Penonton Drama Korea di YouTube Melonjak saat Pandemi Corona

Pencarian dengan kata kunci drama Korea Selatan meningkat 130% selama pandemi corona. Video pendidikan, memasak hingga gim juga diminati di YouTube.
Image title
15 September 2020, 18:44
Penonton Drama Korea di YouTube Melonjak saat Pandemi Corona
KATADATA/Arief Kamaludin
Ilustrasi, suasana jumpa pers YouTube Fanfest 2016 di Jakarta, Jumat, (21/10/2016).

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google Indonesia mencatat penonton serial drama Korea Selatan di YouTube meningkat selama pandemi corona. Penelusuran menggunakan kata kunci ‘drama korea, ‘korea drama’, dan ‘drakor’ pun melonjak 130% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni lalu.

Head of Large Customer Marketing Google Indonesia Muriel Makarim menilai, peningkatan itu karena banyak pengguna yang beraktivitas di rumah selama pandemi Covid-19. Mereka mencari hiburan melalui YouTube.

Selain drama Korea, penonton konten pendidikan melonjak. “Bisa sampai 80%,” kata Muriel saat konferensi pers virtual, Senin (15/9).

Pencarian video memasak dengan kata kunci seperti 'cookies' dan 'kue' juga meningkat dua kali lipat selama pandemi virus corona.

Lalu penelusuran konten gim meningkat lebih dari 50%. Sedangkan waktu menonton video terkait otomotif melonjak dua kali lipat.

Google Indonesia mencatat, 91% orang Indonesia yang mengakses internet menggunakan YouTube. Setidaknya ada 93 juta penonton YouTube di Tanah Air.

Selain itu, jumlah pembuat konten (content creator), penonton, dan pemirsa yang mendaftar atau subscriber pun meningkat.

Pada tahun lalu, hanya dua kreator yakni Atta Halilintar dan Ria Ricis yang mendapatkan diamond button karena subscriber-nya melampaui 10 juta. “Tahun ini penerimanya naik 10 kali lipat," kata Muriel.

Peningkatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh para pengiklan guna meningkatkan ketertarikan calon konsumen terhadap merek (brand). Caranya, menyesuaikan konten dengan segmen yang diincar.

Selain itu, mengeksplorasi berbagai format konten. Lalu para pengiklan perlu terus berinteraksi dengan konsumen.

Marketing Director Frisian Flag Indonesia Felicia Julian mengatakan, perusahaan sudah menyesuaikan konten iklan di YouTube dengan perubahan perilaku konsumen. Korporasi ini membuat 17 video mengenai resep memasak menggunakan produk Frisian Flag.

Video berdurasi semenit itu dapat menjangkau pengguna yang mencari konten ‘kue’ dan 6 ribu kata kunci sejenis lainnya. "Konsumen ibu-ibu dan anak-anak lebih banyak di rumah, sehingga lebih banyak waktu untuk memasak," kata Felicia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), belanja bahan makanan memang meningkat 51% selama pandemi Covid-19, sebagaimana terlihat pada Databoks di bawah ini:

Selain itu, aktivitas belanja secara online meningkat. Hampir setengah dari responden BPS yang berbelanja online membeli kebutuhan pokok. 

Sedangkan Chief Sales and Marketing Officer Enesis Group Ryan Tirta mengatakan, perusahaan memanfaatkan YouTube untuk menjangkau konsumen generasi baru. "Kami perlu menyasar konsumen baru, maka coba masuk ke (platform) digital," ujarnya.

Perusahaan juga menganalisis tren iklan agar sesuai dengan karakteristik konsumen yang diincar. Enesis pun berfokus menyampaikan pesan bahwa produknya dapat membantu pelanggan menjaga daya tahan tubuh melalui iklan di YouTube saat masa pagebluk ini.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait