Huawei Dikabarkan Akan Jual Merek Honor Imbas Sanksi AS

Huawei berhenti memproduksi cip andalannya pada September, karena sanksi AS. Kini, raksasa teknologi Tiongkok itu dikabarkan akan menjual merek ponsel Honor.
Image title
15 Oktober 2020, 10:25
Huawei Dikabarkan Akan Jual Merek Honor Imbas Sanksi AS
123RF.com
Ilustrasi Huawei

Raksasa teknologi asal TiongkokHuawei dikabarkan berencana menjual merek ponsel miliknya Honor. Analis menilai, ini merupakan upaya perusahaan untuk bertahan dari jerat sanksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Beberapa sumber Reuters yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan, ada sejumlah perusahaan yang berminat membeli Honor. Tiga di antaranya Xiaomi, distributor utama Honor Digital China, dan produsen perangkat elektronik China TCL.

Sumber mengatakan, Huawei sedang dalam pembicaraan dengan para penawar. Nilai kesepakatannya diprediksi 25 miliar yuan atau US$ 3,7 miliar.

Selain merek, Huawei dikabarkan menjual kapabilitas penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) dan fasilitas manajemen rantai pasok.

Namun, sumber tidak memerinci alasan Huawei menjual Honor. Sedangkan analis di TF International Securities Kuo Ming-chi menilai, ini merupakan strategi perusahaan untuk dapat bertahan di tengah tekanan pemerintah AS.

Ia juga menilai, penjualan itu akan menguntungkan merek Honor. “Pembelian komponennya tidak lagi tunduk pada sanksi AS terhadap Huawei," kata Ming-chi dikutip Reuters, kemarin (14/10). "Ini akan membantu bisnis ponsel Honor dan pemasoknya."

Meski begitu, menurutnya langkah itu bisa juga bertujuan menjalankan merek secara ganda. Sebab, pengembangan ponsel ini akan terbatas apabila masih di bawah Huawei. Honor tidak bisa mendapatkan layanan Google karena sanksi AS.

Huawei bisa berfokus pada satu merek ponsel yang menyasar kalangan atas. "Akan menjadi win-win solution untuk merek Honor, pemasok, dan industri elektronik Tiongkok," katanya.

Sedangkan ponsel merek Honor berfokus menyasar segmen kelas bawah. Di Tiongkok, perusahaan bersaing dengan Xiaomi, Oppo dan Vivo. Gawai ini juga sudah dipasarkan di Asia Tenggara dan Eropa.

Meski begitu, Vice President of Client Devices Research IDC Bryan Ma menilai bahwa langkah itu tidak lantas membuat Huawei untung. "Jika Honor menjadi bisnis yang terpisah, ini tidak menjamin bahwa ponsel itu tidak akan terjebak dalam perang dagang," kata dia, dikutip dari South China Morning Post, pekan lalu (7/10).

Selain itu, Huawei dan Honor masih terlibat dalam proses pengembangan teknologi yang sama. Di satu sisi, Kementerian Perdagangan AS menambahkan 38 entitas yang berafiliasi dengan Huawei ke dalam daftar hitam pada Agustus, sehingga totalnya mencapai 152.

Analis Fitch Solutions Kenny Liew bahkan menilai bahwa penjualan itu bisa merugikan Huawei. Sebab, Honor berkontribusi signifikan bagi bisnis ponsel perusahaan. 

IDC memperkirakan, Honor menyumbang 28% dari total penjualan smartphone Huawei pada paruh pertama tahun ini. Sedangkan Strategy Analytics mencatat, kontribusinya 38%.

Honor juga menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 10 miliar dalam lima tahun terakhir. "Ini merek yang sangat mapan di segmen kelas bawah hingga menengah, dan menjadi kunci bagi Huawei untuk membuat terobosan ke banyak pasar berkembang di seluruh dunia," kata Kenny.

Meski begitu, ia menyadari bahwa bisnis Huawei menghadapi tantangan sanksi AS. Ini akan berpengaruh terhadap pengembangan Honor.

Wakil Presiden Huawei untuk Eropa Abraham Liu memang sempat menyampaikan, bisnis semakin sulit sejak AS memperluas sanksi terhadap afiliasi perusahaan. “Sejak Agustus ini menjadi semakin sulit,” kata dia kepada surat kabar Austria, Kurier, dikutip dari Reuters, Senin lalu (11/10).

Ia mengatakan, Washington memeras produsen semikonduktor untuk tidak bekerja sama dengan Huawei. Akibat kebijakan ini, HiSilicon tak dapat memproduksi cip (chipset).

Meski begitu, ia optimistis dapat melayani pelanggan Eropa di sektor jaringan internet generasi kelima atau 5G. “Ini karena banyak persiapan dan investasi di awal, dengan teknologi paling canggih,” kata Liu.

Selain itu, Huawei masih mencari solusi agar pengguna ponselnya tetap dapat menggunakan aplikasi-aplikasi pendukung kegiatan sehari-hari. Ini mengingat perusahaan tak lagi bekerja sama dengan Google, sehingga gawainya tak didukung Google Mobile Services (GMS) seperti Gmail dan YouTube.

“Untuk pelanggan pribadi, pemilik ponsel, kami melihat kesulitan besar. Ada 90 juta pengguna Huawei di Eropa,” ujar Liu. “Kami masih mencari solusi.”

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait