Gojek Tanggapi Rencana Unjuk Rasa Ojek Online di Kedubes Malaysia

Sekitar 10 ribu pengemudi ojek online berencana unjuk rasa di Kedubes Malaysia. Hal itu karena Gojek disebut hanya untuk warga miskin.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
28 Agustus 2019, 13:51
Gojek tanggapi rencana ojek online demo dan video yang dinilai merendahkan perusahaan
Instagram |@syedsaddiq
Ilustrasi, pimpinan Gojek, yakni Nadiem Makarim dan Andre Soelistyo bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Perdana Menteri Malaysia Tun Mahathir Mohamad, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Syed Saddiq, dan Menteri Transportasi Anthony Loke Siew Fook kemarin (19/8). Gojek memilih fokus pada pengembangan ekosistem, ketimbang mempersoalkan wacana demo pengemudi ojek online ataupun video yang dinilai merendahkan perusahaan.

Ribuan pengemudi ojek online berencana unjuk rasa di Kedutaan Besar Malaysia, Jumat (30/8). Namun, Gojek menyampaikan bahwa perusahaannya fokus pada pengembangan ekosistem.

Vice President Corporate Communications Gojek Kristy Nelwan enggan berkomentar banyak perihal wacana unjuk rasa tersebut. Dia juga tidak mau menanggapi video yang memuat pernyataan Pendiri Big Blue Taxi Services Malaysia Shamsubahrin Ismail.

Padahal, Shamsubahrin menyebut Gojek hanya diperuntukkan bagi negara yang tingkat kemiskinannya tinggi seperti Indonesia. “Kami ingin fokus pada bagaimana supaya dampak (yang dibawa Gojek) bisa terus berjalan dan berkembang,” kata dia di Jakarta, Rabu (28/8).

Lagipula, Gojek sudah bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Tun Mahathir Mohamad. Dari pertemuan itu, Gojek sudah mendapat izin beroperasi di Malaysia. Walaupun hal itu kemudian menimbulkan pro dan kontra di negara tersebut.

"Kami pun mendapat dukungan untuk bisa mulai membawa layanan-layanan. Dengan demikian, kami juga mendapat pasar baru. Karena itu, menurut saya, lebih baik kami fokus ke situ saja (dampak Gojek bagi ekosistem)," katanya.

(Baca: Gojek ‘Dihina’ di Malaysia, 10 Ribu Ojek Online Demo Akhir Pekan Ini)

Adapun Shamsubahrin menyatakan bahwa dirinya tidak setuju Gojek hadir di Malaysia. "Gojek sebagai perusahaan transportasi tidak akan menjamin masa depan yang menjanjikan, anak muda Malaysia pantas mendapatkan yang lebih baik dari itu," katanya dikutip dari Free Malaysia Today, beberapa waktu lalu (21/8). 

Bahkan, menurutnya budaya Indonesia dan Malaysia berbeda. Di Indonesia, menurutnya perempuan dapat memeluk pengendara yang kebanyakan adalah laki-laki. “Gojek bisa diterapkan di Indonesia karena tingkat kemiskinannya sangat tinggi, tidak seperti di Malaysia,” kata Shamsubahrin.

Pernyataan itu membuat sebagian pengemudi ojek online di Indonesia geram. Karena itu, Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono mengatakan bahwa aka nada sekitar 10 ribu pengemudi yang berunjuk rasa di Kedubes Malaysia, akhir pekan ini.

(Baca: Masuk ke Malaysia Menuai Pro dan Kontra, Gojek Siapkan Strategi)

Pada dasarnya, Perdana Menteri Malaysia Tun Mahathir Mohamad dan Menteri Transportasi Anthony Loke Siew Fook sudah menanggapi pro dan kontra terkait kehadiran Gojek di negaranya. “Kalau merasa tidak aman, jangan naik. Masyarakat punya pilihan, kami tidak memaksa,” kata Mahathir dikutip dari Free Malaysia Today.

Ia mengatakan bahwa izin kepada Gojek adalah upaya pemerintah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada negara. Ia juga menilai bahwa pro-kontra seperti ini adalah hal biasa.

Sedangkan Anthony menyampaikan bahwa dirinya pernah menentang kehadiran Gojek karena khawatir pada faktor keselamatan. “Tidak perlu diingatkan, saya ingat apa yang saya katakan (terkait Gojek),” kata dia.

Dia menjelaskan bahwa izin yang diperoleh Gojek merupakan keputusan kabinet. "Jadi, semua kementerian harus menerimanya dan mencari cara untuk mewujudkannya, tanpa membahayakan keselamatan," katanya.

Ia yakin Gojek akan memastikan mitra pengemudinya untuk mengutamakan keselamatan saat beroperasi di Malaysia. Kementeriannya juga akan membuat kebijakan terkait berbagi tumpangan dengan kendaraan roda dua dalam kurun waktu sebulan.

(Baca: Heboh Gojek di Malaysia: Soal Syariat Islam, Pesaing Lokal, Gaya Duduk)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait