Lonjakan Jumlah Investor Retail di Pasar Modal Jadi Ceruk Baru Fintech

Jumlah investor retail di pasar modal melonjak selama pandemi corona. Ini menjadi ceruk baru bagi fintech untuk mendongkrak transaksi.
Image title
20 November 2020, 18:29
Lonjakan Jumlah Investor Ritel di Pasar Modal Jadi Ceruk Baru Fintech
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA
(ki-ka) Sri Mulyani Menteri Keuangan Indonesia, Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono Gani, Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia dan moderator dalam acara Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center,  Jakarta (23/9).

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, jumlah investor retail di pasar modal melonjak saat pandemi corona. Ini dinilai menjadi peluang bagi perusahaan teknologi finansial (fintech) klaster investasi untuk mendongrak transaksi.

Berdasarkan data BEI, ada 3,27 juta nomor tunggal identitas pemodal atau single investor identification (SID) per September. Jumlahnya naik 31.9% dibandingkan akhir tahun lalu. Peningkatan rerata 100 ribu per bulan sejak Juni.

Regulator pasar modal memperkirakan, jumlah investor retail melampaui 3,5 juta pada akhir tahun. Ini dinilai sebagai peluang bagi startup. “Fintech maju teknologinya," kata Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Fithri Hadi dalam acara virtual Fintech Talk, Jumat (20/11).

Namun, Fithri tidak memerinci penyebab lonjakan jumlah investor selama pandemi virus corona.

Sedangkan Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo mencatat, dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana di platform fintech meningkat. Nilainya naik 113% sejak awal tahun (year to date/ytd) menjadi Rp 4,75 triliun per Oktober.

“Nilainya terus meningkat dalam lima tahun terakhir," kata Uriep. Pangsa pasar fintech pun meningkat dari 0,4% pada tahun lalu menjadi 0,9% per Oktober.

Pertumbuhan itu berbanding terbalik dengan keseluruhan industri, yang total dana kelolaannya turun 2% menjadi Rp 529,86 triliun. “Orang bertransaksi melalui gadget saat pandemi Covid-19,” ujarnya. "Teknologi digital juga membantu kegiatan bisnis."

CEO Bareksa Karaniya Dharmasaputra menambahkan, dana kelolaan di platform-nya tumbuh 81% selama pagebluk virus corona. "Ini fenomena menarik. Tentu ada komponen pasar, karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong segmen ritel," ujarnya.

Selain itu, Bareksa dan fintech sejenis berfokus menggarap nasabah yang nilai investasinya kecil. Segmen ini tumbuh selama pandemi.

Salah satu startup yang memanfaatkan peluang lonjakan jumlah investor ritel yakni KoinWorks. Meski bergerak di sektor pembiayaan atau fintech lending, startup ini meluncurkan tiga layanan baru, salah satunya KoinBond.

Pelanggan dapat membeli produk investasi yang dijamin oleh negara seperti Saving Bond Retail (SBR), Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), serta obligasi syariah seperti Sukuk Ritel dan Sukuk Tabungan.

Co-Founder sekaligus CEO KoinWorks Benedicto Haryono menjamin, perusahaan mematuhi segala ketentuan penjualan produk obligasi tersebut. "Obligasi negara aman," ujar dia pada Agustus lalu (28/8).

Perusahaan pun sudah tercatat sebagai penyelenggara inovasi keuangan digital (IKD) klaster agregator. Selain itu, mengikuti proses regulatory sandbox dari OJK di bawah PT Sejahtera Lunaria Annua.

Dengan begitu, KoinWorks bisa menyediakan beragam layanan keuangan, selain pembiayaan. Sedangkan jasa pendanaan berada di bawah PT Lunaria Annua Teknologi.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait