TikTok, Google, Facebook Rambah Belanja Online, E-Commerce Tersingkir?

Google, Facebook danTikTok mengembangkan fitur belanja online. Ketiga raksasa teknologi ini akan menjadi pesaing berat e-commerce di Indonesia?
Desy Setyowati
13 Oktober 2020, 16:00
TikTok, Google, Facebook Rambah Belanja Online, E-Commerce Tersaingi?
123RF.com/macrovector
Ilustrasi media sosial. Google, Facebook dan Tiktok akan menyediakan fitur belanja online.

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google dan Tiongkok, TikTok mulai mengembangkan fitur belanja online, seperti yang disediakan e-commerce. Facebook bahkan berencana menyediakan layanan pembayaran, sehingga transaksi dilakukan tanpa keluar platform.

Google memiliki platform khusus untuk berbelanja yakni Merchant Center. Perusahaan pun menguji coba untuk mengintegrasikan layanan ini dengan tautan pada video di  YouTube, mulai akhir pekan lalu (10/10).

TikTok juga menyematkan tautan pada bagian profil untuk menghubungkan calon konsumen dengan toko online milik pengguna, pada November tahun lalu. Sedangkan Facebook sudah membangun layanan belanja online di platform-nya, termasuk Instagram dan WhatsApp sejak 2016.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, ketiga raksasa teknologi global itu menggaet pasar yang berbeda dengan penyedia layanan perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE). Masuknya Google, TikTok, dan Facebook justru akan mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk merambah ekosistem digital.

Selanjutnya, pelaku UMKM juga akan memanfaatkan layanan e-commerce. “Tiap kanal tentu memiliki segmen masing-masing, sehingga pada akhirnya konsumen yang akan menentukan mana yang disukai,” kata dia kepada Katadata.co.id, kemarin (12/10).

Apalagi pasar e-commerce Indonesia sangat besar. McKinsey pada 2018 memperkirakan nilainya US$ 40 miliar atau sekitar Rp 589,44 triliun pada 2022. Ini disumbang dari pertumbuhan masyarakat kelas menengah, akses internet, dan kepemilikan ponsel pintar (smartphone).

Riset Google, Temasek dan Bain & Company yang bertajuk e-Conomy SEA 2019 pun memperkirakan, pangsa pasar (gross merchandise value/GMV) e-commerce di Indonesia mencapai US$ 20,9 miliar pada 2019. Angkanya tertera pada Databoks di bawah ini:

CEO Mandiri Capital Eddi Danusaputro sepakat bahwa pasar e-commerce, khususnya di Indonesia sangat luas. Ini tidak mungkin dikuasai oleh satu atau beberapa platform.

Oleh karena itu, menurutnya hal yang wajar jika raksasa teknologi merambah layanan belanja online. “Semuanya menguntungkan pengguna, sehingga mempunyai lebih banyak pilihan,” kata Eddi kepada Katadata.co.id.

Nilai pasar e-commerce Indonesia pun kemungkinan melebihi prediksi McKinsey dan Google, karena masyarakat mulai berbelanja online saat pandemi corona, sebagaimana Databoks di bawah ini:

Facebook dan Bain and Company pun memperkirakan hampir 70% konsumen di Asia Tenggara beralih ke digital, sehingga totalnya menjadi 310 juta tahun ini. Jumlah ini awalnya diprediksi baru akan tercapai pada 2025.

Sedangkan di Indonesia jumlahnya diperkirakan meningkat dari 119 juta tahun lalu menjadi 137 juta pada 2020. Persentasenya pun melonjak dari 58% menjadi 68% terhadap total populasi.

Nilai transaksi bruto atau GMV platform online di Indonesia pun diramal US$ 26 miliar atau sekitar Rp 378,3 triliun tahun ini. Nilainya diprediksi menjadi US$ 72 miliar atau Rp 1.047,6 triliun pada 2025, yang awalnya diramal hanya US$ 48 miliar.

Hal itu mendorong penggunaan layanan e-commerce, sebagaimana terlihat pada Databoks berikut:

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menilai bahwa masuknya Google, TikTok, dan Facebook ke bisnis belanja online akan menambah pilihan konsumen. Untuk itu, perusahaan berfokus menjadi platform inovatif dengan menghadirkan layanan atas berbagai kebutuhan masyarakat.

Selain itu, berfokus mendukung UMKM bertransformasi digital. “Kami juga selalu membuka kemungkinan kolaborasi dengan berbagai pihak dari berbagai industri, baik swasta maupun pemerintah, demi mewujudkan misi ‘Fair Economy for All’,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (13/10).

Bukalapak memang meluncurkan banyak layanan vertikal sejak awal tahun ini. Produk itu di antaranya agregator logistik, pencarian hunian, konsultasi hukum, teknologi finansial (fintech) hingga Agen Penjual Reksa Dana (APERD). Konsep ini mirip aplikasi super (superapp) yang ditekuni oleh Gojek dan Grab.

Sedangkan External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya enggan berkomentar mengenai masuknya ketiga raksasa teknologi itu ke bisnis belanja online. “Kami selalu percaya bahwa kompetisi akan melahirkan inovasi terbaik yang mempermudah kehidupan masyarakat,” katanya kepada Katadata.co.id.

Perusahaan berfokus menggaet para pengusaha lokal, khususnya UMKM. Caranya dengan menggaet mitra strategis seperti pemerintah, pegiat usaha lintas-sektor, dan lainnya. “Juga menghadirkan berbagai inovasi digital untuk memberikan kemudahan bagi para penjual dalam mengembangkan bisnisnya, bahkan saat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Saat ini, Tokopedia menggandeng lebih dari 9,2 juta penjual, yang hampir seluruhnya UMKM. Sebanyak 94% di antaranya nya berskala ultramikro. “Berkat mereka, kami menyumbang lebih dari 1% ke perekonomian Indonesia,” ujar dia.

Kendati begitu, media sosial masih menjadi pilihan pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Ini tecermin pada hasil survei Katadata Insight Center (KIC) berikut:

Riset itu juga sejalan dengan survei SEA Insights yang menunjukkan bahwa 54% responden, yang merupakan UMKM, semakin sering menggunakan media sosial saat pandemi virus corona. Angkanya terlihat pada Databoks di bawah ini:

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda memperkirakan, perkembangan belanja online mengarah kepada social commerce atau bertransaksi di media sosial. Apalagi, beberapa platform seperti Facebook, Instagram, dan Instagram mengkaji penggunaan dompet digital.

Ditambah pemerintah belum mengatur social commerce. “Jadi lebih mudah untuk bertransaksi melalui media sosial. Apalagi tidak memungut biaya layanan seperti e-commerce,” kata Nailul kepada Katadata.co.id, Selasa (13/10).

Namun, kelemahan bertransaksi di media sosial yakni keamanannya tidak terjamin. Ini karena pembayarannya tidak ditampung dalam rekening bersama, seperti di e-commerce.

“Lebih banyak potensi fraud. Tetapi, ke depan saya yakin platform social commerce akan memperbaiki hal ini,” ujar dia.

Nailul juga menilai bahwa media sosial diminati karena penggunanya banyak. “Semakin besar pengguna maka semakin besar peluang penjual untuk mengembangkan usahanya,” kata dia.

Berdasarkan data GlobalWebIndex, penduduk Indonesia rerata mempunyai 10-11 akun media sosial pada kuartal I 2020. Ini tecermin pada Databoks di bawah ini:

Penggunaan media sosial pun meningkat selama pandemi virus corona. Berdasarkan survei Alvara Research Center, 82,7% responden menjadikan media sosial sebagai hiburan.

Berdasarkan survei idEA terhadap dua ribu responden pada 2017, transaksi online melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram mencapai 66%. Secara rinci dapat dilihat pada Databoks berikut:

Asosiasi sempat khawatir, masyarakat akan beralih ke media sosial jika pemerintah memajaki e-commerce. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mencabut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai pajak e-commerce pada Maret 2019, karena kerap disalahartikan sebagai pungutan baru.

Cara Google, TikTok, Facebook Luncurkan Fitur Belanja

Di tengah tingginya peminat e-commerce saat pandemi corona, Google menguji coba fitur belanja online di YouTube akhir pekan lalu (10/10). Pada masa percobaan ini, perusahaan mengintegrasikan fitur ini dengan Shopify Inc, e-commerce asal Kanada.

Juru bicara YouTube mengonfirmasi hal itu. Perusahaan juga sudah menawarkan langganan bagi pembuat konten, dan mengambil potongan 30% dari transaksi.

Sedangkan TikTok mengembangkan fitur serupa sejak akhir tahun lalu. “Kami selalu bereksperimen dengan cara-cara baru untuk meningkatkan pengalaman pengguna di aplikasi bagi pengguna," kata Juru Bicara ByteDance dikutip dari Tech Crunch, akhir tahun lalu (15/11/2019).

Melalui fitur itu, influencer dapat mengarahkan pengikutnya pada akun sponsor. Sedangkan calon konsumen dapat mengeklik tautan yang ada pada profil, lalu bakal diarahkan ke toko online.

Indonesia merupakan pasar keempat terbesar bagi TikTok. Ini terlihat pada Databoks di bawah ini:

Sedangkan Facebook mengembangkan fitur belanja sejak 2016. Perusahaan meluncurkan toko online, Facebook Shop yang memungkinkan pelanggan menelusuri produk dan menandai yang favorit pada Mei lalu.

Layanan tersebut kemudian tersedia di Indonesia pada awal September. Akses untuk berbelanja online pun diperluas bukan hanya di feed dan laman profil, tetapi juga galer, IGTV, dan platform baru pesaing TikTok yakni Reels.

Facebook juga berencana meluncurkan fitur pembayaran di Instagram bagi konsumen di AS terlebih dulu. Namun, ini akan tersedia bagi pedagang yang menggunakan layanan manajer niaga dari Facebook, Shopify dan BigCommerce.

Perusahaan juga menyediakan layanan katalog produk melalui WhatsApp, yang tersedia di Indonesia.

“Model bisnis kami di sini adalah iklan,” kata CEO Facebook Mark Zuckerberg dikutip dari The Guardian, Mei lalu (19/5). Oleh karena itu, perusahaan belum memungut komisi. “Mereka pada umumnya akan menawar lebih tinggi untuk iklan dan pada akhirnya kami akan menghasilkan uang dengan cara itu.”

Facebook dan YouTube menjadi platform media sosial yang paling banyak digunakan di dunia, pada April lalu. Datanya sebagai berikut:

 

Video Pilihan

Artikel Terkait