Grab Dikabarkan Kaji IPO di Bursa Saham AS Tahun Ini

Grab dikabarkan mengkaji IPO di bursa saham AS pada tahun ini. Pesaing Gojek itu disebut-sebut menargetkan US$ 2 miliar dari penawaran saham perdana.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
18 Januari 2021, 17:44
Grab Dikabarkan Kaji IPO di Bursa Saham AS Tahun Ini
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Mitra pengemudi Grab

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perusahaan penyedia layanan on-demand, Grab dikabarkan menjajaki penawaran saham perdana alias IPO di bursa saham Amerika Serikat (AS) pada tahun ini. Pesaing Gojek itu disebut-sebut ingin mengumpulkan dana US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.

Sumber Reuters mengatakan, jika itu terjadi, maka akan menjadi IPO terbesar perusahaan Asia Tenggara. “Pasarnya bagus dan bisnisnya berjalan lebih baik dibandigkan sebelumnya,” kata dia dikutip dari Reuters, Senin (18/1).

Saat ini, decacorn Singapura itu berupaya menyelesaikan perencanaan untuk IPO. Grab juga akan mempertimbangkan kondisi pasar.

Pada pekan lalu, anak usaha Grab di bidang keuangan yakni Grab Financial Group memperoleh pendanaan seri A US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun. Investasi ini dipimpin oleh Hanwha Asset Management Korea Selatan, dan melibatkan K3 Ventures, GGV Capital, Arbor Ventures, serta Flourish Ventures.

Perusahaan mengklaim pendapatan anak usaha itu tumbuh 40% secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun lalu. Ini karena masyarakat Asia Tenggara beralih ke transaksi digital selama pandemi corona.

Jumlah pengguna bulanan produk investasi, AutoInvest misalnya, naik hampir dua kali lipat pada Desember 2020. Penawaran produk asuransi juga tumbuh, dengan pengguna aktif bulanan meningkat empat kali lipat menjadi lebih dari 4,5 juta dalam tiga bulan.

Sedangkan perusahaan secara keseluruhan mengklaim bahwa pendapatan pulih 100% seperti sebelum ada pandemi virus corona. Ini ditopang oleh strategi decacorn yang berfokus menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Presiden Grab Ming Maa mengatakan, kinerja bisnis terus membaik meski masih ada pandemi Covid-19. "Total pendapatan bersih Grab melonjak sekitar 70% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2020," demikian kata Maa, dikutip dari Tech In Asia, awal bulan ini (4/1).

Grab pun gencar menyasar segmen ekonomi informal seperti warung, toko, kalangan ibu-ibu dan petani. Strategi ini akan dilanjutkan pada 2021. "Untuk menciptakan efek riak yang menguntungkan, tidak hanya bisnis yang masuk ke platform, tetapi seluruh rantai nilai yang mendukung mereka (UMKM)," kata Ma.

Kabar tersebut datang di saat investornya yakni SoftBank mengajukan izin untuk mendirikan perusahaan akuisisi bertujuan khusus atau SPAC pada akhir tahun lalu (21/12/2020). Investor Grab dan Tokopedia ini berencana mengumpulkan US$ 525 juta untuk investasi di perusahaan teknologi.

“SPAC kami akan menjembatani strategi investasi swasta dan publik SoftBank. Ini memungkinkan kami bermitra dengan perusahaan teknologi siap menawarkan saham perdana atau IPO yang berkembang pesat,” kata perusahaan dalam dokumen pengajuan dikutip dari CNBC Internasional, bulan lalu (22/12/2020).

SPAC disebut perusahaan cek kosong karena tidak memiliki operasi apa pun. Perusahaan jenis ini merupakan sarana investasi yang dibuat khusus untuk mengumpulkan dana para orang kaya.

Selanjutnya, dana itu dipakai untuk membiayai peluang merger atau akuisisi dalam jangka waktu yang ditetapkan. Tapi, target perusahaan yang dimerger atau diakuisisi biasanya belum diidentifikasi.

SPAC diminati investor terkenal, termasuk manajer hedge fund Bill Ackman, selama tahun ini. Kesepakatannya mencapai total lebih dari US$ 60 miliar tahun ini, berdasarkan data Renaissance Capital.

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait