Tiga Tips agar UMKM Lebih Mudah Dapat Pinjaman Saat Pandemi

Sebagian besar UMKM mengajukan pinjaman ke perbankan agar bertahan di tengah pandemi. Setidaknya ada tiga tips agar UMKM lebih mudah mendapat kredit.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
7 Juli 2020, 15:06
Tiga Tips agar UMKM Lebih Mudah Dapat Pinjaman Saat Pandemi
ANTARA FOTO/FB Anggoro/foc.
Ilustrasi, seorang pedagang mengemas kerupuk kulit dagangannya di mobil sekaligus kios berjalan di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (30/6/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Permodalan menjadi salah satu kendala bagi para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bertahan di tengah pandemi corona. Apalagi, perbankan dan perusahaan teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) berhati-hati dalam memberikan pinjaman. Namun, ada tiga tips agar pelaku usaha lebih mudah mendapatkan kredit.

Pertama, berjualan secara online dan offline (O2O). UMKM bisa menggabungkan data-data penjualan secara offline dan online.

"Basis-basis data itu yang menentukan profil risiko dari UMKM," ujar Co-Founder dan CEO Investree Adrian Gunadi kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu (2/7). (Baca: Dua Kelebihan UMKM yang Berjualan Online Lebih Mudah Dapat Pinjaman)

Perusahaan memang memperhatikan ada tidaknya penurunan penjualan selama pandemi virus corona. Meski begitu, data-data itu setidaknya bisa meyakinkan perbankan maupun fintech terkait besaran pinjaman yang akan diberikan.

UMKM yang berjualan online juga memudahkan perusahaan fintech lending menagih angsuran. Sebab, platform e-commerce yang diajak kerja sama akan memotong otomatis saldo penjual untuk mencicil utang.

"Hal itu kami lakukan dalam rangka mengontrol atau memitigasi risiko (gagal bayar)," ujar Adrian. (Baca: Survei KIC: Mayoritas UMKM Terpukul Corona, Ada Dua Strategi Bertahan)

Hal senada disampaikan oleh Co-Founder sekaligus CEO Modalku Reynold Wijaya. Fintech lending ini memberikan pinjaman kepada UMKM yang usahanya sudah berjalan selama enam bulan hingga setahun.

"Kami melakukan assessment secara menyeluruh berdasarkan riwayat transaksi usaha untuk menentukan apakah arus kasnya sehat atau tidak," ujar Reynold. Hal ini dilakukan karena perusahaan bertanggung jawab kepada pemberi pinjaman (lender).

Kedua, menjaga reputasi toko online di platform e-commerce. “Dari sini, mereka kemudian mendapatkan pinjaman lebih mudah dan cepat," ujar Associate Director Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana.

Ketiga, UMKM yang bergerak di sektor kuliner bisa bergabung dengan penyedia pesan-antar makanan seperti Gojek dan Grab. Sebab, pelaku usaha akan memiliki jejak digital (digital footprint) yang dapat memudahkan perusahaan pembiayaan membaca karakteristik usaha calon peminjam.

(Baca: Fintech Besar Catat Penyaluran Pinjaman Masih Tumbuh di Tengah Pandemi)

Selain itu, perusahaan penyedia platform biasanya bekerja sama dengan fintech lending maupun perbankan. “Para penyedia jasa keuangan lebih memercayai mereka,” kata Ekonom Tenggara Strategics Stella Kusumawardhani saat konferensi pers secara virtual, akhir Juni lalu (25/6).

Katadata Insight Center (KIC) pun melakukan survei terhadap 206 responden UMKM di lima kategori usaha. Mereka berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagian besar UMKM ini memiliki skala usaha mikro dengan omzet di bawah Rp 300 juta per tahun.

Hasilnya, 82,9% UMKM terpukul pandemi Covid-19. Hanya, 5,9% yang penjualannya positif selama krisis kesehatan saat ini.

Sebanyak 63,9% dari UMKM yang terpukul corona, omzetnya turun lebih dari 30%. Hanya 3,8% yang omzetnya meningkat.

Sebanyak 85,4% di antaranya mengajukan kredit ke perbankan agar bisa bertahan di tengah pandemi corona. Sebagian dari mereka juga berjualan secara online untuk menggaet lebih banyak pelanggan.

Kendati begitu, ada tiga hal yang harus diperhatikan UMKM sebelum mengajukan pinjaman ke fintech lending. Pertama, meminjam dari perusahaan yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Daftarnya bisa dilihat melalui situs resmi OJK.

(Baca: Menteri Koperasi Minta UMKM Segera Bermigrasi ke Layanan Digital)

Kedua, pelajari jenis produk pinjaman yang dibutuhkan. Terakhir, pelaku usaha membandingkan besaran bunga dan biaya di masing-masing platform dan mengukur kemampuan membayar cicilan.

Hingga April lalu, perusahaan fintech lending sudah menyalurkan pinjaman Rp 106,06 triliun. Nilainya naik 186,54% secara year-on-year (yoy).

Jumlah peminjam naik 218,75% yoy menjadi 24.770.305. Sedangkan jumlah pemberi pinjaman meningkat 41,99% menjadi 647.993.

(Baca: Fintech Besar Catat Penyaluran Pinjaman Masih Tumbuh di Tengah Pandemi)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait