Tiru Gojek dan Grab, Fintech Amartha Bidik Warung saat Pandemi

Gojek dan Grab gencar menggaet warung sejak pandemi corona tahun lalu. Kini giliran fintech lending Amartha. Bagaimana potensi bisnis warung bagi startup?
Fahmi Ahmad Burhan
19 Juli 2021, 14:23
Tiru Gojek dan Grab, Fintech Amartha Bidik Warung saat Pandemi
Katadata/Desy Setyowati
CEO and Founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra (kedua dari kiri) saat acara Amartha di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Gojek dan Grab gencar menggaet warung sejak pandemi corona tahun lalu. Kini giliran startup teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) Amartha yang menyasar toko kelontong.

Chief Commercial Officer Amartha Hadi Wenas mengatakan, perusahaan menyediakan dua layanan untuk warung di aplikasi khusus yakni Amartha Plus. Pertama, Warung Loan Mitra untuk pembayaran listrik, pulsa hingga stok belanja bagi mitra.

Kedua, Warung Loan Non-mitra. Amartha bekerja sama dengan jaringan warung Sampoerna Ritel Community (SRC) untuk memberikan opsi pembayaran terintegrasi. Amartha juga memberikan modal berupa barang atau suplai kebutuhan warung.

Keduanya itu tersedia sejak bulan lalu. Saat ini, layanan untuk non-mitra tersedia di Jawa Timur dan Sumatera Barat.

Advertisement

Wenas mengatakan, perusahaan mengincar warung karena banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mendigitalisasikan bisnis saat pandemi virus corona. "Layanan ini membantu ibu-ibu untuk lebih terdigitalisasi," kata dia.

Potensi warung di Indonesia juga besar. Riset Euromonitor International 2018 menunjukkan, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina lebih suka berbelanja di toko kelontong.

Perusahaan sekuritas CLSA juga mencatat, biaya akuisisi konsumen alias customer acquisition costs (CACs) melalui mitra warung sekitar 10-20% yakni US$ 2 per pelanggan atau kurang dari Rp 30.000. Bianya lebih murah dibandingkan cara umum.

Selain itu, layanan online to offline (O2O) seperti warung, berkontribusi 10% terhadap total pengguna baru di e-commerce. Tokopedia dan Bukalapak pun menyasar warung.

Pendiri sekaligus CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, upaya perusahaan menyasar warung merupakan bagian untuk mencapai target satu juta mitra perempuan tahun ini. "Kami buat produk spesifik warung agar ada lebih banyak UMKM yang terdigitalisasi," katanya.

Saat ini, Amartha menggaet 200 ribu lebih mitra UMKM perempuan. Pada semester pertama, fintech lending ini menyalurkan pinjaman Rp 914 miliar atau tumbuh 35% secara tahunan (year on year/yoy).

Selain warung, Amartha membidik pasar di luar Pulau Jawa. "Kami percaya diri tahun ini penetrasi segmen luar Jawa akan tinggi. Ini value proposition Amartha," kata Taufan.

Beberapa startup besar lainnya juga gencar menyasar warung. Gojek misalnya, meluncurkan platform GoToko dengan model business to business (B2B) tahun lalu.

Decacorn Tanah Air itu menghadirkan solusi usaha dari hulu ke hilir bagi para pemilik warung kelontong.

Grab lebih dulu menyediakan layanan seperti itu melalui GrabKios. Decacorn asal Singapura ini mengakuisisi startup digitalisasi warung, Kudo pada 2017, yang berubah nama menjadi GrabKios pada September 2019.

Bukalapak juga berfokus mengembangkan lini bisnis yang menyasar warung, yakni Mitra Bukalapak. "Kami menyiapkan strategi untuk fokus buka jaringan offline Mitra Bukalapak, terus digitalisasi warung dan memberikan infrastruktur tambahan buat mereka," kata CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin saat konferensi pers virtual, pekan lalu (9/7).

E-commerce bernuansa merah itu pun menggaet delapan juta Mitra Bukalapak. Rahmat mengklaim, Bukalapak menguasai 40% pasar digitalisasi warung.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait