Eropa Buat Aturan soal Pengisi Daya Ponsel yang Diramal Tekan Apple

Komisi Eropa akan mengajukan proposal kepada badan legislatif terkait pengisi daya (charger) ponsel, tablet, dan headphone. Aturan ini dinilai akan berdampak terhadap Apple.
Desy Setyowati
22 September 2021, 15:08
apple, eropa, iphone
instagram/@cnet
Ilustrasi, tampilan iPhone SE

Komisi Eropa akan mengajukan proposal kepada badan legislatif terkait pengisi daya (charger) ponsel, tablet, dan headphone. Aturan ini dinilai akan berdampak terhadap Apple.

Pejabat eksekutif dan anggota parlemen Uni Eropa telah membahas aturan soal pengisi daya selama lebih dari satu dekade. Mereka menilai, penyeragaman charger ponsel akan lebih baik untuk lingkungan dan lebih nyaman bagi pengguna.

“Komisi Eropa ingin penjualan pengisi daya terpisah dari perangkat. Selain itu, mengusulkan port pengisian daya yang harmonis,” kata sumber Reuters yang mengetahui masalah itu, dikutip Selasa (21/9).

Apple mengatakan, aturan yang memaksa penyeragaman konektor dapat menghalangi inovasi. Selain itu, akan menciptakan tumpukan sampah elektronik dan mengganggu konsumen.

Regulator mencatat, separuh dari pengisi daya yang dijual di dalam kotak bersama ponsel, menggunakan konektor USB micro-B pada 2018. Sebanyak 29% lainnya konektor USB-C dan 21% lightning.

Sedangkan ponsel buatan Apple, iPhone menggunakan konektor lightning.

Namun Apple mulai menjual iPhone 12 tanpa adapter charger pada akhir tahun lalu. Saat itu, Vice President Environmental, Social, and Policy Initiatives Apple Lisa Jackson mengatakan, ini bertujuan memangkas biaya produksi.

Selain itu, bakal membuat perusahaan menjadi lebih ramah lingkungan karena mengurangi limbah.

Namun, akibat langkah tersebut, Apple didenda US$2 juta atau sekitar Rp 28 miliar oleh regulator konsumen di Brasil.

Lembaga Konsumen di Taiwan juga menuduh produsen iPhone itu mengeksploitasi pelanggan karena tidak menyertakan adapter charger ponsel dalam kotak. Mereka pun meminta Komisi Perdagangan Taiwan menyelidiki Apple.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait