Accelerating Asia Siapkan Rp2 T bagi 11 Startup, Salah Satunya dari RI

Ada 11 startup yang lolos program akselerasi Accelerating Asia, salah satunya dari Indonesia yakni TransTRACK.ID. Mereka akan menerima investasi hingga S$ 200 juta.
Image title
13 April 2021, 19:21
Accelerating Asia Siapkan Rp2 T bagi 11 Startup, Salah Satunya dari RI
123RF.com
Ilustrasi startup

Perusahaan modal ventura dan akselerator internasional, Accelerating Asia menggelar program akselerasi startup cohort keempat. Ada 11 perusahaan rintisan yang lolos, salah satunya dari Indonesia yakni TransTRACK.ID.

Accelerating Asia menyiapkan S$ 200 juta atau sekitar Rp 2,2 triliun untuk peserta yang lolos. “Startup terpilih akan menjadi bagian dari cohort dan berhak menerima investasi hingga S$ 200 dari modal ventura kami,” kata Co-Founder dan General Partner Accelerating Asia Amra Naido saat konferensi pers virtual, Selasa (13/4).

Accelerating Asia menyeleksi 500 startup dari 30 negara untuk program cohort keempat. Namun, hanya 2% atau 11 perusahaan rintisan yang terpilih.

Mereka akan mengikuti program akselerasi selama 100 hari. Puncaknya berupa Demo Day online yang digelar pada 17 Juni.

Advertisement

Amra mengatakan, 11 startup tersebut telah menjalani sebulan masa akselerasi. Mereka telah mengumpulkan modal lebih dari S$ 6 juta atau Rp 64 miliar.

Meski baru sebulan, rata-rata pertumbuhan startup tersebut 30% dibandingkan bulan sebelumnya. Pendapatan startup asal Indonesia TransTRACK.ID misalnya, meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal pandemi atau Maret 2020. 

Perusahaan rintisan itu mengumpulkan data untuk melacak, menganalisis, dan meningkatkan operasi transportasi. TransTRACK.ID menyediakan pengumpulan data dari armada, pengemudi dan aset bagi industri. 

"Kami membantu pelanggan meningkatkan layanan transportasi, terutama pemain logistik, selama pandemi Covid-19. Ini karena potensial," kata Co-founder sekaligus CEO TransTRACK.ID Anggia Meisesari.

Selain TransTRACK.ID, startup yang lolos yakni Amar Lab, Casa Mia, DoctorKoi, Drive Lah, HandyMama, Independents, Kopi Date, Mobiliti, Swap, dan Waitrr.

Amar Lab asal Bangladesh memberdayakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dengan layanan diagnostik sesuai permintaan atau on-demand. Perusahaan telah melayani dan mengirimkan lebih dari 10 ribu tes diagnostik, termasuk Covid-19 untuk klien individu dan korporat. 

Sedangkan Waittr menawarkan platform pemesanan dan pembayaran berbasis kode Quick Response (QR) untuk restoran. Basis klien perusahaan meliputi merek makanan dan minuman.

Co-Founder sekaligus General Partner di Accelerating Asia Craig Dixon mengatakan, Amar Lab dan Waitrr diuntungkan oleh dinamika pasar yang berubah imbas pandemi corona. "Mereka berada di posisi yang tepat untuk pertumbuhan jangka panjang," katanya.

Craig menilai, sektor lain yang berpotensi tumbuh besar yakni logistik dan e-commerce. "Logistik memiliki pertumbuhan terbesar. Dia mendukung infrastruktur, sarana dan prasarana lainnya," ujarnya.

Craig mengatakan bahwa Acceleration Asia akan memfasilitasi 11 startup hasil akselerasi yang lulus dengan berbagai kemitraan baik pemerintah maupun investor. Selain itu, membuat program pendukung untuk mengembangkan ekosistem.

Terdapat program Amplify yakni akselerator virtual dengan enam modul. Tujuannya memberikan akses kepada startup ke jaringan papan atas untuk menumbuhkan bisnis. 

Selain itu, ada program Angel360 yang berisi angel investing virtual yang menyediakan panduan terkait investasi dari investor di Asia.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait