Nokia Akan Rilis Lagi Ponsel Klasik 6300 dan 8000 yang Dilengkapi 4G

Nokia akan meluncurkan kembali ponsel klasik 6300 dan 8000. Gawai 'jadul' ini akan dilengkapi beberapa teknologi terkini, termasuk 4G.
Image title
5 November 2020, 10:39
Ilustrasi Nokia
Nokia
Ilustrasi Nokia

Produsen gadget asal Finlandia, HMD Global berencana merilis kembali ponsel klasik Nokia 6300 dan 8000. Kedua gadget yang diklaim tahan banting ini akan dimodernisasi dengan akses jaringan internet generasi keempat (4G), Wireless Fidelity (WiFi), dan sejumlah fitur pintar.

Kabar tersebut berhembus karena kedua ponsel klasik itu masuk daftar perangkat yang diperbarui oleh operator telekomunikasi Swedia Telia. Operator itu yang akan memasukan fitur WiFi ke ponsel ‘jadul’ Nokia.

Berdasarkan laporan situs Jerman, WinFuture, Telia juga akan menyematkan fungsi 4G LTE pada kedua gawai tersebut. “Tidak ada spesifikasi lain yang disebutkan dalam daftar atau oleh HMD Global,” demikian dikutip dari Gadgets NDTV, Rabu (4/11).

Nokia 6300 merupakan ponsel mid-range atau kelas menengah yang diluncurkan pada 2007. Perusahaan menggabungkan desain candybar klasik dengan baja tahan karat dan diklaim bertahan lama.

Advertisement
Nokia 6300
Nokia 6300 (Instagram/@forakz)

Bodinya ramping, dengan ketebalan 11,7 milimeter. Ponsel ini mendukung kartu MicroSD hingga 2 GB, serta dapat berfungsi sebagai pemutar MP3.

Nokia 6300 didukung kamera belakang 2 MP. Gawai ini menjadi salah satu yang terlaris pada masa itu.

Sedangkan Nokia 8000 merupakan ponsel premium pada zamannya. Perangkat ini didukung kamera 2 MP dan mempunyai penutup kunci atau keypad yang bisa digeser.

Nokia 8000
Nokia 8000 (Instagram/@itenunclick)

Selain kedua model tersebut, Nokia meluncurkan kembali beberapa ponsel klasik seperti 3310, 8810, 2720 hingga 5310 XpressMusic.

Chief Commercial Officer HMD Global Per Ekman mengungkapkan, alasan perusahaan meluncurkan kembali berbagai produk klasik yakni ingin menghadirkan nostalgia bagi pengguna. Ponsel yang dihidupkan kembali itu juga dinilai bukan peninggalan tua yang suram.

"Kami menjual lebih banyak ponsel feature dibandingkan pintar (smartphone) saat ini," kata Ekman dikutip dari Digital Trends, akhir tahun lalu (5/9/2019). "Kami yakin ada nilai dalam ponsel menengah (mid-range)."

Nokia pernah menjadi perusahaan global papan atas Finlandia, yang mencerminkan transformasi negara tersebut ke arah ekonomi berbasis teknologi. Di puncak kejayaannya pada 2000-an, korporasi ini menyumbang 4% produk domestik bruto (PDB) Finlandia.

Bahkan pada 2010, Nokia menjadi pemimpin global di pasar ponsel. Pangsa pasarnya mencapai 33,1% dan naik 48% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penjualan ponselnya tembus 100 juta unit. Sedangkan pesaingnya, Apple hanya mengirim 47,5 juta dan Samsung 23 juta unit.

Setelahnya penjualan ponsel Nokia terus menurun, karena para pesaingnya memasang Android dari Google di perangkat. Saat itu, Nokia tetap menggunakan Symbian sebagai sistem operasi (operating system/OS) gawainya.

"Nokia harus meminum pil pahit. Eksposur pasar ponsel feature hilang dan membuat perusahaan kehilangan banyak uang," kata analis di Bernstein Research Pierre Ferragu dikutip dari GSM Arena pada 2013 lalu (5/7/2013).

Pada 2014, Microsoft mengakuisisi hak penggunaan merek ponsel Nokia selama dua tahun. Setelahnya, HMD yang mendapatkan hak pemakaian.

Tahun ini, kinerja penjualan ponsel Nokia mengalami perlambatan. Berdasarkan data dari Counterpoint, Nokia hanya menjual 1,7 juta unit pada kuartal pertama atau anjlok 45% secara tahunan (year on year/yoy).

Counterpoint mencatat, penurunan penjualan ponsel Nokia stabil sejak kuartal II 2019.

Meski ponsel mereka kalah saing, bisnis telekomunikasi Nokia cukup menjanjikan. Pada tahun ini, Nokia menjadi salah satu perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang bersaing dengan Huawei, Cisco, Ericsson dan Qualcomm.  

Berdasarkan data Statista, pangsa pasar Nokia di bisnis infrastruktur telekomunikasi 16,1% pada Juni 2019. Amerika Utara merupakan pasar regional terpenting Nokia, diikuti oleh kawasan Eropa dan Asia Pasifik.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait