Sederet Cara Tiongkok Balas Donald Trump, Mulai Incar Apple dan Google

Presiden AS Trump sepakat menunda pemblokiran TikTok hingga 27 September. Namun Tiongkok tetap berencana meluncurkan langkah balasan, salah satunya mengincar Google dan Apple.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
21 September 2020, 10:08
Sederet Cara Tiongkok Balas Donald Trump, Mulai Incar Apple dan Google
ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque/File Foto
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional AS John Bolton dan Presiden China Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam setelah ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina.

Perusahaan teknologi Tiongkok seperti TikTok, WeChat, Huawei hingga ZTE tertekan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Tiongkok pun menyiapkan sederet langkah balasan, salah satunya berencana memasukkan Google dan Apple ke dalam daftar ‘entitas yang tidak dapat diandalkan’.

Beijing menyatakan, ada beberapa perusahaan asal AS yang akan masuk daftar ‘entitas yang tidak dapat diandalkan’ atau dianggap membahayakan keamanan negara. Tiongkok memperkenalkan regulasi ini pada Mei lalu.

Entitas yang masuk dalam daftar akan dilarang berinvestasi atau berdagang dengan pasar Tiongkok, baik impor maupun ekspor. Beijing belum mengumumkan nama-nama perusahaan yang masuk daftar itu.

Namun media pemerintah melaporkan bahwa Apple dan Google terancam masuk daftar ‘entitas yang tidak dapat diandalkan’. "Selalu ada risiko balas dendam, menempatkan perusahaan AS terkenal seperti Apple di garis bidik," kata Wakil Presiden IDC Bryan Ma, dikutip dari Washington Post, kemarin (20/9).

Rencana memasukkan beberapa perusahaan AS ke dalam daftar itu diteruskan, meski Trump menunda pelarangan aplikasi besutan ByteDance, TikTok dari 20 September menjadi 27 September.

Pemerintah Tiongkok juga telah menginvestigasi dan memberlakukan pembatasan pada perusahaan AS seperti Qualcomm, Cisco hingga Apple. Pemerintah juga menangguhkan pembelian pesawat dari Boeing. 

Namun peneliti sekaligus penasihat Kementerian Perdagangan Tiongkok, Mei Xinyu mengatakan, langkah itu bukan untuk menakuti perusahaan asing di Tiongkok. "Kami sangat mengutamakan langkah dalam menjaga dan mempromosikan produksi dan perdagangan dalam negeri yang normal," kata dia.

Oleh karena itu, ia memperkirakan bahwa Google akan lebih dulu terkena sanksi ketimbang Apple.

Sebab, Google memiliki tekanan pasar yang lebih kecil di Negeri Panda. Jika layanan Google diblokir, menurutnya dampaknya tidak signifikan.

Sedangkan konsumen Tiongkok menyumbang US$ 44 miliar terhadap penjualan produk Apple tahun lalu. Nilainya kurang dari seperlima pendapatan perusahaan di seluruh dunia.

Analis Bloomberg Intelligence Anand Srinivasan mengatakan, Tiongkok menyumbang 20% dari penjualan iPhone. Penjualan pada kuartal II pun melonjak 225% secara kuartalan. 

"Lingkungan bisnis yang membaik di Tiongkok membantu Apple mencapai pertumbuhan di negara itu," kata Wakil Presiden Riset Gartner Gartner Annette Zimmermann dikutip dari CNBC Internasional, bulan lalu (26/8). 

Selain aturan daftar ‘entitas tak diandalkan’, Tiongkok menetapkan aturan ekspor terkait teknologi baru pada bulan lalu. Perusahaan yang hendak menjual saham ke korporasi asing memerlukan lisensi dari perusahaan induk.

Aturan itu berfokus pada teknologi yang dianggap sensitif oleh pemerintah Tiongkok, seperti analisis teks, pengenalan suara, dan saran konten tanpa lisensi dari pemerintah setempat. Teknologi-teknologi ini akan dibatasi ekspornya.

Peraturan itu dinilai berdampak pada penjualan operasional TikTok kepada perusahaan AS. Sebab, TikTok memiliki teknologi untuk memahami minat pengguna untuk personalisasi platform.

Dikutip dari Wall Street Journal, Tiongkok juga dikabarkan akan meluncurkan inisiatif standar global pada keamanan data sendiri untuk melawan tekanan AS. Tiongkok akan membujuk negara-negara yang berpikiran sama untuk mengembangkan inisiatif keamanan data baru.

Di tengah rencana itu, Trump menyetujui upaya Oracle dan Walmart mengambil bagian dari putaran pendanaan pra-IPO TikTok Global. Keduanya bisa mendapatkan hingga 20% saham kumulatif di perusahaan.

Sedangkan sisanya 80% akan dipegang oleh ByteDance. Namun, belum ada kepastian apakah saham Bytedance akan didistribusikan ke investor ketika TikTok Global didirikan. Investor AS saat ini memiliki sekitar 40% dari ByteDance.

Meski begitu, Trump mengatakan kesepakatan itu akan memastikan data milik sekitar 100 juta warga AS pengguna TikTok aman. "Keamanannya akan 100%," kata Trump dikutip dari BBC Internasional.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait