Riset Facebook: Belanja Online Bahan Pokok Tetap Tren Saat Normal Baru

Facebook dan Bain & Company memperkirakan, berbelanja bahan pokok secara online tetap akan menjadi tren meski memasuki fase normal baru.
Image title
10 Juni 2020, 16:43
Riset Facebook: Belanja Online Bahan Pokok Tetap Tren Saat Normal Baru
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi, pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Riset Facebook dan Bain & Company menunjukkan, 44% konsumen di Asia Tenggara, yang merupakan pengguna internet, berbelanja bahan pokok secara online selama pandemi corona. Kedua perusahaan memperkirakan, kebiasaan ini masih akan menjadi tren meski memasuki normal baru (new normal).

Berbelanja bahan pokok melalui e-commerce atau media sosial meningkat drastis sejak April. Sekitar 80% dari konsumen pengguna internet itu berencana terus berbelanja bahan makanan secara online.

“Tren ini akan tetap ada,” demikian dikutip dari laporan bertajuk 'Southeast Asia Digital Consumer Trends That Shape the Next Normal', Rabu (10/6). (Baca: Bukalapak Gaet GrabKios Salurkan Produk Digital di 5 Juta Agen Warung)

Hal itu terjadi karena sebagian besar masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah guna menekan penyebaran virus corona. Selain itu, 77% konsumen tersebut lebih sering menyiapkan makanan di rumah, ketimbang membeli ataupun makan di restoran.

Lalu, 73% cenderung lebih sadar terhadap kesehatan di masa depan. “Tren ini masih akan berkembang, tetapi perusahaan harus mulai berpikir tentang implikasi jangka panjangnya,” tulis kedua perusahaan, dalam laporannya.

Riset tersebut berdasarkan data survei YouGov di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam pada April lalu. Penelitian ini mengamati para konsumen yang telah berbelanja secara online selama enam bulan terakhir, termasuk wawancara dengan para petinggi perusahaan dan modal ventura.

(Baca: Penjual di Blibli, Tokopedia dan Lazada Meningkat Efek Pandemi Corona)

Berdasarkan riset tersebut, berbelanja melalui media sosial meningkat 35% dibanding sebelum pandemi Covid-19. Lalu, melalui video streaming tumbuh 35%, aplikasi percakapan seperti WhatsApp 30%, e-commerce 23%, dan pesan-antar makanan seperti GoFood dan GrabFood naik 17%.

Bahkan, beberapa konsumen menjajal metode berbelanja online yang baru. Hal ini tecermin pada Databoks di bawah ini.

Bukan hanya bahan makanan. Facebook dan Bain & Company mencatat, permintaan produk pakaian, aksesoris dan perawatan diri tumbuh 25%-30% setiap tahun. “Ini menunjukkan salah satu peluang terbesar yang belum dimanfaatkan,” demikian dikutip.

(Baca: Cara Tokopedia, Lazada, Bhinneka dan Bukalapak Cegah Kebocoran Data)

Seiring dengan meningkatnya permintaan, pengembang platform e-commerce harus  memastikan ketersediaan produk dan layanan distribusi. “Normal baru menimbulkan tantangan baru, tetapi juga memberikan peluang kepada perusahaan untuk mendefinisikan kembali seperti apa kebutuhan ke depan,” demikian dikutip.

Facebook dan Bain & Company menilai, tatanan kebiasaan baru merupakan awal dari perjalanan bisnis untuk membentuk kemitraan baru, meningkatkan ketahanan, dan mengadopsi layanan berbasis digital. Apalagi, metode pembayaran digital semakin diminati.

Sebelum ada pandemi, Google, Temasek and Bain & Company memprediksi bahwa ekonomi internet di regional tumbuh menjadi US$ 300 miliar atau sekitar Rp  4,2 triliun pada 2025. Sektor yang menopang yakni e-commerce, berbagi tumpangan (ride-hailing), dan pembayaran digital.

(Baca: Saingi Gojek & Grab, Pesan Makanan Kini Bisa Lewat Shopee & Tokopedia)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait