Google Pastikan Konten di YouTube Masih Sesuai Standar Komunitas

"Kami mendorong pengguna membuat konten positif," kata Communications Manager Google Indonesia Feliciana Wienathan.
Michael Reily
30 April 2019, 20:32
Google, Konten yang Tergolong Sensasional, YouTube, konten positif
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Seorang pria membuka laman Google dari gawainya di Jakarta, Jumat (12/4/2019). Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Badan Usaha Tetap (BUT) untuk mengejar pemasukan pajak dari perusahaan asing yang berbasis di luar negeri namun bertransaksi dan memperoleh penghasilan di Indonesia termasuk perusahaan-perusahaan besar 'Over The Top' (OTT) atau daring seperti Google, Facebook, Youtube dan lain-lain.

Google menyadari ada banyak konten yang tergolong sensasional di YouTube, dalam rangka menggaet penonton. Namun, Google memastikan konten yang beredar di situs berbagi video itu masih sesuai dengan pedoman atau standar komunitas (community guideline).

Communications Manager Google Indonesia Feliciana Wienathan menjelaskan, pembuat konten dibatasi oleh pedoman komunitas. "Hak setiap pencipta konten untuk mempublikasikan karyanya. Kami sebisa mungkin memastikan mereka memerhatikan batasan," kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (30/4).

(Baca: Pemilik 1 Juta Subscriber di YouTube Tumbuh 5 Kali Lipat)

Atta Halilintar misalnya, membuat video tentang dirinya yang menyamar menjadi masyarakat miskin guna mengelabui seorang perempuan. Video berjudul Nyamar Jadi Orang Miskin!Cewek Matre Prank yang diunggah 9 Januari lalu ini sudah ditonton sekitar 23 juta kali.

Ada pula Ericko Lim, yang membuat video tentang dirinya yang memperdayai ibunya. Video dengan judul Prank Hamilin Anak Orang ke Nyokap, Minta Dinikahin pada Juni 2018 lalu ini, sudah ditonton sekitar 3,1 juta kali.

Seiring dengan sebaran konten seperti dua contoh tersebut, Feli menyampaikan bahwa perusahaan tidak bisa melarang pengguna mengunggah konten di platform streaming tersebut. YouTube hanya bisa memberikan imbauan agar pengguna mengunggah konten yang positif melalui program Creators for Change.

Feli memberi contoh tiga akun YouTube yang memberikan konten positif, yakni Gita Savitri, Duo Harbatah, dan Kok Bisa?. "Kami mendorong pengguna yang secara konsisten dan kerja keras membuat konten positif. Jangan lihat konten sensasional terus," ujar dia.

(Baca: Kominfo Basmi Pornografi dengan Sensor Internet Seharga Rp 200 miliar)

Selain itu, YouTube menyediakan fitur untuk anak-anak yakni YouTube Kids. Harapannya, fitur ini bisa membantu orang tua untuk menjaga anak-anaknya dari konten yang tidak sesuai dengan aturan keluarga. Orang tua bisa menyetujui konten yang bisa dilihat oleh anak.

Para orang tua juga bisa memblokir konten dan melihat riwayat tontonan anak di YouTube. Bahkan, para orang tua bisa membatasi durasi anak menonton di YouTube. "Itu salah satu usaha kami untuk memilah dan memilih konten yang terpapar kepada anak-anak," kata Feli.

Dalam laman resmi YouTube, setiap pembuat video diimbau untuk tidak menampilkan konten seksual, ujaran kebencian, kekerasan, ekstrimisme, deskripsi yang tidak sesuai isi, pelanggaran hak cipta, intimidasi, keamanan anak kecil, serta informasi pribadi.

(Baca: Penggunaan Data untuk Streaming dan Gim Diprediksi Naik Saat Ramadan)

Reporter: Michael Reily

Video Pilihan

Artikel Terkait