Kominfo Pastikan Data Penanganan Covid-19 dan Pasien Aman

Kominfo menegaskan, data yang dikelola pemerintah terkait corona, termasuk pasiennya, aman. Namun, akan tetap dievaluasi lagi guna mencegah kebocoran data.
Image title
22 Juni 2020, 16:41
Kominfo Pastikan Data Penanganan Covid-19 dan Pasien Aman
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate (kiri) bersama Sekjen Kominfo Rosarita Niken Widiastuti (kanan) mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Sebanyak 230 ribu data pasien terinfeksi Covid-19 di Indonesia dikabarkan bocor dan dijual di situs para peretas (hacker) atau dark web. Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membantah kabar ini.

Menteri Kominfo Johnny G Plate juga menegaskan bahwa data yang dikelola oleh pemerintah terkait penanganan virus corona, aman. “Saya konfirmasi dari sisi pusat data, komputasi awan (cloud computing), dan interpropabilitas yang ada di Kominfo aman,” ujar dia saat rapat kerja antara Kementerian Kominfo dengan Komisi I DPR, Senin (22/6).

Hal itu diketahui setelah Kominfo berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sebab, BSSN mempunyai wewenang terkait keamanan data. Secara khusus, BSSN juga membersihkan data terkait pandemi corona, sebelum masuk ke dashboard Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Berdasarkan audit forensik, tidak ditemukan kebocoran data. Meski begitu, hasil audit ini harus dievaluasi lagi guna memastikan ada tidaknya potensi kebocoran data ke depan. "Tingkatkan teknologi keamanannya dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)," kata dia.

Advertisement

(Baca: BSSN Bantah Adanya Dugaan Pembobolan Data Penanganan Covid-19)

Selain itu, ia memastikan bahwa data pengguna di aplikasi garapan Kominfo yakni PeduliLindungi aman. Kementerian bahkan mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor 159/2020 yang menyebutkan bahwa data pribadi pengguna aplikasi PeduliLindungi akan dilindungi.

Sedangkan, pemanfaatan aplikasinya hanya selama pandemi saja. Setelah tidak ada lagi pandemi, aplikasi tak bisa digunakan. 

Sebelumnya, BSSN juga membantah adanya dugaan kebocoran data terkait penanganan virus corona. "Tidak ada akses tidak sah yang berakibat kebocoran data pada sistem elektronik, dan aset informasi aktif penanganan pandemi Covid-19," kata juru bicara BSSN Anton Setiyawan dalam keterangan tertulis, kemarin (21/6).

Anton mengatakan, BSSN telah dan akan terus mengambil langkah-langkah pengamanan sistem elektronik terkait penanganan corona. Selain itu, pihaknya bakal meningkatkan kolaborasi aktif dengan semua unsur dari pemerintah pusat hingga daerah dalam pengamanan data. 

(Baca: E-Commerce Indonesia Jadi Incaran, Peretasan Naik 6.000% saat Pandemi)

BSSN juga mengajak semua unsur yang terlibat dalam penanganan pandemi corona untuk menerapkan standar manajemen pengamanan informasi, dan membangun budaya keamanan siber. Ia berharap tak ada pihak yang memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Kabar bahwa 230 ribu data pasien terinfeksi Covid-19 bocor pertama kali diungkap dari forum dark web RapidForums. Akun bernama Database Shopping menawarkan sejumlah data pasien corona, mulai dari nama, status kewarganegaraan, tanggal lahir, umur, nomor telepon, alamat rumah, dan Nomor Induk Kependudukan. 

Selain itu, terdapat data alamat hasil tes corona, gejala, tanggal mulai sakit, dan tanggal pemeriksaan. Meski baru menawarkan penjualan pada Kamis (18/6), akun Database Shopping mengklaim data terhimpun sejak 20 Mei.

(Baca: Pakar IT Ungkap 6 Sebab Penonton Video Pornografi Diincar Hacker)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait