Tren Konsolidasi, Startup Solusi E-Commerce Sirclo Akuisisi Orami

Startup solusi e-commerce Sirclo mengakuisisi Orami. Beberapa riset menunjukkan, perusahaan rintisan Indonesia akan masif merger dan akuisisi tahun ini.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
8 April 2021, 10:27
Tren Konsolidasi, Startup Solusi E-Commerce Sirclo Akuisisi Orami
sirclo
Para pimpinan Sirclo

Startup solusi e-commerce Sirclo mengakuisisi perusahaan rintisan pengasuhan anak (parenting) Orami. Beberapa riset menunjukkan, startup Indonesia bakal masif merger dan akuisisi tahun ini.

Sirclo dan Orami tidak memerinci besaran akuisisinya. Namun, gabungan keduanya memiliki sekitar 1.000 karyawan.

Dengan kesepakatan itu, CEO Orami Ferry Tenka bergabung dengan Sirclo sebagai Chief Marketing Officer (CMO). Sedangkan Presiden Orami Hendrawan Kartika menjadi Chief Financial Officer (CFO) Sirclo.

Sirclo merupakan salah portofolio East Ventures. "Akuisisi ini langkah strategis yang akan mempercepat kemampuan Sirclo dalam melayani UMKM dengan lebih baik,” kata Co-Founder sekaligus Managing Partner East Ventures Willson dikutip dari Tech In Asia, Rabu (7/4).

Perusahaan rintisan tersebut menyediakan layanan yang membantu pemegang merek (brand) berjualan online. Ada empat solusi bisnis yang disediakan yakni Sirclo Store, Sirclo Connexi, Sirclo Chat, dan Sirclo Commerce.

Tahun lalu Sirclo membuka pusat fulfilment. Lalu, berencana meningkatkan layanan Sirclo Store untuk menyediakan platform terintegrasi semua kanal penjualan seperti brand.com, marketplace, dan chat commerce.

Sirclo Store merupakan platform Software as a Service (SaaS) untuk membuat situs toko online berbasis template bagi bisnis lokal skala kecil hingga menengah. Layanan ini diminati saat pandemi corona, karena banyak perusahaan beralih ke pemasaran dan penjualan online.

Sedangkan Sirclo Commerce memfasilitasi seluruh proses penjualan online, mulai dari pengaturan stok, proses pemesanan, pengiriman produk sampai layanan konsumen.

Pada tahun lalu, Sirclo mencatatkan pendapatan operasional bersih positif. Sedangkan omset gabungan Sirclo mencapai US$ 227,6 juta atau Rp 3,3 triliun.

Sirclo juga mengumumkan penutupan pendanaan Seri B US$ 6 juta atau sekitar Rp 88 miliar pada tahun lalu. Investor yang berpartisipasi yakni East Ventures, OCBC NISP Ventura, Skystar Capital, Sinar Mas Land, dan lainnya. 

Pada 2020, Sirclo juga merger dengan agensi penyedia teknologi dan solusi e-commerce Icube. Aksi korporasi ini memungkinkan keduanya menggabungkan ribuan klien, sekaligus menyatukan kekuatan.

Sedangkan startup Orami memiliki empat layanan. Pertama, Orami Commerce dengan sembilan kategori produk yakni Kids, Fashion, Geras, Popok, Makanan Anak, Perlengkapan Bayi, Perlengkapan Berpergian Bayi, Perlengkapan Ibu, Mainan, serta Susu & Nutrisi Anak.

Kedua, Orami Content yang menawarkan puluhan ribu artikel mengenai dunia pengasuhan anak yang dikurasi oleh para ahli seperti dokter, psikolog, serta pakar finansial dan kesehatan. Topik-topik yang dibahas seputar kehamilan, bayi, balita dan anak, gaya hidup, keluarga, dan hiburan.

Ketiga, Orami Community atau komunitas bagi para ibu di Indonesia. Pengguna bisa mengobrol dengan berbagai komunitas hingga mengikuti kelas konsultasi online (ROOMPI) bersama para pakar setiap harinya dalam sesi tertentu.

Keempat, Orami Entrepreneurship Program yang menyasar ibu rumah tangga yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual beragam produk di Orami kepada orang-orang di sekitar. Pengguna bisa memperoleh keuntungan 30% dari harga produk yang dijual.

Tren Merger dan Akuisisi Startup Indonesia pada 2021

Selain Sirclo, Warung Pintar mengakuisisi perusahaan rintisan logistik, Bizzy Digital pada Februari. Aksi ini untuk memperkuat posisi korporasi di pasar e-commerce business to business (B2B) Indonesia dan mendukung rencana ekspansi.

Perusahaan jasa profesional asal Inggris, Ernst & Young (EY) memperkirakan bahwa startup Indonesia masif merger dan akuisisi tahun ini. Ini bertujuan mendapatkan untung pada 2022.

Dalam laporan berjudul EY Global Capital Confidence Barometer, 37% perusahaan berencana melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi secara aktif selama pandemi Covid-19. Ketika ditanya terkait strategi setahun, setelah awal pandemi 2020 lalu, 13% perusahaan mempertimbangkan untuk mengakuisisi.

Itu bertujuan mengambil potensi pertumbuhan baru. "Transaksi akuisisi akan terus terjadi," kata Strategy and Transactions Leader EY Indonesia David Rimbo saat konferensi pers virtual, Rabu (7/4).

Laporan Cento Ventures bertajuk Southeast Asia Tech Investment 2020 yang dirilis akhir pekan lalu juga menunjukkan hal serupa. Indonesia dan Singapura menjadi negara yang paling banyak melakukan aksi likuidasi startup.

Berdasarkan alokasi dana likuidasi, Singapura menyumbang hampir setengah dari dana keluar se-Asia Tenggara atau mencapai 45%. Sedangkan Indonesia 16%.

Namun, berdasarkan pangsa peristiwa, startup Indonesia yang paling banyak yakni 32% di Asia Tenggara. Lalu Singapura 30%.

Langkah likuidasi startup di Asia Tenggara didorong oleh sektor ritel seperti akuisisi Alibaba terhadap Lazada dan beberapa platform e-commerce. Likuidasi sektor ritel mencapai 27% dari total.

Sektor lainnya yakni layanan lokal 19%, hiburan non-game 16%, dan pembayaran 12%. Di Indonesia, sektor teknologi finansial (fintech), e-commerce, dan kesehatan berpotensi masif melakukan merger dan akuisisi pada tahun ini.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Video Pilihan

Artikel Terkait