OYO Klaim Okupansi Hotel Mitra Naik 30%, meski Masih Ada Corona

OYO mengklaim, tingkat okupansi mitra yang menerapkan program protokol kesehatan, naik hingga 30%. Permintaan naik 70% dibandingkan titik terendah akibat pandemi corona, pada Mei lalu.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
19 Oktober 2020, 18:06
OYO Klaim Okupansi Hotel Mitra Naik 30%, meski Masih Ada Corona
oyo
Ilustrasi, tampilan kamar hotel OYO

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Startup jaringan hotel asal India, OYO menyebutkan bahwa okupansi mitra hotelnya naik hingga 30% setelah menggelar program sanitized stay terkait protokol kesehatan. Peningkatannya sekitar 20% per bulan.

Program tersebut diluncurkan Juni lalu. “Dalam tiga bulan, kenaikannya 20-30%,” kata Country Head OYO Hotels and Home Indonesia Agus Hartono Wijaya dalam acara diskusi dengan media terbatas, Senin (19/10).

Perusahaan mencatat, tingkat okupansi mulai naik 70% dari titik terendah pada Mei lalu. Mayoritas pemesanan kamar dilakukan melalui aplikasi, situs web, dan micro market selling OYO, sementara sisanya dari perusahaan online travel agent (OTA) dan kanal lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat okupansi hotel memang sempat meningkat dari Juni ke Juli. Namun menurun 28,66 poin jika dibandingkan Juli tahun lalu, yang mencapai 56,73%.

Agus mengatakan, kenaikan okupansi hotel tersebut memang belum maksimal. Sebab, masih ada kendala di beberapa daerah seperti penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Alhasil, hanya 850 dari total 3 ribu mitra hotel yang sudah menjalankan program Sanitized Stay. "Kami target paling tidak setengah dari total mitra mengikuti akhir tahun ini," katanya.

Agus mengklaim, penyediaan layanan Sanitized Stay tidak terlalu mahal. Hal-hal yang disediakan yakni alat ukur suhu tubuh atau thermo gun, sarung tangan karet untuk petugas jaga hotel, pembersih tangan, dan lainnya.

Selain itu, ada tujuh hal yang dilakukan dalam program Sanitized Stay. Pertama, menerapkan jaga jarak fisik. Kedua, melatih karyawan dan tim lapangan terkait protokol kesehatan.

Ketiga, menciptakan lingkungan yang higienis. Keempat, menghadirkan pengalaman menginap dengan kontak fisik minimal mulai dari pelanggan melakukan check-in hingga check-out

Kelima, menjaga keamanan pelanggan dengan memastikan ketersediaan pembersih tangan dan masker. Keenam, memastikan keamanan staf. Terakhir, menyediakan saluran bantuan darurat dan rute rumah sakit terdekat.

Selain itu, OYO meluncurkan brand Kopi Cinta sebagai lini bisnis hospitality di luar akomodasi. Hingga Agustus lalu, perusahaan menyediakan 30 gerai di Indonesia. 

OYO pun menggaet layanan pesan-antar makanan GoFood milik Gojek dan GrabFood dari Grab dalam menjalankan lini bisnisnya itu.

Perusahaan kemudian menyediakan paket layanan menginap jangka panjang atau long stay untuk isolasi mandiri bagi orang tanpa gejala (OTG) Covid-19. Salah satunya, hotel OYO dengan delapan lantai di Jakarta.

Berbagai strategi itu dijalankan perusahaan agar dapat bertahan di tengah pandemi corona.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Fadjar Hutomo mengatakan, situasi pandemi mengharuskan perusahaan di sektor ini berinovasi. Salah satunya dengan menjalankan berbagai program protokol kesehatan. 

"Segmen hotel budget memiliki peluang yang sangat besar. Dalam situasi seperti ini, protokol kesehatan dan inovasi adalah kuncinya," kata Fadjar.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait