Transaksi Kirim Uang di Zendmoney Naik 10% Lebih Efek Corona

Kirim uang dari pekerja migran di luar negeri melonjak, karena lockdown dan pembatasan sosial efek pandemi corona. Transasi Zendmoney naik 10% lebih.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
16 April 2020, 13:55
Transaksi Kirim Uang di Zendmoney Naik 10% Lebih Efek Corona
Google Play Store
Ilustrasi, tampilan platform Zendmoney.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Transaksi remitansi di platform Zendmoney justru meningkat lebih dari 10% selama pandemi corona. Startup teknologi finansial (fintech) ini mencatat, ada banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mengirim uang ke keluarganya lewat layanan online karena karantina wilayah (lockdown) dan pembatasan sosial.

Perusahaan yang berdiri akhir tahun lalu itu mencatatkan rerata transaksi Rp 40 miliar per bulan. Nilainya meningkat saat virus corona mewabah. “Lebih dari dua digit," kata Founder sekaligus CEO Zendmoney Bong Defendy saat video conference, Kamis (16/4). 

Banyak pekerja migran Indonesia di luar negeri yang menggunakan layanan transfer uang antarnegara di platform-nya. Setidaknya, Zendmoney sudah menggaet 100 ribu lebih nasabah. Sebanyak 90% di antaranya merupakan pekerja migran. Sisanya pebisnis dan pelajar.

"Di tengah kondisi pandemi saat ini, kebutuhan akan layanan transfer dana yang cepat, terjangkau dan aman menjadi lebih krusial," kata Bong. (Baca: Tak Terpengaruh Pandemi Corona, Bisnis Kirim Uang Intrajasa Naik 50%)

Hanya, volatilitas nilai tukar berdampak terhadap layanan remitansi. Rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat tarif pengiriman menjadi lebih mahal.

Namun, Bong menegaskan bahwa perusahaannya mengenaikan biaya tetap (flat free). Selain itu, perusahaan menyediakan layanan jemput bola tanpa kontak dengan
menggunakan amplop plastik.

Zendmoney juga mengubah bukti penerimaan fisik menjadi e-receipt dan dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp. Verifikasi akun pun dilakukan melalui video call di WhatsApp.

Perusahaan mengandalkan aplikasi untuk pengguna, yang diluncurkan tahun lalu. Sebelumnya Zendmoney hanya beroperasi menggunakan aplikasi bagi kasir (teller).

Saat ini, Zendmoney sudah melayani pengguna di Tiongkok, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Startup fintech di bidang penyedia layanan remitansi ini berencana memperluas pasar, salah satunya ke Timur Tengah.

Sebab, mereka mencatat ada banyak pekerja migran Indonesia di Timur Tengah. (Baca: Fintech Transfez Klaim Menghemat Biaya Kirim Uang ke Luar Negeri 91%)

Selain Zendmoney, PT Intrajasa Teknosolusi mencatatkan peningkatan transaksi selama tiga bulan pertama tahun ini.  "Naik sekitar 50%," ujar CEO Intrajasa Milasari Anggraini beberapa waktu lalu (1/4). 

Secara umum, transaksi remitansi oleh lembaga non-bank memang cukup tinggi, terutama pengiriman uang dari luar negeri. Bahkan, peningkatannya mampu menutupi penurunan transfer dana ke luar negeri dan di dalam negeri. 

Data Bank Indonesia (BI) menunjukan, nominal transfer dana dari luar negeri menggunakan jasa remitansi mencapai Rp 5,6 triliun pada Februari. Nilai ini naik 7,82% dibanding Januari.

Sedangkan, transfer dana ke luar negeri menggunakan jasa remitansi pada Februari tercatat Rp 3,14 triliun. Nilainya turun 5,95% dibanding Januari. Untuk transfer dana dalam negeri nominalnya Rp 9,79 triliun, turun 0,49%.

Meski transfer dana ke luar negeri dan di dalam negeri menurun, total nominal transaksi mencapai Rp 18,54 triliun pada Februari. Nilainya  naik tipis 0,86% dibanding total nominal transfer dana Januari 2020.

(Baca: Gelombang Besar Transaksi Nontunai di Indonesia)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait