Operator Asal Norwegia, Telenor dan Axiata Berencana Merger

Jika merger jadi dilakukan, kedua perusahaan akan beroperasi di sembilan negara dan berpeluang menyasar hampir satu miliar konsumen.
Cindy Mutia Annur
7 Mei 2019, 12:27
Telenor, Axiata, Merger
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini (tengah) dan jajaran direksi (dari kiri-kanan) Direktur Abhijit Navalekar, Direktur Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur Yessie D. Yosetya dan Direktur Allan Bonke berfoto bersama usai RUPS Tahunan PT XL Axiata Tbk. di Jakarta, Senin (29/4/2019). Laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2018, XL Axiata mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 0,4 persen, lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu.

Perusahaan telekomunikasi asal Norwegia Telenor dan Axiata Group tengah melakukan pembicaraan untuk menggabungkan operasional keduanya di Asia. Keduanya menargetkan kesepakatan ini bisa selesai pada Kuartal III-2019.

CEO Axiata Group Jamaludin Ibrahim mengatakan, konsolidasi tersebut dapat memperkuat kinerja kedua perusahaan. “Intinya adalah kami perlu skala, sinergi, neraca, dan kemampuan yang kuat dari kedua perusahaan,” ujar dia dikutip dari Reuters, Senin (6/5).

(Baca: Persaingan Ketat, Operator Seluler Didorong Saling Konsolidasi)

Selama ini, Telenor menggarap pasar di Asia Selatan dan Axiata di Asia Tenggara. Dengan kerja sama ini, kabarnya Telenor menguasai 56,5% saham dan 43,5% sisanya dipegang oleh Axiata.

Advertisement

Jika merger ini jadi dilakukan, kedua perusahaan akan beroperasi di sembilan negara, termasuk Thailand, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, dan Indonesia. Perusahaan berpeluang melayani hampir satu miliar penduduk.

Jamaludin optimistis kerja sama ini akan meningkatkan laba dan pendapatan perusahaan. Meskipun, untuk menggarap pasar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mereka akan berhadapan dengan perusahaan operator besar seperti Singapore Telecommunications Ltd (Singtel).

(Baca: XL Axiata Tunggu Aturan Spektrum Frekuensi Sebelum Lakukan Konsolidasi)

Salah seorang narasumber Reuters menyampaikan, nilai penggabungan kedua operator tersebut mencapai US$ 40 miliar atau sekitar Rp 572 miliar (dengan kurs Rp 14.300 per dolar AS). Karena itu, kesepakatan ini disebut-sebut sebagai merger lintas batas terbesar di Asia, tidak termasuk Tiongkok dan Jepang.

President and CEO Telenor Group Sigve Brekke menambahkan, kolaborasi ini bisa menciptakan grup perusahaan telekomunikasi yang kuat di Asia. “Kami akan menggabungkan skala dan kompetensi kami,” ujar dia dikutip dari Telecomlead.

(Baca: Smartfren Membuka Diri Untuk Merger dengan Operator Lain)

Perusahaan patungan tersebut nantinya mengoperasikan sekitar 60 ribu menara seluler di Asia. Kantor pusat akan berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu, kedua perusahaan akan terdaftar di bursa efek internasional dan Malaysia.

Menurut beberapa analis, perusahaan patungan tersebut akan menjadi salah satu dari tiga operator teratas di sembilan pasar. Salah seorang analis di AmInvestment Bank Kuala Lumpur Alex Goh mengatakan, kesepakatan tersebut dapat mengurangi jumlah pesaing. "Kolaborasi ini memungkinkan entitas yang merger untuk melompat ke posisi teratas dalam hal pangsa pasar di negara cakupannya," ujarnya.

(Baca: Bisnis Telekomunikasi Diprediksi Minus, Operator Garap Layanan Digital)

Reporter: Cindy Mutia Annur
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait