Grab Klaim Pendapatan Pulih 100% karena Berfokus Sasar UMKM

Grab mengatakan pendapatan pulih ke level sebelum ada pandemi corona, karena berfokus menyasar UMKM. Pesaing Gojek ini mengklaim, permintaan layanan GrabFood naik tiga kali lipat.
Image title
5 Januari 2021, 12:00
Grab Klaim Pendapatan Pulih 100% karena Berfokus Sasar UMKM
KATADATA | Ajeng Dinar Ulfiana
Ilustrasi Grab

Perusahaan penyedia layanan on-demand asal Singapura, Grab mengatakan bahwa pendapatan pulih 100% seperti sebelum ada pandemi corona. Ini ditopang oleh strategi decacorn yang berfokus menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Presiden Grab Ming Maa mengatakan, kinerja bisnis terus membaik meski masih ada pandemi Covid-19. "Total pendapatan bersih Grab melonjak sekitar 70% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2020," demikian kata Maa, dikutip dari Tech In Asia, Senin (4/1).

Pada kuartal III 2020, pendapatan perusahaan naik lebih dari 95% dibandingkan sebelum ada virus corona. Maa mengatakan, perbaikan terjadi karena perusahaan berfokus pada digitalisasi UMKM.

Grab pun gencar menyasar segmen ekonomi informal seperti warung, toko, kalangan ibu-ibu dan petani. Strategi ini akan dilanjutkan pada 2021. "Untuk menciptakan efek riak yang menguntungkan, tidak hanya bisnis yang masuk ke platform, tetapi seluruh rantai nilai yang mendukung mereka (UMKM)," kata Ma.

Advertisement

Di Indonesia misalnya, pesaing Gojek itu menggaet 450 ribu UMKM selama Januari-November 2020. Jumlahnya melampaui target 400 ribu sepanjang tahun lalu.

Decacorn Singapura itu juga mengalihkan mitra UMKM di GrabFood, GrabMart, dan GrabKios ke GrabMerchant, sehingga menjadi terintegrasi. Kemudian meluncurkan program #TerusUsaha.

Grab pun menyediakan iklan gratis bagi UMKM pada laman utama aplikasi, media sosial dan saluran digital, serta influencer. Perusahaan juga menanggung biaya dan sumber daya untuk membuat materi pemasaran.

Pada November lalu, Grab juga meluncurkan pusat inovasi (tech center) di Jakarta untuk menggaet 11 juta UMKM hingga 2025. Selain itu, fasilitas ini bertujuan mencetak lebih banyak talenta digital lokal.

Selain digitalisasi UMKM yang masif, pendapatan decacorn Singapura itu terdorong oleh kinerja baik lini bisnis berbagi tumpangan (ride hailing) dan pesan-antar makanan (food delivery) selama pandemi corona. Grab mengklaim, layanan ride hailing mencapai titik impas di semua pasar operasi, termasuk Indonesia.

Padahal, di Indonesia bisnis berbagi tumpangan terhantam keras pandemi virus corona. Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) mencatat, permintaan layanan taksi dan ojek online di Indonesia turun 20-30% per September dibandingkan sebelum ada pandemi Covid-19.

Sedangkan layanan pesan-antar makanan Grab meningkat tiga kali lipat yoy pada kuartal III 2020. Perusahaan memperkirakan bisnis ini mencapai titik impas pada akhir 2021, setelah mencatat EBITDA positif di beberapa negara pada kuartal II 2020.

Sebelumnya, Co-Founder sekaligus CEO Grab Anthony Tan mengatakan bahwa perusahaan berupaya memperkuat GrabFood dan jasa pengiriman barang. Personil di ke kedua produk ini pun diperkuat.

Selain itu, berfokus pada layanan pembayaran digital. Ketiga produk ini dinilai potensial saat pandemi, karena mendukung protokol kesehatan.

Grab juga mengembangkan layanan keuangan setelah mendapatkan lisensi bank digital di Singapura pada November lalu.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait