Pemerintah Targetkan 10 Juta Lebih UMKM Jualan Online Akhir Tahun Ini

Pemerintah menargetkan 2 juta UMKM berjualan online selama tahun ini. Kemenko Marves optimistis jumlahnya mencapai 10 juta lebih pada akhir 2020.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
10 Juli 2020, 17:11
Pemerintah Optimistis 10 Juta Lebih UMKM Jualan Online pada Akhir 2020
ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr/foc.
Ilustrasi, pekerja menyelesaikan produksi miniatur dari bambu di Desa Cimangenteung, Lebak, Banten, Rabu (8/7/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pemerintah menargetkan 10 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berjualan online hingga akhir tahun ini. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) optimistis jumlahnya melampaui target tersebut.

Sebab, sekitar 789 ribu UMKM bergabung ke ekosistem digital sejak awal tahun hingga Mei. Sedangkan pada tahun lalu, pelaku usaha kecil-menengah yang berjualan online sekitar delapan juta.

Maka, total ada sekitar 8,8 juta UMKM yang merambah saluran penjualan secara online per Mei. “Kalau melihat trennya, mungkin bisa melampaui itu (target),” kata Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves Odo RM Manuhutu saat konferensi pers secara virtual, Jumat (10/7).

(Baca: Menkop Teten Sebut 50% UMKM Terganggu Usahanya karena Corona)

Meski begitu, pelaku usaha yang berjualan online hanya sekitar 14,3% dibandingkan total UMKM di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 28,2% di antaranya berdomisili di DKI Jakarta, 23,9% Jawa Tengah, 14,1% Jawa Barat, dan 10,2% Jawa Timur.

Odo berharap, ada lebih banyak UMKM di luar Pulau Jawa yang bergabung ke ekosistem digital, utamanya saat pandemi corona. Apalagi, 44% penduduk Indonesia berada di luar Pulau Jawa.

"Kami harap, para perusahaan platform digital membantu pemerintah untuk meningkatkan UMKM digital, terutama di luar Pulau Jawa. Kami harus rangkul semua UMKM yang ada di negara ini," ujar Odo.

(Baca: BI Catat 3,82 Juta Mitra Fintech Pembayaran Adopsi QRIS, Trennya Naik)

Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC), 82,9% UMKM terpukul pandemi Covid-19. Hanya, 5,9% yang penjualannya positif selama krisis kesehatan saat ini.

Survei tersebut dilakukan terhadap 206 responden UMKM di lima kategori usaha. Mereka berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagian besar UMKM ini memiliki skala usaha mikro dengan omzet di bawah Rp 300 juta per tahun.

Berdasarkan survei tersebut, 80,6% berjualan online dan merasa terbantu dengan penggunaan internet untuk berusaha. Sayangnya, UMKM seringkali mengalami kendala saat menjalankan usaha menggunakan teknologi digital.

(Baca: Survei: 54% UMKM Pakai Media Sosial untuk Pacu Penjualan saat Pandemi)

Tantangan itu di antaranya belum mampu menggunakan internet (34%) dan kurangnya pengetahuan menjalankan usaha online (23,8%). Lalu, pegawai tak siap (19,9%), infrastruktur tidak layak (18,4%), dana kurang memadai (9,7%), dan banyaknya pesaing (3,4%).

Indeks Kesiapan Digital UMKM di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pun pada tahap menengah. Indikatornya yakni optimisme, kompetensi, keamanan, dan kenyamanan.

Hasilnya, rerata Indeks Kesiapan Digital UMKM hanya 3,6. “Generasi yang semakin tua memiliki indeks kesiapan digital yang lebih rendah dibandingkan yang muda,” demikian dikutip dari survei KIC yang dirilis akhir Juni lalu (26/6).

(Baca: Survei KIC: Mayoritas UMKM Terpukul Corona, Ada Dua Strategi Bertahan)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait