Raup Jutaan Transaksi saat Corona, Startup Asuransi Gencar Ekspansi

Startup asuransi Qoala dan PasarPolis mencatatkan jutaan permintaan layanan selama pandemi Covid-19. Keduanya pun gencar ekspansi dan merambah produk baru.
Image title
20 September 2021, 16:49
startup asuransi, asuransi, qoala, pasarpolis, pandemi covid-19
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.
Seorang pria melintasi papan penyedia layanan asuransi di Jakarta, Senin (6/9/2021).

Startup asuransi (insurtech) Qoala dan PasarPolis mencatatkan jutaan permintaan layanan selama pandemi Covid-19. Keduanya pun gencar ekspansi dan merambah produk baru.

Public Relation Manager Qoala Nikky Sirait mengatakan, permintaan layanan asuransi digital cukup tinggi selama pandemi Covid-19. "Qoala menerbitkan lebih dari dua juta polis setiap bulan," katanya kepada Katadata.co.id, Senin (20/9).

Qoala juga melebarkan sayap ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Startup asuransi ini pun kini hadir di Thailand.

Sepanjang tahun lalu, bisnis Qoala tumbuh enam kali lipat di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Untuk menunjang pertumbuhan bisnis, Qoala gencar berkolaborasi. "Ini untuk mengembangkan lebih banyak produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini," kata Nikky.

Kini, Qoala bekerja sama dengan lebih dari 30 perusahaan asuransi.

Selain dengan perusahaan asuransi, Qoala berkolaborasi dengan pemerintah. "Ini untuk membantu pertumbuhan asuransi lintas-sektor," ujarnya.

Startup insurtech lainnya, PasarPolis juga berhasil mencetak lebih dari 300 juta polis per Agustus. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan lima kali lipat dan hampir 100% lebih tinggi dibandingkan keseluruhan pasar asuransi umum.

 

PasarPolis menargetkan, pertumbuhan yang lebih besar hingga akhir tahun. Untuk itu, startup ini gencar merambah produk baru.

Ada tiga kategori produk baru yang disiapkan PasarPolis, yakni asuransi barang elektronik, kesehatan, dan kendaraan bermotor.

PasarPolis juga memperkuat jajaran manajemen. Startup asuransi ini menggaet Adi Darmaputra, Wei Xiong Teo, dan Daniel Tedja yang sebelumnya menjabat di perusahaan asuransi, startup hingga perbankan.

"Kami melibatkan berbagai figur dengan beragam latar belakang bidang yang menjadi elemen vital bagi industri insurtech," kata pendiri sekaligus CEO PasarPolis Cleosent Randing dalam siaran pers, pekan lalu (13/9).

Riset dari perusahaan reasuransi Swiss Re menunjukkan, minat masyarakat Indonesia terhadap asuransi digital sangat besar. Ini karena banyak yang beralih ke layanan online selama pandemi corona.

"Semakin banyak platform digital yang memperluas jangkauan bisnis ke layanan keuangan. Perusahaan asuransi harus menyesuaikan model bisnis agar relevan dan responsif terhadap kebutuhan nasabah," ujar Head Client Markets, Life & Health Asia Tenggara, Swiss Re Jolene Loh dalam siaran pers, pada Februari (2/2).

Riset menunjukkan, 76% masyarakat Indonesia tertarik membeli produk asuransi secara online. Platform yang paling banyak dipilih yakni e-commerce dan teknologi finansial (fintech).

Kemudahan menggunakan aplikasi dan tarif premi murah menjadi alasan responden menggunakan layanan asuransi online.

Meski begitu, masyarakat masih membutuhkan layanan offline. Setidaknya, 40% responden memilih untuk mendapatkan penjelasan dari agen terlebih dulu sebelum membeli produk asuransi. Oleh karena itu, Jolene Loh menilai bahwa cara tepat untuk memaksimalkan potensi pasar yakni menerapkan strategi omni-channel.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait