Fintech Xendit Bidik UMKM di Tengah Maraknya Bank Digital

Fintech Xendit menyiapkan tiga cara untuk menggaet segmen UMKM di tengah maraknya bank digital. Startup ini menganggap bank digital pesaing?
Image title
6 September 2021, 17:43
fintech, xendit, bank digital, umkm
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww
Perajin melihat stok kerajinan aksesori koginsashi miliknya pada aplikasi jual beli di Asriku Kreasi, Depok, Jawa Barat, Minggu (1/8/2021).

Fintech atau teknologi finansial Xendit berfokus menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tahun ini. Startup ini menyiapkan tiga cara untuk menggaet segmen ini di tengah maraknya pemain bank digital.

Head of Corporate Communications Xendit Ami Windarti mengatakan, menyasar UMKM di sektor ritel, busana hingga kuliner. "Ini menyesuaikan dengan gaya hidup sekarang yang banyak sekali bertransformasi ke arah digital," ujarnya saat wawancara virtual dengan Katadata.co.id, Senin (6/9).

Fintech itu menyasar UMKM karena potensinya besar. Apalagi 15,3 juta dari 60 juta lebih UMKM di Tanah Air sudah beralih ke digital.

Advertisement

Xendit mencatatkan kenaikan jumlah pengguna dari segmen UMKM 140%. Saat ini, fintech itu telah digunakan oleh 1.500 pelanggan dari berbagai industri, mulai dari ritel, busana, industri finansial hingga penyedia produk digital.

Fintech tersebut pun menyiapkan tiga strategi untuk mengaet lebih banyak UMKM di tengah maraknya bank digital:

1. Program Xendit for SME

Xendit memberikan bebas biaya transaksi Rp 1 miliar per tahun bagi UMKM terpilih. Alokasi dana yang disiapkan perusahaan Rp 1 triliun.

"Ini kami buat karena ingin mempercepat akselerasi bisnis UMKM untuk go-digital," ujar Ami kepada Katadata.co.id, Senin (6/9).

2. Membuat fitur manajemen stok untuk UMKM digital

Fitur tersebut kini terintegrasi dengan platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan WooCommerce.

3. Menggaet komunitas UMKM

Itu dilakukan untuk mendorong edukasi. "Ini untuk memberikan literasi bisnis digital," kata Ami.

Fintech payment gateway yang berdiri sejak 2016 itu mencatatkan transaksi 65 juta kali dengan pembayaran US$ 6,5 miliar per tahun. Xendit juga mencatatkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 700%.

Menurut Ami, permintaan layanan pembayaran virtual account dan e-wallet paling diminati selama pandemi corona. Sebab, masyarakat Indonesia banyak bertransaksi menggunakan layanan digital untuk mengurangi risiko penularan virus corona.

Ia menyadari bahwa bank digital juga menyediakan layanan keuangan, termasuk yang menyasar UMKM. Namun menurut Ami, bank digital bukanlah pesaing.

Kehadiran bank digital dinilai memberi kesempatan bagi banyak orang untuk membuka rekening. Dengan begitu, semakin banyak yang bertransaksi secara digital. "Apalagi masyarakat unbanked masih banyak," katanya.

Masyarakat unbanked yakni yang belum terakses layanan keuangan.

Selain itu, maraknya bank digital dinilai membuka peluang kolaborasi. Ia menilai, bank digital masih membutuhkan integrasi pembayaran, salah satunya melalui layanan Xendit.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait