Survei KIC: Masyarakat Lebih Percaya Medsos Ketimbang Situs Pemerintah

Masyarakat Indonesia lebih percaya informasi di televisi dan media sosial ketimbang situs resmi pemerintah. Padahal, mereka menilai bahwa penyebaran hoaks terbanyak di Facebook.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
20 November 2020, 14:47
Survei KIC: Warga RI Lebih Percaya Medsos Ketimbang Situs Pemerintah
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi ponsel

Survei Katadata Insight Center (KIC) bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan, masyarakat Indonesia lebih mempercayai informasi yang beredar di media sosial ketimbang situs resmi pemerintah. Platform yang paling dipercaya yakni WhatsApp.

Indeks tersebut berdasarkan hasil survei terhadap 1.670 responden, yang dilakukan selama 18-31 Agustus lalu. Responden merupakan anggota rumah tangga berusia 17-30 tahun dan mengakses internet tiga bulan terakhir. Tingkat toleransi kesalahan (margin of error) 2,45%.

Berdasarkan survei tersebut, 76% responden mencari informasi melalui media sosial. Kemudian, 59,5% televisi dan 25,25 berita online.

Televisi merupakan media yang paling dipercaya responden, yakni 49,5%. Disusul oleh media sosial 20,3% dan situs pemerintah hanya 15,3%. “Ini karena data di media sosial dinilai jelas dan lengkap,” kata Direktur Riset KIC Mulya Amri saat konferensi pers virtual terkait hasil survei literasi digital nasional, Jumat (20/11).

Media yang paling dipercaya oleh masyarakat
Media yang paling dipercaya oleh masyarakat (Katadata Insight Center dan Kominfo)

Ada beberapa alasan yang mendorong masyarakat lebih mempercayai media sosial, ketimbang lainnya. Secara rinci, dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Alasan memercayai media sebagai sumber informasi
Alasan memercayai media sebagai sumber informasi (Katadata Insight Center dan Kominfo)

WhatsApp menjadi media yang paling sering digunakan untuk menerima dan berbagi informasi. Mayoritas dari mereka menyebarkannya kepada keluarga.

Berbeda dengan masyarakat di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) yang lebih mempercayai informasi dari situs resmi pemerintah dan televisi. “Mereka langsung mencari tahu di internet jika menerima hoaks,” kata Amri.

Padahal, masyarakat di wilayah 3T mengalami beberapa kesulitan untuk mengakses internet seperti infrastruktur yang belum memadai dan mahalnya tarif. “Mereka menganggap, hoaks merupakan tanggung jawab semua orang,” ujar dia.

 

Perbedaaan rujukan dan media yang dipercaya oleh masyarakat secara nasional dan yang berdomisili di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T)
Perbedaaan rujukan dan media yang dipercaya oleh masyarakat secara nasional dan yang berdomisili di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) (Katadata Insight Center dan Kominfo)

Meski masyarakat secara nasional lebih mempercayai media sosial, mayoritas dari mereka menilai bahwa Facebook menjadi media yang paling banyak penyebaran hoaks. Disusul oleh WhatsApp, YouTube, portal berita online, Instagram, dan televisi.

Konten bohong yang paling sering mereka temui yaitu politik. Kemudian, kesehatan, agama, kerusuhan, lingkungan, dan bencana alam.

Berdasarkan survei KIC dan Kominfo, 11,2% menyatakan pernah menyebarkan kabar bohong atau hoaks. Sebanyak 68,4% di antaranya mengatakan hanya ingin mendistribusikan informasi, meski belum memverifikasi kebenarannya.

Lalu, 56,1% tidak tahu bahwa itu hoaks. Kemudian, karena alasan tak mengetahui sumber informasi, iseng, dan untuk memengaruhi orang lain.

“Masyarakat yang tinggal di perdesaan cenderung tidak menyebarkan hoaks. Ini artinya, masyarakat di perkotaan lebih banyak terpapar, sehingga dengan mudah menyebarluaskan,” kata dia.

Di satu sisi, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) menunjukkan, jumlah pengguna internet Indonesia naik 8,9% dari 171,2 juta pada 2018 menjadi 196,7 juta per kuartal II 2020. Angkanya tertera pada Databoks di bawah ini:

Juru bicara Kominfo Dedy Permati mengatakan, survei itu menunjukkan bahwa semakin banyak dan sering masyarakat menggunakan internet. Namun, “ada tantangan besar yang dihadapi. Per Oktober, kami identifikasi 1,64 juta konten hoaks,” ujar dia.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait