Pendapatan Facebook dan Samsung Naik hingga 33%, Apple Rekor

Pendapatan Samsung dan Facebook naik hingga 33% berkat kelangkaan cip dan pemulihan bisnis iklan. Penghasilan kuartalan Apple bahkan menyentuh rekor.
Fahmi Ahmad Burhan
29 Januari 2021, 17:30
Pendapatan Facebook dan Samsung Naik hingga 33%, Apple Rekor
ANTARA FOTO/REUTERS/China Daily /pras/cf
Warga berada di Apple Store saat momen peluncuran iPhone SE di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Jumat (24/4/2020).

Facebook dan Samsung mencatatkan peningkatan pendapatan hingga 33% pada akhir tahun lalu. Penghasilan kuartalan Apple bahkan melampaui US$ 100 miliar. Ini pertama kalinya dalam sejarah.

Pendapatan produsen iPhone itu mencapai US$ 111,44 miliar pada akhir tahun lalu. Labanya juga naik dari US$ 22,2 miliar menjadi US$ 28,6 miliar.

Penghasilan dari bisnis iPhone mencapai rekor US$ 65 miliar. “Level tertinggi sebelumnya dicapai pada kuartal pertama 2018 sebesar US$ 61,58 miliar,” demikian dikutip dari The Verge, Kamis (28/1).

Hal itu ditopang oleh peluncuran iPhone 12 pada akhir tahun lalu. Berdasarkan data Canalys, jumlah pengiriman ponsel Apple melampaui Samsung pada kuartal IV 2020.

Advertisement

Pengiriman gadget Apple naik 4% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 81,8 juta. Sedangkan Samsung mengirimkan 62 juta unit atau turun 12% yoy.

Itu utamanya didukung oleh kuatnya pasar Tiongkok. Penjualan iPhone di Negeri Panda naik 57% menjadi US$ 21,31 miliar. "Kami memiliki dua dari tiga smartphone dengan penjualan teratas di perkotaan Tiongkok," kata CEO Apple Tim Cook dikutip dari Reuters, Kamis (28/1).

Penjualan iPad secara global juga naik 41%, dan Mac 21%. Tim mengatakan, total ada 1,65 miliar perangkat Apple yang terpasang per tahun lalu. Khusus untuk iPhone, basis penggunanya lebih dari 1 miliar.

Selain Apple, pendapatan operasional Samsung naik 26,4% yoy menjadi 9,05 triliun won atau US$ 8,08 miliar. Sedangkan penjualan meningkat 2,7% menjadi 61,55 triliun won atau US$ 54,9 miliar.

Dalam setahun penuh, perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu mencatatkan pendapatan operasional tumbuh 29,6% menjadi 36 triliun won atau US$ 32,1 miliar. Sedangkan penjualan mencapai 236,8 triliun won atau US$ 211,6 miliar.

ZDNet melaporkan, bisnis semikonduktor berkontribusi paling besar terhadap pendapatan Samsung. Ini karena permintaan cip (chipset) melonjak setelah mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sanksi kepada produsen semikonduktor Tiongkok.

Sanksi itu membuat cip langka. Alhasil, bisnis semikonduktor Samsung tetap tumbuh meski harga cip turun dan pendapatan tertekan penguatan won terhadap dolar AS.

Sedangkan pendapatan dari bisnis ponsel pintar (smartphone) mereka menurun 4% menjadi 2,42 triliun won.

Raksasa teknologi lainnya, Facebook juga mencatatkan peningkatan pendapatan 33% menjadi US$ 28,1 miliar pada kuartal IV 2020. Jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) pun naik 12% menjadi 2,8 miliar.

CFO Facebook Dave Wehner mengatakan, pertumbuhan pendapatan dipengaruhi oleh permintaan layanan belanja online selama pandemi corona. "Konsumen beralih membeli produk dibandingkan sekadar menikmati layanan media sosial selama pandemi," ujarnya dikutip Business Insider, Kamis (28/1).

Pertumbuhan pendapatan juga ditopang oleh pemulihan lini bisnis iklan selama paruh kedua 2020. Sebelumnya, Facebook mengalami tekanan karena para pengiklan mengurangi anggaran pemasaran.

Namun, permintaan iklan naik pada akhir tahun lalu. Pendapatan dari lini bisnis ini pun naik 31% menjadi US$ 27,2 miliar pada kuartal IV 2020.

Sedangkan Google dan Amazon belum mengumumkan laporan kinerja bisnis pada kuartal IV 2020. Namun, analis perusahaan riset Bernstein memperkirakan bahwa bisnis periklanan Google terdongkrak kebijakan privasi Apple.

Kebijakan itu bakal mendorong pengguna App Store untuk beralih ke Google. Begitu juga dengan pengiklan.

Selain itu, “pertumbuhan pendapatan tampaknya akan kuat, dipengaruhi oleh unit iklan premium di area seperti YouTube Select," ujar analis tersebut, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (27/1).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait