Pertarungan Gojek, Grab, Induk Shopee di Bisnis Bank Digital Indonesia

Gojek menambah investasinya di Bank Jago. Induk Shopee menjadi pemegang saham di BKE. Sedangkan Grab dikabarkan berminat masuk ke Bank Capital.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
26 Februari 2021, 15:50
Pertempuran Gojek, Grab, Induk Shopee di Bisnis Bank Digital Indonesia
123RF.com
Ilustrasi
  • Gojek menambah investasinya di Bank Jago
  • Induk Shopee, Sea Group resmi berinvestasi di BKE dan mengubah nama bank ini menjadi SeaBank
  • Grab dikabarkan berminat untuk berinvestasi di Bank Capital

Decacorn Tanah Air Gojek bertempur dengan induk Shopee, Sea Group yang merambah bank digital di Indonesia lewat Bank Kesejahteraan Ekonomi atau SeaBank. Startup jumbo asal Singapura lainnya, Grab juga dikabarkan berminat masuk ke Bank Capital.

Gojek atau Aplikasi Karya Anak Bangsa kembali berinvestasi Rp 1,32 triliun di Bank Jago lewat pembelian saham baru alias rights issue, melalui anak usahanya Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay). Sebelumnya, decacorn ini menyuntikkan Rp 2,25 triliun ke bank digital tersebut.

Chief of Corporate Affairs Gojek Group Nila Marita menyampaikan, partisipasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. “Ini juga mencerminkan komitmen kuat kami untuk bekerja sama dengan Bank Jago dalam mempercepat inklusi keuangan di Indonesia,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (26/2).

Bank Jago akan menerbitkan tiga miliar saham baru. Perseroan menargetkan dapat meraup dana hingga Rp 7 triliun lewat aksi korporasi ini.

Perseroan berencana menggunakan dana segar itu untuk ekspansi. Salah satunya, akan segera meluncurkan layanan perbankan digital Life Finance Solution dan aplikasi untuk bisnis.

Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar pun mengatakan, perusahaan akan terus meningkatkan kolaborasi dengan ekosistem digital. “Dengan integrasi ke platform di masing-masing ekosistem digital yang menjadi mitra," katanya saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (26/2).

Gojek investasi di Bank Jago
Gojek investasi di Bank Jago (Gojek)

Pada Desember 2020, Co-CEO Gojek Andre Soelistyo menyampaikan bahwa investasi perusahaan di Bank Jago merupakan bagian dari rencana jangka panjang dan kemitraan strategis. “Ini akan memperkuat pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis Gojek ke depan,” kata dia dalam siaran pers, akhir tahun lalu (18/12/2020).

Lewat investasi dan kolaborasi itu, pengguna dapat membuka tabungan di Bank Jago melalui aplikasi Gojek. Kemitraan ini juga dinilai membuka potensi kerja sama dengan berbagai institusi keuangan dan perbankan lain untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

“Melalui kolaborasi ini, kami juga dapat mengembangkan model agar bisa bermitra dengan berbagai institusi perbankan lainnya,” kata Andre.

Gojek memiliki tiga bisnis inti yakni transportasi atau berbagi tumpangan (ride hailing), pesan-antar makanan, dan pembayaran. Decacorn itu juga merambah banyak layanan.

Yang terbaru, startup jumbo itu menyediakan solusi digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat GoToko. Lalu, merambah bisnis social-commerce atau perdagangan berbasis media sosial melalui GoStore.

Rincian gurita bisnis Gojek dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Layanan

Gojek

Transportasi

GoRide

GoCar

GoBlueBird

Investasi di Pathao, Bangladesh

Pesan-antar makanan

GoFood

Cloud Kitchen

Dapur Bersama

Investasi di startup cloud kitchen India, Rebel Foods

Kebutuhan sehari-hari

GoShop

GoMart

GoMall

GoStore

Investasi di Mall91, India lewat GoVentures

Pengiriman barang

GoSend

GoBox

Keuangan

GoSure (asuransi)

GoInvest (investasi)

Paylater

Bank digital, Bank Jago

Akuisisi Coins.ph di Filipina

Pembayaran

GoPay

GoBills

GoPulsa

GoGive

Iklan

GoScreen

Layanan UMKM

GoBiz

GoToko

Akuisisi Moka

Kesehatan

GoMed (dengan Halodoc)

Unit investasi

GoVentures

Program akselerasi

Xcelerate

 

Hiburan

GoTix

GoPlay

GoGames

Investasi di Mobile Premier League, India

Ekonomi Hijau

GoGreener (kemitraan dengan Jejak.in)

Lainnya

GoServices

GoFitness

Sumber: Gojek, CB Insights

Gojek pun menggaet sekitar 250 ribu UMKM mitra baru sepanjang tahun lalu. UMKM ini seringkali diincar oleh para pemberi pinjaman.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mencatat, kekurangan akses kredit atau credit gap untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan UMKM nasional Rp 989 triliun. Baru 7,3% yang dapat dipenuhi per tahun lalu.

Sedangkan jumlah UMKM di Tanah Air lebih dari 64 juta. Rincian perkembangannya dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Selain UMKM, Gojek memiliki dua juta lebih mitra pengemudi. Ini juga menjadi pasar yang bisa digarap Bank Jago di ekosistem decacorn tersebut.

 Gojek

Cakupan*

4 negara

Mitra pengemudi

2 juta

Mitra penjual

900 ribu

Jumlah unduhan

190 juta kali

Pengguna aktif bulanan

38 juta

Valuasi

US$ 10,5 miliar

Sumber: Gojek (data per Januari)

Akan tetapi, pesaing Gojek yakni Grab juga dikabarkan berencana masuk ke bisnis digital di Tanah Air. Decacorn Singapura ini disebut-sebut tertarik berinvestasi di Bank Capital.

Direktur Utama Bank Capital Wahyu Dwi Aji membenarkan hal ini. “Tetapi, bukan hanya Grab (yang berminat),” kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (25/2).

Sedangkan Grab enggan menanggapi kabar tersebut. “Kami tidak berkomentar mengenai rumor yang beredar di pasar,” ujar juru bicara Grab.

Grab juga memiliki ekosistem yang luas. Startup jumbo ini pun menggaet 450 ribu UMKM baru selama 10 bulan pada tahun lalu.

Secara total, Grab memiliki sekitar sembilan juta mitra. Rinciannya sebagai berikut:

Grab

Cakupan

8 negara

Mitra pengemudi

9 juta (keseluruhan)

Mitra penjual

Jumlah unduhan

205 juta kali

Pengguna aktif bulanan

-

Valuasi

US$ 14 miliar

Sumber: Grab, CB Insights (data per akhir 2020)

Sedangkan tentakel bisnis Grab dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:

Layanan

Grab

Transportasi

GrabBike

GrabCar

GrabTaxi

Sewa

Wheels

Pesan-antar makanan

GrabFood

Cloud Kitchen

GrabKitchen

Kebutuhan sehari-hari

GrabMart

GrabFresh (dengan HappyFresh di Indonesia)

GrabSupermarket (Malaysia)

Pengiriman barang

GrabExpress Bike

GrabExpress Car

Investasi di Ninja Van, Singapura

Keuangan

Grab Financial (asuransi, investasi, pinjaman, dan lainnya)

Bank digital di Singapura

Pembayaran

GrabPay (selain Indonesia)

Investasi di Indonesia:

·         OVO

·         LinkAja

Iklan

GrabAds

Investasi di StickEarn

Layanan UMKM

GrabMerchant

GrabKios

Akuisisi Kudo

Kesehatan

GrabHealth (dengan Good Doctor)

Unit investasi

Grab Ventures

Program akselerasi

Grab Venture Velocity

Lainnya

Pemesanan hotel (Grab investasi di OYO)

Pemesanan tiket perjalanan

Sumber: Gojek, Grab, CB Insights

Konsorsium Grab dan Singapore Telecommunications Limited juga memperoleh lisensi bank digital penuh atau digital full bank (DFB) dari otoritas moneter Singapura alias Monetary Authority of Singapore (MAS) pada akhir tahun lalu.

Grab pun memperkuat lini bisnis keuangannya, Grab Financial Group (GFG). GFG meraih pendanaan seri A US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun.

Investasi itu dipimpin oleh Hanwha Asset Management Korea Selatan. Investor lain yang terlibat dalam putaran pendanaan yakni K3 Ventures, GGV Capital, Arbor Ventures, dan Flourish Ventures.

“Kami menggalang dana khusus untuk GFG karena terlepas dari pertumbuhan bisnis yang kuat, kenyataannya jutaan orang dan bisnis kecil masih kekurangan akses yang terjangkau dan transparan ke layanan keuangan,” kata Senior Managing Director GFG Reuben Lai dikutip dari siaran pers, bulan lalu (14/1).

Dikutip dari Reuters, para analis menilai bahwa lisensi bank digital yang dimiliki oleh konsorsium Grab-Singtel dan induk Shopee, berdampak kecil terhadap tiga bank lokal di Singapura yakni DBS Group Holdings, Oversea-Chinese Banking Corp dan United Overseas Bank.

Induk Shopee, Sea Group memang memperoleh lisensi DFB dari MAS. Dikutip dari laman resmi MAS, DFB diizinkan untuk mengambil simpanan dari dan menyediakan layanan perbankan untuk segmen nasabah individu atau retail dan non-retail.

Para analis menilai, Grab dan Sea Group dapat menggunakan kesempatan itu untuk memperluas layanan ke pasar Asia Tenggara lainnya.

Perkiraan itu terbukti. Sea Group resmi masuk ke bisnis bank digital Indonesia lewat SeaBank. Sedangkan Grab disebut-sebut tertarik merambah layanan digital Bank Capital.

Sea Group menjadi pemegang saham pengendali Bank Kesejahteraan Ekonomi. Bank BKE pun resmi berganti nama menjadi Bank Seabank Indonesia atau SeaBank.

Kini, induk usaha Garena itu disebut-sebut mengincar Bank Capital dan Bank Bumi Arta (BNBA). Namun, tim humas Shopee belum memberikan tanggapan terkait isu tersebut.

Pasar yang bisa dijangkau oleh SeaBank di ekosistem Sea Group cukup besar. Emiten yang melantai di bursa saham AS ini memiliki bisnis e-commerce lewat Shopee, gim online melalui Garena, dan layanan keuangan SeaMoney.

Berdasarkan data iPrice, Shopee memimpin dari sisi jumlah kunjungan di Asia Tenggara. Rinciannya dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Shopee pun memperluas pasar di luar regional, yakni Meksiko dan Brasil.

Sedangkan Garena mengembangkan banyak gim seperti Free Fire, Speed Drifters, Contra Returns, Call of Duty, AOV, Fantasy Town, dan League of Legends.

Di bisnis keuangan, Sea Group memiliki ShopeePay yang hadir di Indonesia. Berdasarkan beberapa survei, fintech ini unggul di Tanah Air, sebagaimana Databoks berikut:

Dengan ekosistem yang besar, Gojek, Grab, dan Sea Group bertarung di bisnis bank digital Tanah Air.

Sebelumnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute Agus Sugiarto menilai bahwa bisnis neo bank atau layanan bank digital tanpa adanya kontak fisik (virtual banking) sangat menjanjikan. Alasannya, pengguna internet di Indonesia hampir 200 juta orang.

Selain itu, berdasarkan survei OJK, indeks inklusi keuangan Indonesia hanya 76,19%. “Potensinya luar biasa besar sekali," ujar Agus dalam diskusi online bertajuk ‘Traditional Bank vs Neobank’, September tahun lalu (17/11/2020).

Kemudian, penjualan ponsel pintar (smartphone) di Indonesia mencapai 338 juta unit tahun ini atau melebihi jumlah penduduk. Angkanya tertera pada Databoks di bawah ini:

Selama pandemi Covid-19, masyarakat juga semakin terbiasa menggunakan layanan digital. “Terakhir, potensinya besar karena belum ada neobank yang beroperasi secara resmi di Indonesia," kata Agus.

The pandemic has led Indonesia to revisit its roadmap to the future. This year, we invite our distinguished panel and audience to examine this simple yet impactful statement:

Reimagining Indonesia’s Future

Join us in envisioning a bright future for Indonesia, in a post-pandemic world and beyond at Indonesia Data and Economic Conference 2021. Register Now Here!

Video Pilihan

Artikel Terkait