Antisipasi Penipuan Online, Grab Adopsi AI dan Siapkan Lima Fitur Baru

Grab investasi pada teknologi kecerdasan buatan untuk mengantisipasi kejahatan siber. Decacorn Singapura itu juga menyiapkan lima fitur baru untuk meningkatkan keamanan.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
18 November 2020, 13:49
Antisipasi Penipuan Online, Grab Adopsi AI dan Siapkan Lima Fitur Baru
KATADATA | Ajeng Dinar Ulfiana
Helm Grab

Penipuan online dengan modus rekayasa sosial (social engineering) meningkat saat pandemi corona, karena masyarakat beralih ke layanan digital. Decacorn asal Singapura, Grab pun memaksimalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) dan menyiapkan lima fitur baru untuk mengantisipasi hal ini.

Berdasarkan data Cybersource pada 2018, e-commerce kehilangan 1,6% potensi pendapatan karena adanya kejahatan siber. Di Indonesia bahkan mencapai 3,2%.

“Itu karena literasi digitalnya rendah,” kata Head of Technology, Integrity Group, Transport, and Patents Office Grab Wui Ngiap Foo dalam acara virtual ‘Grab Tech Insider’, Rabu (18/11). Berdasarkan Global World Digital Competitiveness Index yang dirilis oleh Institute for Management Development (IMD), literasi digital Indonesia menempati urutan 56 dari 63 negara.

Selain itu, penipuan online secara global meningkat 600% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Data pemerintah Singapura, serangan ke platform bank di Asia Tenggara naik 2.500% pada semester pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan The International Criminal Police Organization (Interpol) 2020, Asia Tenggara menjadi sasaran penjahat siber yang beroperasi dengan cara menipu dan mengelabui korban, atau phishing. Indonesia menjadi target utama pelaku penipuan.

Foo menyadari bahwa kejahatan siber menjadi tantangan tersendiri dalam menyediakan layanan digital. Oleh karena itu, Grab menyematkan AI pada beberapa fitur dan layanan.

Selain itu, menerapkan sistem keamanan berlapis, tetapi tetap memperhatikan friksi. “Yang baik yakni menciptakan keamanan di luar persepsi friksi,” kata Foo. “Saya pikir, keamanan berlapis menjadi evolusi.”

Perusahaan menerapkan verifikasi wajah (face recognition) berbasis AI bagi mitra pengemudi sebelum menerima order. Sewaktu-waktu, Grab juga dapat meminta driver untuk berswafoto untuk verifikasi.

Penumpang yang pertama kali menggunakan layanan Grab juga diminta swafoto. Meski begitu, Foo menjamin bahwa data-data biometrik dan lainnya aman.

Selain itu, AI disematkan pada fitur-fitur yang aktif selama perjalanan berlangsung. Fitur yang dimaksud yakni status transaksi, GPS, kondisi lalu lintas, peta, dan telematik.

Setelah transaksi berakhir, AI menganalisis perilaku mitra pengemudi selama berkendara. Kemudian laporan dikirimkan kepada mitra.

Decacorn asal Singapura itu pun menyiapkan lima fitur baru, yakni verifikasi tanpa-gerak (gesture-less), penyaring percakapan, deteksi tabrakan (crash detection), penghentian perjalanan yang tidak biasa (unusual ride termination), dan notifikasi untuk mitra pengemudi. “Kami investasi pada teknologi pengenalan bahasa dan pesan penipuan untuk fitur penyaring percakapan,” ujar dia.

Startup jumbo itu juga melatih mesin pembelajar (machine learning) untuk mendeteksi anomali transaksi yang dicurigai. Transaksi penipuan di platform Grab pun diklaim kurang dari 1% saat ini. “Ini belum cukup. Kami akan tekan lagi,” kata Foo.

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait