Tokopedia dan Bukalapak Langsung Blokir Produk Sianida di Platform

Warganet menyoroti sianida yang dijual di e-commerce, setelah pelaku kasus satu beracun di Bantul terungkap. Tokopedia dan Bukalapak langsung memblokir produk tersebut.
Image title
4 Mei 2021, 15:28
Tokopedia dan Bukalapak Langsung Blokir Produk Sianida di Platform
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Warganet menyoroti sianida yang dijual di e-commerce, setelah pelaku kasus satu beracun di Bantul terungkap. Tokopedia dan Bukalapak menyatakan langsung memblokir produk ini di platform.

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan, perusahaan menerima laporan adanya produk dengan kandungan senyawa sianida di platform. Aduan ini muncul setelah kasus sate beracun terkuak.

"Saat ini, kami terus menindaklanjuti laporan tersebut sesuai prosedur, dengan menurunkan produk yang dimaksud," kata Ekhel kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5).

Ia menyampaikan, Tokopedia selalu menindak tegas segala bentuk penyalahgunaan platform atau pelanggaran hukum yang berlaku di Indonesia. Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh Tokopedia yaitu pemblokiran produk dan akun penjual.

Tokopedia juga memiliki kebijakan khusus, terkait produk apa saja yang bisa diperjualbelikan di platform. "Kami juga memiliki fitur pelaporan penyalahgunaan," kata dia.

Bukalapak juga menyisir produk-produk yang mengandung senyawa sianida di platform. "Kami telah menurunkan semua produk sianida supaya tidak dapat dibeli oleh pengguna," kata AVP Marketplace Strategy and Merchant Policy Bukalapak Baskara Aditama kepada Katadata.co.id.

Perusahaan mengklaim rutin memonitor jenis barang yang dijual. "Ini untuk memastikan kepatuhan kami pada aturan yang berlaku," katanya.

Pengguna juga dapat melaporkan produk ilegal melalui layanan BukaBantuan.

Katadata.co.id sudah meminta tanggapan dari Shopee perihal penjualan produk mengandung senyawa sianida di platform. Namun, belum ada juga respons hingga berita ini diturunkan.

Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, kata kunci ‘potassium cyanide shopee’ muncul di situs pencarian Google. Nama produk KCN-Potassium Cyanide 10 gram, dengan deskripsi “perlu lima gram untuk satu liter air sepuh emas,” demikian dikutip.

Ada juga produk berjudul NaCN Sodium Cyanide 1 Kg. Deskripsi menyebutkan, produk ini mengandung NaCN 99%. NaCN ialah senyawa natrium sianida yang memiliki afinitas tinggi terhadap logam, sehingga sangat beracun.

Meski begitu, tidak ada tampilan produk ketika kedua tautan itu diklik.

Katadata.co.id juga menemukan produk dengan kata kunci ‘potassium cyanide Tokopedia’. Salah satunya berjudul Kaliumcyanide-Potassium cyanide-104967-1 kg yang dijual Rp 8.362.500. Di Lazada juga terdapat produk dengan judul NaCN - Sodium Cyanide - 250 gram.

Namun, kedua tautan itu juga tidak muncul ketika diklik.

Katadata.co.id melakukan pencarian dengan kata kunci serupa untuk Bukalapak. Muncul tautan tentang penjual produk mengandung senyawa sianida, tetapi tertulis bahwa stok barang habis.

Di satu sisi, warganet menyoroti sianida yang dijual online setelah pelaku kasus sate beracun di Bantul teringkap. Kejadian ini menewaskan anak berinisial N.

Pada 25 April lalu, seorang pengemudi ojek online di Yogyakarta didatangi perempuan yang meminta bantuan pengiriman dua dos makanan berisi sate ayam dan makanan ringan.

Makanan kemudian diantar ke tujuan pengiriman. Namun, penerima menolak makanan itu dan memberikannya kepada pengemudi ojek online.

Pengemudi itu kemudian membawa makanannya ke rumah. Sampai di rumah, sate dimakan oleh istri dan anak pengemudi. Namun, anak tersebut meninggal dunia.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak kepolisian, sate tersebut mengandung senyawa sianida. Direktur Reserse Kriminal Umum, Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Dirreskrimum Polda DIY) Kombes Pol Burkan Rudy Satria mengatakan, senyawa sianida itu dipesan tersangka melalui aplikasi jual beli online.

"Kami simpulkan bahwa ini sudah dirancang beberapa hari atau minggu sebelumnya. Ini karena pesanan KCN kira-kira tiga bulan sebelum peristiwa," kata Rudy dikutip dari Antara, Senin (3/5).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait