Peluang dan Tantangan Gojek dan Grab Merger

Gojek dan Grab dikabarkan semakin dekat untuk merger. Keduanya disebut-sebut sudah membicarakan penggabungan pada periode awal memulai bisnis.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
4 Desember 2020, 15:05
Peluang dan Tantangan Gojek dan Grab Merger
Katadata/desy setyowati
Ilustrasi aplikasi Gojek dan Grab

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perusahaan penyedia layanan on-demand, Gojek dan Grab dikabarkan semakin dekat untuk merger. Kedua decacorn ini disebut-sebut menyelesaikan detail akhir proses penggabungan. Namun, proses ini bukan tanpa tantangan.

Salah satu tantangannya yakni peraturan terkait antimonopoli. Saat mengakuisisi operasional Uber di Asia Tenggara pada 2018 lalu, Grab didenda oleh otoritas di Singapura dan Filipina karena terbukti monopoli.

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Syahputra mengatakan, merger keduanya akan membuat pasar semakin terkonsentrasi. “Salah satu dasar pertimbangan kami dalam menilai notifikasi yakni pengaruhnya terhadap konsentrasi pasar,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (4/12).

KPPU dapat memberikan persetujuan atau penolakan terhadap aksi korporasi merger akuisisi yang memenuhi batasan. Pertimbangan ini akan mengacu pada pasal 28 Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Meski begitu, Guntur belum menerima laporan terkait rencana Gojek dan Grab merger. “KPPU belum menerima notifikasi itu,” kata dia.

Sedangkan Gojek juga tidak berkomentar mengenai kabar pembahasan merger tersebut. “Kami tidak dapat menanggapi rumor yang beredar di pasar,” kata Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita kepada Katadata.co.id, Kamis (3/12).

Begitu pun dengan Grab. “Kami tidak berkomentar mengenai spekulasi yang beredar di pasar,” ujar juru bicara Grab.

Namun, sumber Bloomberg mengungkapkan bahwa Gojek dan Grab sudah mempersempit perbedaan pendapat terkait penggabungan. "Detail akhir sedang dikerjakan di antara para pemimpin paling senior di setiap perusahaan," kata sumber yang mengetahui rencana itu seperti dikutip Bloomberg, Rabu (2/11).

Salah satu poin yang disepakati yakni membentuk perusahaan gabungan, yang akan berfokus melantai di bursa saham dan menjadi raksasa teknologi di Asia Tenggara. CEO Grab Anthony Tan disebut-sebut akan memimpin entitas bisnis ini.

Poin lain yang disepakati yakni merek Gojek dan Grab dikabarkan dapat dijalankan secara terpisah untuk jangka waktu yang lama. Ini karena pembahasan seputar apakah keduanya akan menggabungkan semua operasi atau Grab hanya mengakuisisi bisnis Gojek di Indonesia memakan waktu beberapa bulan.

Anthony Tan disebut-sebut memilih untuk mengakuisisi pasar yang lebih sempit, sehingga memiliki kendali yang besar. "Ini memungkinkan Gojek menjalankan bisnis di Indonesia sebagai anak perusahaan (Grab)," demikian kata salah satu sumber Bloomberg, Oktober lalu (16/10). Namun, ia tidak memerinci pasar yang dimaksud.

Tantangan lain yang dihadapi keduanya dalam pembahasan terkait merger yakni pembagian saham. DealStreetAsia melaporkan bahwa Grab menawarkan 30% saham kepada Gojek.

Namun, decacorn Indonesia itu menginginkan lebih. Sumber Tech In Asia mengatakan, Gojek menginginkan 50% saham.

Tantangan lainnya yakni dari sisi mitra dan karyawan. Analis bidang teknologi di Fitch Solutions, Kenny Liew melihat regulator tidak akan menyetujui kesepakatan merger dua raksasa startup tersebut. “Ini mengingat bahwa (jumlah) pekerjaan kemungkinan besar akan dipangkas,” kata dia.

Suara sumbang terkait kabar merger itu pun diungkapkan oleh salah satu mitra GoCar Sugeng. “Dari sistem kemitraan Gojek dan Grab beda. Sekarang mitra sudah berlebihan, saya khawatir ada pemutusan kerja sama secara sepihak,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (4/12).

Mitra GoCar lainnya, Freddy menyoroti sistem imbalan. Ia mengatakan, mitra bisa memperoleh poin jika penumpang mengisi saldo (top up) GoPay minimal Rp 20 ribu pada tahun lalu. Kini, minimal Rp 100 ribu baru bisa mendapatkan poin.

Freddy berharap, sistem imbalan tidak dipersulit jika keduanya merger.

 

Grab

Gojek

Cakupan

8 negara

4 negara

Mitra pengemudi

9 juta (keseluruhan)

2 juta

Mitra penjual

900 ribu

Jumlah unduhan

205 juta kali

190 juta kali

Pengguna aktif bulanan

-

38 juta

Valuasi

US$ 14 miliar

US$ 10 miliar

Sumber: Gojek, Grab, CB Insights

Tantangan berikutnya dari sisi investor. Alibaba dikabarkan dalam pembicaraan dengan Grab terkait investasi. Sedangkan salah satu investor Gojek yakni Tencent, merupakan pesaing Alibaba di Tiongkok.

Sinyal merger gojek dan grab
Sinyal merger gojek dan grab (Katadata)

 

Meski begitu, Alibaba dan Tencent pernah menggabungkan startup yang disuntik modal dan kini menjadi Didi Chuxing. Perusahaan berbagi tumpangan (ride hailing) di Tiongkok ini merupakan gabungan dari Kuaidi Dache dan Didi Dache pada 2015.

Kuadi didukung oleh Alibaba, sementara Didi ditopang oleh Tencent. Saat itu, valuasi gabungan keduanya US$ 6 miliar. Kini, nilainya mendekati status hectocorn atau US$ 100 miliar.

Indikator ‘Kedekatan’ Gojek dan Grab

KrAsia melaporkan, Gojek dan Grab sudah membicarakan peluang merger saat awal mereka berdiri. Gojek hadir pada 2010, sementara Grab berdiri pada 2012 dengan nama GrabTaxi di Malaysia.

Namun, pembicaraan itu kandas setelah Grab mengumpulkan sejumlah besar dana dan memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya sendiri. Sejak saat itu, keduanya berlomba-lomba merambah beragam bisnis dan meraih banyak investasi.

Isu Gojek dan Grab tengah diskusi terkait merger kemudian berhembus pada awal 2020. Rencana ini kabarnya merupakan ide investor SoftBank, Elliot Management Corp. Namun SoftBank membantah rumor itu.

Sedangkan salah satu investor Grab mengatakan, pembicaraan terkait merger dilakukan selama dua tahun. Diskusinya semakin intens dalam beberapa bulan terakhir.

“Kekuatan yang berperan di sini lebih tinggi daripada yang diinginkan Grab atau Gojek - atau memang tidak ingin. Ini tentang sejumlah pemegang saham berpengaruh jangka panjang di kedua perusahaan yang ingin membendung kerugian atau mencari cara untuk keluar dari investasi mereka,” kata sumber kepada Financial Times, Maret lalu (8/3).

Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan, diskusi itu muncul ketika pesaing Gojek dan Grab merugi akibat pembatasan aktivitas di luar rumah saat pandemi virus corona. Namun sumber itu tidak menyebutkan pesaing yang dimaksud.

Indikasi lainnya yakni peran sentral Pandu Sjahrir, Komisaris Gojek sejak 2017 sampai sekarang. Pria yang juga menjabat Presiden Komisaris SEA Group Indonesia ini disebut-sebut berperan penting dalam persiapan pertemuan CEO SoftBank Masayoshi Son dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Juli 2019.

Indikator ‘kedekatan’ lainnya yaitu kesamaan investor utama. Raksasa korporasi asal Jepang yaitu Mitsubishi, juga menanamkan investasinya di Gojek dan Grab. Berdasarkan data Crunchbase, Mitsubsihi UFJ Financial Group menyuntikan modal di Grab pada Februari lalu.

Lalu Mitsubishi Corporations, Mitsubishi Motors, Mitsubsihi UFJ Financial Group, dan Visa berinvestasi di Gojek pada Maret lalu.

Reporter: Desy Setyowati, Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait