Gojek dan Grab Incar Potensi Bisnis Bahan Pokok Online Rp 84 Triliun

Nilai transaksi penyedia bahan pokok secara digital diramal Rp 84 triliun pada 2025. Gojek, Grab, Tokopedia hingga Bukalapak pun memperkuat lini bisnis ini saat pandemi corona.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
17 Februari 2021, 19:21
Diincar Gojek - Grab, Bisnis Bahan Pokok Online RI Capai Rp 84 Triliun
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Pedagang menata sayuran yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020).

Perusahaan konsultan strategi global L.E.K Consulting memperkirakan, nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) layanan kebutuhan pokok digital mencapai US$ 5 miliar-US$ 6 miliar (Rp 70 triliun-Rp 84 triliun) pada 2025. Startup jumbo seperti Gojek, Grab, Tokopedia pun merambah bisnis ini.

Head of the technology practice L.E.K. Consulting Asia Tenggara Manas Tamotia mengatakan, pandemi corona mendorong penetrasi layanan kebutuhan pokok digital di Indonesia. "Pasar ini akan tumbuh lebih lanjut, dipercepat oleh pandemi Covid-19," katanya dalam siaran pers, Selasa (16/2).

Selain itu, pagebluk virus corona membuat adopsi layanan belanja online naik dua sampai tiga kali lipat sepanjang tahun lalu. Rincian produk yang paling banyak dibeli dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

L.E.K Consulting mencatat, 65% pembeli memilih berbelanja kebutuhan pokok melalui layanan digital karena alasan kenyamanan.

Selama pandemi, L.E.K Consulting juga mencatat adanya pertumbuhan jumlah pembeli kebutuhan pokok dari kalangan muda. Sebanyak 65% populasi di bawah 44 tahun dan berdomisili perkotaan menunjukkan perilaku pembelian yang impulsif.

"Pembeli yang lebih muda cenderung melakukan pembelian online. Jenis konsumen yang cerdas ini meningkatkan permintaan untuk bahan makanan secara digiral," kata Manas.

Sebelumnya, riset Facebook dan Bain & Company menunjukkan, 44% konsumen di Asia Tenggara berbelanja bahan pokok secara online selama pandemi corona. Kedua perusahaan memperkirakan, kebiasaan ini tetap menjadi tren meski memasuki normal baru (new normal) atau setelah pandemi usai.

Riset YouGov di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam pada April 2020 juga menunjukkan, berbelanja bahan pokok melalui e-commerce atau media sosial meningkat drastis. Sekitar 80% dari konsumen pengguna internet berencana terus berbelanja bahan makanan secara online.

Selain itu, 77% konsumen lebih sering menyiapkan makanan di rumah ketimbang membeli ataupun makan di restoran.

Melihat potensi tersebut, para startup mulai merambah sektor ini dengan menawarkan layanan offline-to-online (O2O), pasar online maupun agregator. Gojek misalnya, meluncurkan GoToko dan GoStore,

Decacorn Tanah Air itu juga memperkuat layanan GoShop dan GoMart. "Untuk bisnis kebutuhan pokok sebenarnya tumbuh sekitar tujuh hingga delapan kali lipat," ujar Co-CEO Gojek Kevin Aluwi saat wawancara dalam program Squawk Box CNBC, bulan lalu (27/1).

Grab juga mengembangkan GrabMart karena permintaan meningkat selama pandemi. Tahun lalu, decacorn Singapura itu menjalin aliansi usaha dengan gerai ritel Grup Lippo. 

Perusahaan penyedia layanan on-demand itu juga menggandeng PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Matahari bisa membuat toko virtual Hypermart, Foodmart, Primo dan Hyfresh pada fitur GrabMart.

Dengan begitu, konsumen Grab dapat berbelanja bahan pokok, produk segar hingga kebutuhan rumah tangga dalam satu aplikasi.

Para e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee juga memperkuat fitur kebutuhan bahan pokok.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Video Pilihan

Artikel Terkait