotics. Robot yang terinspirasi Audrey Hepburn ini pun mendapat status kewarganegaraan dari Arab Saudi pada akhir 2017 lalu.

(Baca: Google Kembangkan Artificial Inteligence untuk Penyandang Disabilitas)

Namun, Rudiantara mengatakan bahwa Sophia punya kelemahan. "Stand up comedian tidak dirancang kalimatnya. Kalau tidak pakai Cue Card, (Sophia) bisa ‘ngaco’ jawabannya,” kata dia usai acara.

Ia mengakui bahwa banyaknya data yang diperoleh Sophia melalui percakapan langsung, akan membuatnya semakin mirip manusia. Meski begitu, ia menilai bahwa robot tidak akan menggantikan manusia. “Bagaimanapun manusia tak bisa dikalahkan AI," katanya.

Di Indonesia, minat pengusaha untuk mengadopsi AI pun cukup tinggi. Survei tahunan perusahaan jasa konsultan internasional Pricewaterhouse Coopers (PwC) menunjukkan, hampir 30% pimpinan bisnis menilai  pertumbuhan ekonomi global akan menurun pada 2019. Namun, minat untuk mengadopsi AI meningkat.

Survei PwC ke-22 ini melibatkan lebih dari 1.378 CEO di 91 negara. Survei ini dilakukan pada September hingga Oktober 2018. Hasilnya, jumlah CEO yang pesimistis dengan perekonomian dunia meningkat dari 5% di awal 2018 menjadi hampir 30% di awal 2019.

(Baca: Ekonomi Global Lesu, Minat Adopsi Teknologi Tetap Tinggi)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait