Huawei Pakai Teknologi AI untuk Pantau Perburuan Satwa di Hutan RI

Huawei terapkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi keberadaan satwa liar di Taman Nasional Bali Barat. Teknologi ini dinilai bisa digunakan untuk memantau pembalakan liar hingga kebakaran hutan.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
27 Oktober 2020, 09:49
Huawei Pakai Teknologi AI untuk Pantau Perburuan Satwa di Hutan RI
Huawei.com
Penerapan AI di industri

Raksasa teknologi asal Tiongkok, Huawei berkolaborasi dengan lembaga nirlaba (non-governmnet organization/NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian untuk memantau perburuan satwa liar di Taman Nasional Bali Barat.  Perusahaan pun mengandalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

CEO Huawei Indonesia Jacky Chen mengatakan, AI-nya sudah dipakai untuk berbagai keperluan di Nusantara, termasuk kesehatan dan pendidikan. "Kami kemudian memperluas kontribusi hingga menjangkau bidang lingkungan hidup," katanya dikutip dari siaran pers, Senin (26/10).

AI juga sudah digunakan oleh Rainforest Connection untuk memantau perburuan satwa di hutan hujan tropis Kosta Rica, Filipina dan beberapa negara lainnya.

Di Taman Nasional Bali Barat, AI akan mendeteksi suara guna memantau keberadaan dan perilaku satwa. “Ini dapat memperkaya sistem yang sudah dimanfaatkan oleh kementerian untuk memantau satwa di Indonesia," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno.

Sebelumnya, kementerian mengandalkan sejumlah teknologi seperti camera trap dan GPS Collar untuk mendeteksi satwa. "Ini untuk memantau Gajah Sumatera," kata Wiratno.

Ia berharap, AI akan dapat meminimalkan perburuan liar satwa di hutan. Apalagi, Pulau Bali mempunyai satwa endemik yakni burung Jalak Bali. Keberadaan hewan ini di habitat aslinya hanya tersisa beberapa ratus ekor.

Selain Jalak Bali, Indonesia memiliki koleksi 400 spesies burung endemik dan diklaim sebagai yang terbanyak di dunia.

Wiratno mengatakan, teknologi AI dapat digunakan untuk mengawasi hutan secara keseluruhan. Tidak hanya terkait perburuan satwa liar, tetapi juga mencegah pembalakan (illegal logging) dan penambangan liar (illegal mining).

Teknologi tersebut diperlukan mengingat Indonesia memiliki 54 taman nasional, yang sebagian di antaranya merupakan situs warisan dunia (world heritage) dari UNESCO.

AI sendiri diprediksi semakin banyak diadopsi pada tahun ini. Lembaga riset global Alibaba DAMO Academy merilis laporan terkait prediksi 10 tren perkembangan teknologi pada 2020, salah satunya AI. 

Menurut laporan itu, teknologi AI terus berkembang dari sebelumnya hanya kecerdasan perseptual menjadi kognitif. AI mampu memproses bahasa alami atau natural language processing (NLP), pemahaman video, dan sebagainya. 

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) pun menyiapkan penerapan strategi nasional AI (national AI strategic). Ini berfokus pada peningkatan kualitas layanan publik dan upaya strategis lainnya yang berdampak pada masyarakat luas, serta diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah dalam menerapkan AI.

Dalam penerapannya, kementerian menggandeng berbagai pihak, termasuk Huawei, Tokopedia, Bukalapak dan Kata.ai dalam mengkaji strategi ini.

Pemerintah juga sudah menerapkan teknologi AI pada beberapa layanan, namun bersifat terbatas. Direktorat Jenderal atau Ditjen Pajak misalnya, memakai AI untuk mengatasi potensi penyalahgunaan (fraud). Lalu, BPPT mengembangkan teknologi itu untuk menangani kebakaran hutan.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait