Shopee Pimpin Pasar E-Commerce RI, Tokopedia dan Bukalapak Fokus UMKM

Riset iPrice menunjukkan, Shopee memimpin dari sisi jumlah kunjungan ke platform per bulan di Indonesia tahun lalu. Tokopedia dan Bukalapak memilih berfokus menggaet UMKM.
Image title
11 Februari 2021, 18:34
Shopee Pimpin Pasar E-Commerce RI, Tokopedia dan Bukalapak Fokus UMKM
Katadata/desy setyowati
Ilustrasi, tampilan aplikasi e-commerce pada ponsel

Riset iPrice menunjukkan, Shopee memimpin dari sisi jumlah kunjungan ke platform e-commerce per bulan di Indonesia tahun lalu. Meski begitu, Tokopedia dan Bukalapak memilih berfokus menggaet Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada 2021.

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan, perusahaan berfokus mengembangkan ekosistem super (super ecosystem). Unicorn Tanah Air ini pun menggencarkan kolaborasi.

"Kami akan terus bekerja sama erat dengan pemerintah, pegiat usaha dari berbagai industri, dan mitra strategis lain," kata Ekhel kepada Katadata.co.id, Kamis (11/2). Dua program kemitraan pada tahun lalu yakni #JagaEkonomiIndonesia dan Bangga Buatan Indonesia (BBI).

E-commerce bernuansa hijau itu pun menggaet 2,8 juta mitra penjual baru sepanjang tahun lalu. Kini, totalnya mencapai 10 juta, yang hampir seluruhnya merupakan UMKM.

Sedangkan jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) bertambah 10 juta menjadi lebih dari 100 juta pada tahun lalu. 

Selain kolaborasi, Tokopedia berfokus mengadopsi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dan mengoptimalkan kerangka kerja.

Unicorn Indonesia lainnya, Bukalapak juga gencar menggaet UMKM tahun ini. “Ada banyak potensi yang bisa dijadikan peluang," kata CEO Bukalapak Rachmat Kaimudin dalam siaran pers, bulan lalu (6/1).

Salah satu segmen yang diincar yakni warung. Lini bisnis digitalisasi toko atau online to offline (O2O) Mitra Bukalapak pun mencatatkan peningkatan transaksi 100% pada tahun lalu. Sedangkan jumlah mitranya bertambah 30%.

Berdasarkan riset CLSA, skema O2O seperti Mitra Bukalapak bisa berkontribusi 10% terhadap total pengguna baru. Biaya akuisisi konsumen alias customer acquisition costs (CACs) dengan skema ini pun hanya US$ 2 per pelanggan, 20% lebih rendah dibandingkan cara umum.

Belum lagi, warung berkontribusi 65%-70% terhadap transaksi retail nasional. Oleh karena itu, CLSA menilai bawah model bisnis O2O tersebut berpeluang meningkatkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan.

Bukalapak pun mencatatkan EBITDA tumbuh 80% sejak 2018 hingga 2020. “Kami memproyeksikan kenaikan tahun ini. Mengikuti tren ekonomi, yakni sekitar 40%-50% secara keseluruhan,” kata Rachmat.

Selain warung, Bukalapak gencar menggaet UMKM di platform. E-commerce bernuansa merah ini pun memberlakukan satu tarif untuk Super Seller yakni 0,5%, yang diklaim termurah.

Sebelumnya, riset iPrice menunjukkan bahwa Shopee memimpin dari sisi jumlah kunjungan ke platform per bulan di Indonesia tahun lalu. Secara berurutan pada kuartal I hingga IV 2020, jumlahnya yakni 71,53 juta, 93,44 juta, 96,53 juta, dan 129,32 juta.

Sedangkan jumlah kunjungan Tokopedia yaitu 69,8 juta, 86,1 juta, 85 juta, dan 114,7 juta. Lalu Bukalapak berada di urutan ketiga, dengan jumlah kunjungan yakni 37,63 juta, 35,29 juta, 31,42 juta, dan 38,58 juta.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Video Pilihan

Artikel Terkait