Riset: Porsi Talenta Digital 19%, RI Butuh 110 Juta Ahli pada 2025

Riset AWS menunjukkan, baru 19% dari total angkatan kerja di Indonesia yang ahli di bidang digital. Padahal, AWS menilai, butuh 110 juta talenta digital baru untuk mendukung perekonomian pada 2025.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
23 Februari 2021, 15:30
Riset: Porsi Talenta Digital 19%, RI Butuh 110 Juta Ahli pada 2025
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Pengunjung melihat alat teknologi robot pada Pameran Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E) 2019 di Jakarta Convention Center, Kamis (3/10/2019).

Riset Amazon Web Services, Inc. (AWS) dan firma konsultan bidang strategi dan ekonomi, AlphaBeta menunjukkan, hanya 19% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang digital. Padahal, Nusantara butuh 110 juta talenta digital baru untuk mendukung ekonomi pada 2025.

Laporan bertajuk ‘Unlocking APAC’s Digital Potential: Changing Digital Skill Needs and Policy Approaches’ tersebut berdasarkan survei terhadap 3.000 pekerja digital di Asia Pasifik. Lebih dari 500 di antaranya di Indonesia.

Berdasarkan riset tersebut, 59% pekerja digital di Indonesia belum mengoptimalkan penerapan kecakapan di bidang komputasi awan (cloud). Padahal, AWS dan AlphaBeta  menilai bahwa keahlian ini sangat dibutuhkan pada 2025.

“Rata-rata pekerja Indonesia perlu mengembangkan tujuh kecakapan digital mutakhir dalam kurun waktu lima tahun ke depan agar mampu selaras dengan dinamika perkembangan dan kebutuhan teknologi,” demikian isi laporan, dikutip dari siaran pers, Selasa (23/2).

Kecakapan digital itu seperti memelajari cara menggunakan platform komunikasi online, perangkat lunak yang mendukung kolaborasi hingga keahlian tingkat lanjut seperti desain arsitektur cloud. “Butuh sekitar 946 juta pelatihan kecakapan digital pada 2025 agar pertumbuhan ekonomi yang semakin inklusif,” demikian dikutip.

Riset itu juga menyoroti pentingnya penguasaan di bidang cloud bagi sektor-sektor nonteknologi. Sebanyak 43% pekerja digital di sektor manufaktur misalnya, yakin bahwa mereka perlu menguasai desain arsitektur cloud.

Hal itu karena adopsi cloud di sektor manufaktur diprediksi meningkat, karena mengoptimalkan rantai suplai. Selain itu, peningkatan keahlian diperlukan menimbang kondisi peranti yang ada saat ini.

Sebanyak 48% pekerja digital di sektor manufaktur juga yakin bahwa mereka perlu menguasai kecakapan di bidang pemodelan data dalam skala besar pada 2025. Sebab, ini membantu manufaktur menentukan waktu yang tepat dalam memesan di rantai suplai industri.

Teknologi pemodelan data mendukung perusahaan di sektor manufaktur dalam memperhitungkan kebutuhan terkait perawatan mesin atau pemeliharaan perangka.

Oleh karena itu, AWS bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk mendukung revitalisasi kurikulum di lima universitas. Kelimanya bakal mengintegrasikan konten edukasi yang dirancang oleh AWS ke dalam kurikulum.

Dengan begitu, siswa akan bisa memelajari dasar-dasar mengenai cloud dan teknologi terkait seperti keamanan siber, analitik data, machine learning hingga Internet of Things (IoT). “Ini agar mereka dapat mengikuti setiap perkembangan dan dinamika yang terjadi di kancah industri,” Managing Director for ASEAN, Worldwide Public Sector AWS Tan Lee Chew.

AWS juga menyediakan serangkaian kegiatan pelatihan gratis yang mencakup lebih dari 80 kursus dalam bahasa Indonesia, laboratorium interaktif, dan sesi-sesi pelatihan virtual. Selain itu, menawarkan kepada siswa konten pembelajaran mandiri secara online, yang mengulas tentang karier seperti cloud engineer, cybersecurity specialist, machine learning scientist, dan data scientist.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait