Wabah Clubhouse, Aplikasi Obrolan Baru Elon Musk hingga CEO Startup

Aplikasi Clubhouse kebanjiran pengguna baru setelah dipromosikan oleh CEO Tesla Elon Musk. Platform ini pun ramai digunakan di Indonesia, termasuk oleh para petinggi startup, meski belum terdaftar.
Image title
17 Februari 2021, 13:10
Aplikasi Obrolan Clubhouse yang Digunakan Elon Musk hingga CEO Startup
Katadata/Desy Setyowati
Aplikasi Clubhouse

Jumlah pengguna aplikasi obrolan berbasis suara, Clubhouse melonjak setelah CEO Tesla Elon Musk mempromosikan. Platform ini juga tren di Indonesia, meski belum terdaftar di  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Clubhouse dikembangkan oleh pengusaha di Silicon Valley, Paul Davidson dan Rohan Seth. Aplikasi ini tersedia pada Maret 2020, dan memiliki 1.500 pengguna pada Mei tahun lalu. Saat itu, valuasinya US$ 100 juta.

Pada awal bulan ini, Elon Musk menggelar obrolan di Clubhouse dengan CEO perusahaan keuangan Robinhood, Vlad Tenev. Acara ini disiarkan secara langsung di YouTube.  

"Itu mendorong Clubhouse ke puncak ‘tangga lagu’ startup dan memicu perebutan undangan," demikian dikutip dari The Guardian, Selasa (16/2).

Elon juga mengajak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk berbincang di Clubhouse. "Apakah Anda ingin bergabung dengan saya untuk percakapan di Clubhouse?" kata Elon melalui akun Twitter @elonmusk, dengan menyertakan akun @KremlinRussia_E, akhir pekan lalu (14/2).

Data Sensor Tower pun menunjukkan, Clubhouse mempunyai dua juta pengguna. Bahkan, undangan keanggotaan dijual di e-commerce seperti e-bay dan Alibaba.

Perusahaan itu pun meraih dana segar, sehingga valuasinya melonjak menjadi US$ 1 miliar.

Selain Elon, CEO Facebook Mark Zuckerberg menggunakan aplikasi itu dengan nama akun "Zuck23". Ia juga sempat hadir dalam acara obrolan teknologi dan budaya, The Good Time Show.

CEO Twitter Jack Dorsey pun ikut menggunakan Clubhouse. Tokoh lain yang menggunakan Clubhouse yakni komedian Kevin Hart, aktor Jared Leto dan Operah Winfrey.

Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, sejumlah petinggi startup memakai aplikasi tersebut. Beberapa di antaranya CEO Tokopedia William Tanuwijaya, CEO Bukalapak Rachmat Kaimudin, Co-CEO Gojek Kevin Aluwi.

Sutradara Joko Anwar dan Ernest Prakasa hingga mantan Menteri Pariwisata Wishnutama ikut menggunakan Clubhouse. Begitu juga dengan kreator konten (content creator) Arief Muhammad, Reza Arap Oktovian, dan Chef Arnold.

Clubhouse merupakan aplikasi obrolan berbasis audio-chat, yang memungkinkan pengguna mendengarkan percakapan, wawancara, dan diskusi. Konsepnya mirip podcast, tetapi bersifat langsung dan ekslusif. Pengguna harus mendapatkan undangan untuk bisa mendengarkan obrolan.

Dalam ruang obrolan tersebut, hanya beberapa orang yang bisa berbicara. Sedangkan sisanya berperan sebagai peserta.

Saat ini, Clubhouse baru bisa diunduh di App Store. Dengan kata lain, baru tersedia bagi pengguna iPhone.

Setelah mengunduh aplikasi, pengguna harus mendapatkan undangan terlebih dulu agar bisa membuat akun. Undangan itu berupa tautan (link) yang dikirim lewat nomor ponsel. Ketika diklik, Anda akan diarahkan ke laman pembuatan akun.

Pengguna Clubhouse yang sudah terdaftar bisa mengundang orang lain untuk bergabung. Namun, hanya dibatasi dua undangan.

Setelah bergabung, pengguna bisa memilih topik dan ruang obrolan. Semakin banyak minat yang dicantumkan oleh pengguna di aplikasi, maka semakin banyak rekomendasi ruang obrolan.

Ketika masuk ke ruang obrolan yang dipilih, ‘room master’ yang berwenang akan mengatur jalannya percakapan. Ini mirip ‘admin’ pada Zoom.

Room master dapat mematikan fitur suara pengguna. Jika ingin berkomentar, pengguna bisa mengeklik ikon "raise hand" dan "request speaking".

Meski saat ini bersifat eksklusif, perusahaan berencana mengembangkan tahap beta aplikasi. Dengan begitu, Clubhouse bisa digunakan oleh lebih banyak pengguna.

Keamanan Data Clubhouse

Peneliti siber Stanford Internet Observatory (SIO) khawatir data percakapan suara di Clubhouse dikirim ke server di Negeri Panda. SIO melaporkan bahwa infrastruktur back-end perusahaan media sosial itu disediakan oleh perusahaan Tiongkok bernama Agora.

Data-data yang dikirimkan berupa nomor ID pengguna. "Dari data itu, bisa dilihat siapa berbicara dengan siapa," kata SIO dikutip dari The Verge, Minggu (14/2).

Namun, Agora menegaskan, perusahaan tidak memiliki akses untuk membagikan atau menyimpan data pengguna akhir Clubhouse. Perusahaan juga membantah bahwa lalu lintas data suara pengguna di luar negeri dialihkan ke Tiongkok.

Meski begitu, Clubhouse menambahkan enkripsi dan pemblokiran untuk mencegah klien mengirim data ke server Tiongkok. Pengembang juga menyewa perusahaan keamanan eksternal untuk meninjau dan memvalidasi pembaruan aplikasi.

Akan tetapi, Clubhouse sendiri sebenarnya belum terdaftar di Kominfo. Padahal, platform sudah banyak digunakan di Tanah Air.

“Kami berharap (mereka) bisa mendaftar sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2020,” kata juru bicara Kominfo Dedy Permadi dikutip dari Antara, Selasa (16/2).

Permen itu memuat tentang penyelenggara sistem elektronik lingkup privat, platform media sosial, transaksi elektronik hingga komputasi awan. Dalam aturan itu, perusahaan wajib mendaftar ke Kementerian Kominfo.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan, Muhammad Ahsan Ridhoi, Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait