E-Commerce Diminati, Pengiriman J&T dan FedEx hingga 2,5 Juta per Hari

Transaksi e-commerce meningkat di tengah pandemi corona. Permintaan layanan pengiriman J&T Express dan FedEx pun melonjak, hingga 2,5 juta per hari.
Desy Setyowati
13 Agustus 2021, 16:58
e-commerce, J&T Express, ekspor, umkm,
ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A/foc.
Seorang petugas menyortir barang pesanan konsumen di Warehouse Lazada, Depok, Jawa Barat, Kamis (17/12/2020).

Transaksi e-commerce meningkat di tengah pandemi corona. Permintaan layanan pengiriman J&T Express dan FedEx pun melonjak, hingga 2,5 juta per hari.

CEO J&T Express Indonesia Robin Lo menyampaikan, jumlah pengguna mencapai 100 juta saat ini. “Pengiriman paket per hari mencapai 2,5 juta pada hari biasa dan akan meningkat saat peak season,” kata dia dalam keterangan pers, Kamis (12/8).

Untuk mendorong transaksi, J&T berfokus meluncurkan fitur baru. Selain itu, menyediakan promosi berupa gratis ongkos kirim 100% pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Ini berlaku untuk pemesanan via aplikasi, hotline, dan Drop Point J&T Express.

FedEx Express juga mencatatkan peningkatan permintaan pengiriman barang. Namun Vice President for Operations FedEx Express Southeast Asia Audrey Cheong tidak memerinci angkanya.

Ia hanya menyampaikan bahwa FedEx meningkatkan kapasitas penyortirannya menjadi 6.000 paket per jam. Ini untuk mengantisipasi kenaikan volume pengiriman di seluruh Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Gerbang di Jakarta juga diperbarui dengan menyediakan penyimpanan dingin kapasitas suhu -20°C, 0-8°C, dan 15-25°C. Ini memungkinkan pengiriman vaksin virus corona dan kebutuhan kesehatan lainnya.

Per Desember 2020, FedEx mencatat ada 3,8 juta Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia yang memperluas jangkauan pasar, dengan beralih ke digital. Anak usaha FedEx Corp ini pun optimistis, porsi ekspor UMKM meningkat dai 14,37% menjadi 15,12% pada akhir tahun.

Untuk itu, FedEx meluncurkan 69 pusat pelayanan di Indonesia. “Kami akan terus berupaya memberikan UKM Indonesia akses ke pasar internasional di seluruh dunia, apalagi dengan berkurangnya hambatan perdagangan lintas-batas akibat meningkatnya digitalisasi dan e-commerce yang berkembang pesat,” kata Audrey dalam keterangan pers, Jumat (13/8).

Di Indonesia, transaksi e-commerce memang meningkat selama pandemi Covid-19. Bank Indonesia (BI) mencatat, nominal transaksi e-commerce meningkat 29,6%.

Berdasarkan data portal pencarian dan reward di Asia Pasifik, ShopBack transaksi kategori kesehatan, kebutuhan sehari-hari atau groceries, dan elektronik meningkat selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM darurat.

Penjualan produk kesehatan naik tiga kali lipat atau 400%. Setidaknya ada tujuh jenis produk yang laris manis selama PPKM darurat yakni oximeter atau alat pengukur saturasi oksigen, cairan pembersih tangan alias hand sanitizer, madu, jamu, suplemen penambah imun, minyak kayu putih, dan vitamin C.

Transaksi pada kategori kebutuhan sehari-hari meningkat dua kali lipat selama PPKM darurat. Ada enam jenis produk yang diburu konsumen yaitu sabun mandi antiseptik, popok bayi, susu segar dan pasteurisasi, sayur dan buah-buahan, pembersih luar rumah, serta beras.

Pada kategori elektronik, ada enam jenis produk yang laris manis. Barang ini di antaranya mesin pembersih udara atau air purifier, mikser yang memiliki dudukan atau stand mixer, penanak nasi alias rice cooker, perangkat pintar atau smart devices, dan ponsel pintar (smartphone).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait