Saingi Gojek dan Grab, FastGo Asal Vietnam Masuk Indonesia Akhir 2019

Di Singapura, FastGo mengadopsi tarif tetap. Berbeda dengan tarif Gojek dan Grab yang bisa naik turun sesuai permintaan.
Desy Setyowati
16 Mei 2019, 16:25
Tampilan aplikasi FastGo di Google Play Store
Google Play Store
Tampilan aplikasi FastGo di Google Play Store

Perusahaan penyedia layanan berbagi tumpangan (ride-hailing) asal Vietnam FastGo resmi hadir di Singapura pada Maret 2019. Setelahnya, FastGo bakal masuk ke pasar Indonesia, Thailand, dan Filipina pada akhir tahun ini.

Berdasarkan laporan Kr-Asia, aplikasi FastGo sudah tersedia untuk diunduh di App Store dan Google Play Store di Singapura. Meski tidak menjelaskan soal tarif di Singapura, Pendiri sekaligus CEO FastGo Nguyen Huu Tuat menyampaikan bahwa layanannya akan lebih murah dibanding aplikator lain.

(Baca: Persaingan Ketat Gojek dan Grab Menjadi SuperApp)

Kr-Asia pun membandingkan harga FastGo dengan Grab dan Gojek di Singapura. FastGo mengenakan tarif US$ 19,7 untuk 21,5 kilometer perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Sedangkan tarif Gojek dan Grab masing-masing hanya US$ 13 dan US$ 13,2 untuk jarak yang sama.

Advertisement

Meski begitu, FastGo melalui pernyataan resminya pada Maret lalu menyampaikan, bahwa tarifnya bersifat tetap. Berbeda dengan Gojek dan Grab yang mengadopsi tarif dinamis, artinya, tarif itu bisa naik turun sesuai permintaan pada waktu tertentu.

Perusahaan ini didirikan pada 2018 lalu dan sudah memiliki sekitar 60 ribu mitra pengemudi di Vietnam. Di negara asalnya, FastGo juga meluncurkan layanan naik helikopter bernama FastSky. Layanan seperti ini sempat disediakan oleh Grab di Jakarta, Indonesia pada 2017.

(Baca: Tarif Ojek Online Naik, Pemain Baru Masih Sulit Saingi Gojek dan Grab)

Selain FastGo, ada beberapa aplikator lokal yang bersaing dengan Gojek dan Grab yakni Bonceng dan Anterin.id. Kedua aplikator lokal ini tidak menerapkan skema komisi 20% seperti Gojek maupun Grab.

Meski begitu, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal aplikator dengan pendanaan yang minim sulit bersaing dengan Gojek dan Grab. “Mereka butuh pendanaan yang besar. Lalu, apakah mereka bisa dapat keuntungan dari bisnis dengan skema itu,” ujar Fithra kepada Katadata.co.id awal Mei lalu.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDEA) Ignatius Untung. Menurutnya, kedua pemain lokal tersebut perlu pendanaan besar untuk bisa bersaing dengan Gojek dan Grab. “Tanpa pendanaan luar biasa, sepertinya akan berat bagi pemain baru masuk ke sektor yang sudah banyak pemainnya,” ujarnya.

(Baca: Bonceng, Pemain Baru Ojek Online Tawarkan Pembebasan Komisi Tarif)

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait