Menristek: Sektor Digital Bisa Minimalkan Efek Negatif Pandemi Corona

Menristek memprediksi adanya new normal efek pandemi corona. Layanan pertemuan hingga konsultasi dokter secara virtual bakal jadi tren.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
30 April 2020, 14:56
Menristek: Sektor Digital Bisa Minimalkan Efek Negatif Pandemi Corona
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyampaikan pidato saat akan meluncurkan penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pandemi corona memaksa banyak orang di dunia untuk berdiam diri di rumah guna menekan penyebaran Covid-19. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek) Bambang Brodjonegoro menilai, sektor digital dapat meminimalkan dampak negatif pandemi terhadap perekonomian.

Ia memperkirakan, bisnis berbasis tatap muka akan berkurang akibat pandemi virus corona. Fenomena ini disebut dengan less contact economy. Karena itu, inovasi di sektor digital semakin dibutuhkan.

"Kita harus siap dengan situasi new normal, interaksi  ekonomi ke depan kalau saya boleh rangkum itu less contact economy, bukan contact free,” kata Bambang saat memberikan sambutan dalam acara Digital Innovation Award 2020, dikutip dari siaran pers, Kamis (30/4).

(Baca: Saingi Gojek & Grab, Pesan Makanan Kini Bisa Lewat Shopee & Tokopedia)

Kendati pandemi corona berakhir setelah vaksinnya ditemukan, kebiasan dan perekonomian dunia diprediksi berubah. Utamanya, akan ditandai dengan berkurangnya pertemuan atau kerumunan orang.

Bambang melihat hal itu sebagai peluang bagi pelaku usaha di sektor digital. Mereka bisa masuk sebagai substitusi dari berkurangnya pertemuan langsung, rapat atau kegiatan lain.

Selain itu, solusi berbasis digital semakin dibutuhkan untuk layanan kesehatan. Konsultasi dengan dokter melalui aplikasi atau telemedicine diprediksi akan menjadi tren.

Apalagi, layanan kesehatan berbasis digital bisa menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia. “Telemedicine akan menjadi pola yang biasa ke depannya atau boleh saya sebut new normal,” ujar Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini.

(Baca: Tak Perlu ke RS, Cek & Konsultasi Gratis soal Corona Lewat 5 Aplikasi)

Benar saja, bisnis kuliner pun mulai berubah akibat pandemi corona. Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang memproduksi makanan beku atau kopi literan dan menjualnya di e-commerce.

Shopee bahkan merilis inisiatif Shopee Food, yang memudahkan konsumen menemukan produk makanan dan minuman siap saji. Tokopedia juga digandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Kementerian Perindustrian untuk menjual produk kopi.

Karena pandemi Covid-19, memesan makanan kini tak lagi hanya bisa melalui GoFood milik Gojek dan GrabFood kepunyaan Grab.

Kendati begitu, Gojek dan Grab sama-sama merilis fitur Siap Masak. Layanan anyar ini menjajakan produk makanan beku, yang siap antar dan bisa dimasak dengan cepat oleh konsumen di rumah.

(Baca: Efek Corona, Tren Belanja Produk di E-commerce Berubah saat Ramadan)

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait