Huawei Bangun Pusat Pelatihan di RI, Target 100 Ribu Talenta Digital

Huawei gencar memberikan pelatihan teknologi kepada SDM di Indonesia. Yang terbaru, raksasa teknologi Tiongkok ini membangun pusat pelatihan bagi 100 ribu peserta dari pemerintahan hingga siswa SMK.
Image title
25 Januari 2021, 17:26
Huawei Bangun Pusat Pelatihan di RI, Target 100 Ribu Talenta Digital
123RF.com
Ilustrasi Huawei

Huawei membuat pusat pelatihan yang diberi nama Huawei ASEAN Academy Engineering Institute di Jakarta. Perusahaan teknologi asal Tiongkok ini menargetkan dapat melatih 100 ribu talenta digital di Indonesia.

CEO Huawei Indonesia Jacky Chen mengatakan, pusat pelatihan itu bertujuan mengembangkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi, informasi dan komunikasi (TIK). "Dalam lima tahun, lewat sinergi multiple-helix, kami menargetkan untuk mengembangkan kompetensi 100 ribu talenta digital di Indonesia," ujarnya dalam siaran pers, Senin (25/1).

Indonesia dipilih karena negara ini ingin menjadi lima besar kekuatan ekonomi digital dunia pada 2045. Oleh karena, talenta digital menjadi kunci untuk mewujudkan visi ini.

Namun, McKinsey dan Bank Dunia memperkirakan bahwa Indonesia membutuhkan sembilan juta tenaga digital hingga 2030. Ini artinya, ada kebutuhan 600 ribu pekerja digital per tahun.

Huawei ASEAN Academy (Indonesia) Engineering Institute terdiri dari tiga unit pusat pelatihan. Pertama, business college yang menyasar peserta dari kalangan pemerintahan, regulator, perusahaan, dan para manajer. Mereka akan mempelajari perkembangan teknologi terkini dan tren di industri.

Kedua, technical college yang berfokus pada para engineer dari operator telekomunikasi hingga mahasiswa. Program pelatihannya seperti ICT technical training and certification, IP training and certification, ICT competition, seeds for the future, excellent college students internship, developer contest, serta 5G+AI ecosystem innovation training camp.

Terakhir, engineering college, yang pesertanya berasal dari kalangan teknisi sub-kontraktor hingga siswa sekolah vokasional. Peserta akan mendapatkan pelatihan mengasah kecakapan di bidang teknologi dan informasi.

Dekan Huawei ASEAN Academy (Indonesia) Yang Dong Hai mengatakan, pusat pelatihan itu didukung oleh lebih dari 100 pelatih, 3.000 gelaran kursus, dan 100 mirroring environment. "Selain mengikuti kelas teori, peserta bisa praktik kerja lapangan, mengikuti ujian dan memperoleh sertifikasi," ujarnya.

Pusat pelatihan tersebut mempunyai fasilitas laboratorium, ruang kelas hingga tempat untuk mempelajari instalasi perangkat keras atau hardware. Selain itu, terdapat teknologi seperti konstruksi jaringan nirkabel dan microwave, upgrade, migrasi, dismantling, penggelaran ulang, FTTx hingga datacom jaringan optik 

Pelatihan juga akan menggunakan desain lapangan dengan modular yang bisa digunakan kembali. Pelatihan ini dapat menampung hingga 80 orang sekaligus.

Sebelumnya, raksasa teknologi Tiongkok itu dikabarkan bekerja sama dengan Kantor Staf Presiden (KSP) untuk melatih talenta digital di Indonesia. “Dengan bantuan Huawei, kami berharap dapat meningkatkan kualitas SDM hingga mencapai standar internasional," kata sumber yang dekat dengan KSP, dikutip dari Asia Nikkei Review, tahun lalu (2/11/2020).

Huawei membantah bahwa kerja sama yang dimaksud terkait penggunaan solusi internet generasi kelima atau 5G. Kolaborasi hanya terkait pelatihan. 

Pada September 2020, produsen ponsel pintar (smartphone) itu berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk melatih 400 lebih pegawai. Ini meliputi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi awan (cloud computing), 5G, dan maha data (big data).

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) juga menggaet Huawei untuk menerapkan AI di Nusantara pada April lalu. Ini seiring dengan upaya kementerian membuat strategi nasional AI.

Huawei mengatakan, bahwa upaya kolaborasi dengan pemerintah Indonesia memang dilakukan perusahaan untuk masuk ke pasar 5G Tanah Air. Director ICT Strategy Huawei Indonesia Mohamad Rosidi mengatakan, strategi perusahaan masuk ke pasar 5G Indonesia yaitu berbagi pengetahuan tentang manfaat 5G secara masif.

Dalam memberikan literasi itu, perusahaan kemudian berkolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah. "Kami menggelar road show supaya masyarakat memahami penggunaan 5G secara sesuai dan benefit 5G," ujar Rosidi saat konferensi pers virtual, pekan lalu (14/1).

Perusahaan juga menjalankan strategi lainnya dengan membangun ekosistem pengembangan 5G dengan menggaet operator seluler. "Kami menguji coba penerapan 5G dengan operator," katanya. 

Pada 2019 lalu, Huawei menggaet XL Axiata untuk membangun jaringan simplified transport dengan solusi Optical Networking 2.0. Jaringan ini dinilai bisa meningkatkan kualitas layanan, termasuk 5G.

Telkomsel juga berkolaborasi dengan Huawei untuk mengembangkan Joint Innovation Center 5.0. Kolaborasi ini dalam rangka pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia.

Pada November tahun lalu, giliran Indosat Ooredoo yang berkolaborasi dengan Huawei untuk membangun jaringan transport berbasis teknologi segment routing IPv6 (SRv6). Ini memungkinkan jalur routing deterministik dan jaminan terkait latensi atau keterlambatan pengiriman data.

Sebelumnya, beberapa peneliti teknologi Asia Tenggara menilai, Huawei mengincar pasar regional, termasuk Indonesia seiring dengan banyaknya pembatasan akses pengembang 5G di Eropa dan AS. "Asia Tenggara telah dan akan tetap menjadi pasar penting bagi Huawei," kata Principal Analyst Mobile Infrastructure di Omdia Remy Pascal dikutip dari Asia Nikkei Review, bulan lalu (3/12/2020).

Di Singapura, Nokia dan Ericsson mengalahkan Huawei. Singapore Telecommunications (Singtel) mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan Ericsson Swedia.

Sedangkan perusahaan patungan milik Starhub dan M1 memilih Nokia sebagai mitra untuk membangun jaringan 5G. Kedua perusahaan akan membangun jaringan 5G yang ditarget selesai pada awal 2021.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Video Pilihan

Artikel Terkait