Taksi Terbang Asal Cina Hadir di Jakarta, Bisa Dioperasikan Jarak Jauh

Taksi terbang asal Cina Ehang 216 hadir di Jakarta pada Rabu (1/9). Kendaraan tanpa pilot ini bisa dikendalikan jarak jauh menggunakan internet 4G atau 5G.
Desy Setyowati
2 September 2021, 16:06
taksi terbang, cina
Instagram/@Ehang.indonesia
Taksi terbang Ehang

Taksi terbang asal Cina Ehang 216 hadir di Jakarta pada Rabu (1/9). Taksi terbang tanpa pilot ini diperkenalkan dalam ajang IIMS Hybrid 2021 pada April.

“Taksi terbang Ehang 216 sudah berada di showroom Prestige Image Motorcars, Jakarta Utara,” kata Ketua MPR Bambang Soesatyo melalui akun Instagram @bambang.soesatyo, Rabu (1/9).

Berdasarkan laman Ehang, taksi terbang itu memiliki konsep dengan tiga filosofi, Ketiganya yakni memastikan keamanan, pilot otonom, serta kontrol terpusat dan berbasis teknologi cerdas.

Perusahaan mengklaim, taksi terbang Ehang 216 merupakan kendaraan udara otonom kelas penumpang (autonomous aerial vehicle/AVV) dengan ketinggian rendah yang ramah lingkungan dan cerdas. “Menyediakan solusi transportasi jarak pendek dan menengah, ketinggian rendah untuk transportasi cerdas masa depan,” demikian dikutip.

Advertisement

Taksi terbang tersebut dapat mengangkat beban hingga 220 kilogram (kg). Kecepatan maksimalnya 130 kilometer per jam.

Jarak tempuh dengan beban maksimal bisa mencapai 35 km.

Taksi terbang EHang AAV menggunakan jaringan interner generasi keempat atau 4G dan 5G sebagai saluran transmisi nirkabel berkecepatan tinggi. Ini memungkinkan kendali jarak jauh pesawat dan transmisi data penerbangan secara real-time.

EHang AAV menggunakan tenaga listrik. Taksi terbang ini dapat diisi dengan catu daya 220V atau 380V paling cepat dalam satu jam. Perangkat pengisian daya terintegasi secara real time dengan Sistem Manajemen Baterai alias Battery Management System (BMS) pesawat.

Selain Ehang, Whitesky Aviation menawarkan moda transportasi taksi terbang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). CEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja mengatakan, kehadiran Helicity ini melengkapi moda tranportasi dari dan menuju bandara.

“Kami melihat bahwa pemerintah sangat agresif mengembangkan bandara dengan segala kemutakhiran teknologi. Saya pikir yang perlu dimutakhirkan juga yaitu multi-moda transportasi bandara,” ujar Denon sata berbincang dengan Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin melalui siaran langsung Instagram @angkasapura2, pada Februari (26/2).

Menurutnya Helicity atau taksi terbang akan menjadi role model pembangunan kelengkapan multi-moda transportasi bandara di masa depan. Ini karena akan mempersingkat akses dari dan menuju bandara.

Whitesky Aviation menerapkan tarif antara Rp 8 juta - Rp 20 juta untuk taksi terbang berkapasitas tiga sampai empat penumpang. Sedangkan helikopter VIP atau charter flight untuk empat hingga delapan penumpang harganya bisa lebih dari Rp 20 juta.

Grab menggandeng startup asal Jerman, Volocopter mengkaji potensi layanan taksi terbang di Asia Tenggara. Meski masih kajian, Volocopter menargetkan penerbangan komersial bisa dilakukan pada 2022.

Startup penyedia layanan mobilitas udara itu juga telah mendemonstrasikan helikopter listriknya atau electric vertical take-off and landing (eVTOL) di Singapura pada September 2019. Saat itu, perusahaan menyediakan landasannya yang disebut VoloPort.

Helikopter listrik itu dikembangkan Volocopter sejak 2011. eVTOL bahkan sudah diuji coba terbang melewati Dubai, Helsinki, Las Vegas, dan Stuttgart.

Kali ini, Volocopter bekerja sama denga perusahaan penyedia layanan on-demand, Grab mengkaji pasar taksi terbang di regional. Keduanya mempelajari rute yang paling cocok untuk layanan taksi udara ini.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait