BRI Gaet OVO untuk Salurkan Kredit ke UMKM Digital

BRI menggandeng OVO untuk menyalurkan kredit kepada UMKM digital. Besaran pinjamannya hingga Rp 20 juta.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
19 November 2020, 18:16
BRI Gaet OVO untuk Salurkan Kredit ke UMKM Digital
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA
Ilustrasi OVO di acara Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center,  Jakarta (23/9). 

Bank Rakyat Indonesia (BRI) menggandeng perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran, OVO untuk menyalurkan digital kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau DigiKu. Program ini khusus untuk pelaku usaha yang mendigitalisasikan bisnis.

EVP Card and Digital Lending BRI Wibawa Prasetyawan mengatakan, OVO mempunyai data 700 ribu lebih mitra penjual (merchant). Selain itu, menerapkan skema pendataan UMKM dengan penandaan lokasi atau geotagging. “Ini memperkaya data perbankan kami," katanya dalam acara virtual Fintech Talk, Kamis (19/11).

Melalui kolaborasi itu, BRI bisa menjangkau UMKM yang belum pernah terakses perbankan (unbankable). "Penerimaan (layanan) di masyarakat jadi tinggi," katanya.

Di satu sisi, Direktur Konsumer BRI Handayani mengatakan, UMKM berkontribusi 68% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97% tenaga kerja nasional. “Kerja sama ini diharapkan bisa meningkatkan penetrasi produk dan layanan digital kami terhadap pelaku UMKM,” kata dia dikutip dari siaran pers.

Oleh karena itu, perusahaan menggandeng OVO. Ini diharapkan memperluas dan mempermudah akses UMKM untuk mendapatkan DigiKu. Besaran pinjamannya hingga Rp 20 juta, dengan tenor sebulan hingga setahun.

VP Lending OVO Natasha Ardiani menambahkan, biasanya bank mengandalkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK)  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan pinjaman. Dengan fintech, penilaian kredit berbasis teknologi dan data.

OVO misalnya, mempunyai teknologi geo tagging dan pengenalan konsumen berbasis digital (e-KYC) melalui verifikasi KTP dan lokasi merchant. "Ada hal-hal yang bisa kami akses secara geografis dan apakah UMKM menjalankan usahanya sesuai alamat KTP atau bukan," kata Natasha.

Meski begitu, teknologi saja tidak cukup untuk membantu perbankan. "Ada tantangan yang dihadapi yakni literasi digital, ini bukan cuma pekerjaan rumah (PR) OVO saja, tapi semua lembaga keuangan," katanya.

Sedangkan DigiKu diluncurkan oleh pemerintah pada Juli lalu (17/7). Himpunan bank milik negara (Himbara) pun diminta menyalurkan pinjaman Rp 4,2 triliun terkait program ini.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pinjaman hanya diberikan kepada UMKM yang bergabung dengan platform digital. Kebijakan ini diharapkan mendorong pelaku usaha untuk berjualan online.

Pemerintah mencatat, 22% atau 8.140 dari total 37 ribu UMKM yang terpukul pandemi corona, membutuhkan modal usaha. "Namun, banyak UMKM terganjal administrasi perbankan," kata Luhut saat konferensi pers secara virtual, Juli lalu (17/7).

Luhut menilai, DigiKU bisa menjadi alternatif pembiayaan bagi UMKM. Sebab persyaratan pengajuan kreditnya diklaim lebih mudah dibandingkan prosedur normal. Pengajuannya disebut-sebut hanya 15 menit. 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait