Risiko Corona Lebih Terukur, Investasi ke Startup RI Diramal Naik

OJK mencatat, pendanaan dari modal ventura naik 5,69% menjadi Rp 13,44 triliun tahun lalu. Asosiasi memprediksi nilainya lebih tinggi pada 2021, karena investor lebih dapat mengukur risiko corona.
Image title
10 Februari 2021, 17:56
Risiko Corona Lebih Terukur, Investasi ke Startup RI Diramal Naik
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Karyawan menghitung uang rupiah di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pendanaan perusahaan modal ventura Indonesia ke startup naik 5,69% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 13,44 triliun pada tahun lalu. Asosiasi Modal Ventura untuk Startup lndonesia (Amvesindo) memperkirakan, pertumbuhan tahun ini lebih tinggi karena risiko terkait Covid-19 sudah diantisipasi.

Wakil Ketua Amvesindo William Gozali mengatakan, investor modal ventura memilih untuk menunggu dan melihat (wait and see) pada tahun lalu. Tahun ini, ia memprediksi pendanaan ke startup meningkat. "Para investor sudah siap semua," katanya dalam acara edukasi Amvesindo Institute, Rabu (10/2).

Hal itu karena investor sudah menghitung risiko pandemi corona terhadap bisnis startup. Sedangkan tahun lalu, penanam modal belum dapat memperkirakan ketahanan perusahaan rintisan. “Saat ini, risikonya semakin terukur," ujar William.

Wakil Sekretaris Amvesindo Andreas Surya menambahkan, dua risiko yang dikaji oleh investor saat pandemi yaitu kemampuan bertahan dan manajemen krisis para pendiri startup. "Pandemi corona menjadi penyaring untuk kami berinvestasi," katanya.

Sebelum berinvestasi, investor akan menganalisis kasus kegagalan startup karena pandemi virus corona. "Dari situ kami bisa belajar, kenapa mereka gagal? Apakah karena faktor yang tidak bisa dikontrol atau lainnya?" ujar Andreas.

Selain karena risiko yang lebih terukur, NextLevel Leader PwC Indonesia Radju Munusamy mengatakan bahwa investasi berpotensi naik tahun ini karena ada vaksinasi Covid-19 dan Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja.

Ia menilai, investor akan mengkaji isu pada tahun lalu, termasuk Omnibus Law yang dinilai mempermudah startup mengembangkan bisnis. "Di saat yang sama, startup membutuhkan pendanaan untuk scale up," ujarnya dalam acara PwC NextLevel - 2021 Outlook: Start-ups, Investments, and Corporate Collaborations, bulan lalu (19/1).

Itu karena Omnibus Law Cipta Kerja memuat aturan terkait perekrutan tenaga kerja asing yang menjadi isu bagi perusahaan rintisan. “Ini akan berdampak positif. Startup dapat memulai kembali (bisnisnya) untuk tumbuh," kata Radju.

Startup yang Diincar Investor Tahun Ini

William menilai, sektor startup potensial tahun ini yaitu yang menyasar warung atau toko kelontong. Berdasarkan riset Euromonitor International pada 2019, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina berbelanja di warung.

Dari total nilai pasar retail US$ 521 miliar, sebanyak US$ 479,3 miliar atau 92% di antaranya merupakan transaksi toko kelontong.

Sedangkan pemerintah mencatat, ada 3,7 juta pedagang online baru sejak peluncuran program Bangga Buatan Indonesia pada Mei 2020 lalu. Dengan tambahan tersebut, ada 11,7 juta dari total 64 juta lebih UMKM yang merambah ekosistem digital.

Angka pertumbuhan jumlah UMKM di Indonesia dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Pada November tahun lalu, ia memperkirakan bahwa startup social commerce potensial tahun ini. Apalagi data GlobalWebIndex, penduduk Indonesia rerata mempunyai 10-11 akun media sosial pada kuartal I 2020, sebagaimana Databoks berikut:

William juga menilai, prospek turunan e-commerce lainnya yakni digitalisasi warung atau online to offline (O2O) akan semakin berkembang. “Efek virus coronastartup yang mendorong rantai pasok (suplai chain), prospeknya masih sangat bagus,” katanya dalam acara media gathering virtual bertajuk ‘Mengupas Dinamika dan Tren Pendanaan Startup 2020-2021’, November lalu (2/11/2020).

Pada tahun lalu, ia mencatat ada enam sektor startup yang diburu oleh investor. Mereka yakni teknologi finansial (fintech), Software as a Services (SaaS), pendidikan (edutech), new retail, e-commerce, dan logistik.

(BACA JUGA: Peluang Fintech Pertahankan Gelar 'Primadona' Investor pada 2021)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait