Kredit Macet Fintech Bengkak Jadi 8,88% Terdampak Pandemi Covid-19

Kredit macet fintech lending melonjak lagi menjadi 8,88% per Agustus 2020. Namun penyaluran pinjamannya terus meningkat.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
7 Oktober 2020, 19:12
Kredit Macet Fintech Lending Naik Lagi Menjadi 8,88% per Agustus
Katadata

Kredit macet pengembalian pinjaman di atas 90 hari (TWP 90) layanan teknologi finansial pembiayaan atau fintech lending naik lagi menjadi 8,88% per Agustus. Peningkatan tingkat wanprestasi ini terjadi karena profil risiko peminjam berubah akibat pandemi corona.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, perekonomian melambat sejak Maret karena adanya pandemi Covid-19. Hal ini berdampak terhadap bisnis pelaku usaha.

“Ada perlambatan usaha lintas sektoral. Ada perubahan profil risiko pengguna,” kata Kuseryansyah dalam Webinar Peran Literasi Keuangan Digital Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (7/10).

Tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman di bawah 90 hari (TKB 90) terus menurun sejak awal tahun ini. Per Agustus, besarannya 91,12%, sehingga TWP-nya mencapai 8,88%.

Penurunan TKB 90 menunjukkan bahwa keterlambatan peminjam membayar cicilan atau TWP meningkat, sebagaimana terlihat pada Databoks di bawah ini:

Juru bicara OJK Sekar Putih Djarot mengatakan, otoritas telah membina penyelenggara yang TWP-nya tinggi. Regulator meminta mereka membuat rencana aksi (action plan) dan mengevaluasi skemanya.

Selain itu, "mengingatkan mereka untuk meningkatkan manajemen risiko dan memanfaatkan penilaian kredit (credit scoring)," kata Sekar kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1)

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta sempat mengatakan, sudah memanggil beberapa penyelenggara fintech lending yang TWP-nya di atas 8%. “Kami lakukan pembinaan terkait tindak lanjutnya,” kata dia saat mengikuti acara pemilihan ketua AFPI yang baru, pekan lalu (30/9).

Saat itu, ia menjelaskan bahwa kredit macet melonjak karena penyaluran pinjaman yang masih berjalan atau oustanding menurun. Secara berurutan sejak Maret hingga Juli, nilainya yakni Rp 14,79 triliun, Rp 13,75 triliun, Rp 12,86 triliun, Rp 11,77 triliun, dan Rp 11,94 triliun.

Outstanding pada Agustus meningkat menjadi Rp 12,13 triliun. Akan tetapi, kredit macet tetap melonjak.

Ketua Umum AFPI terpilih Adrian Gunadi berencana membentuk gugus tugas peningkatan kualitas aset. “Ini menjadi misi pertama kepengurusan baru,” kata dia, pekan lalu (30/9). “Tujuannya, memperbaiki TWP 90. Rasio kredit macet ditangani dengan sistematis.”

Ia juga mendorong agar penyelenggara fintech lending berfokus menyasar sektor yang mampu bertahan di masa pandemi corona. Caranya dengan mengandalkan teknologi dalam mengukur risiko kredit.

“Hindari sektor yang berisiko. Verifikasi validasi harus terkoreksi. Ini tugas asosiasi,” ujar Adrian.

Meski begitu, nilai penyaluran pinjaman melalui penyelenggara fintech lending terus meningkat. Per Agustus, nilainya tumbuh 122,74% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 121,87 triliun.

Sedangkan nilai penyaluran kredit sejak awal tahun dapat dilihat pada Databoks berikut:

Jumlah peminjam juga meningkat 113,37% yoy menjadi 27,37 juta. Sedangkan jumlah rekening pemberi pinjaman (lender) naik 26,24% yoy menjadi 669.580.

Beberapa penyelenggara fintech lending mencatatkan peningkatan distribusi kredit. Akseleran misalnya, penyaluran pinjamannya tumbuh 42% yoy per kuartal III.

Co-Founder sekaligus CEO Akseleran Ivan Tambunan mengatakan, telah menyalurkan pinjaman Rp 255 miliar kepada 200 lebih UMKM selama Juli-September. Untuk pembiayaan usaha rerata Rp 85 miliar per bulan.

Bahkan, distribusi pinjaman pada September mencapai Rp 105 miliar atau yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan menargetkan bisa menyalurkan kredit Rp 1 triliun tahun ini.

"Kami menekan angka kredit bermasalah di bawah 0,3% dari total penyaluran pinjaman usaha," kata Ivan dikutip dari siaran pers, Senin lalu (5/10).

General Manager Kredivo Indonesia Lily Suriani juga mencatatkan permintaan kredit. "Transaksi naik 30% per kuartalan pada kuartal II," katanya saat mengikuti Webinar Peran Literasi Keuangan Digital Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (7/10).

Perusahaan telah menyalurkan pinjaman kepada sekitar 30 juta debitur sejak berdiri pada akhir Desember 2015. Kredivo menargetkan bisa menyalurkan pinjaman Rp 4 triliun tahun ini.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan, Desy Setyowati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait