Gojek dan Grab Gencar Merambah Ekonomi Hijau, Awas Ada Dua Tantangan

Startup jumbo seperti Gojek dan Grab merambah bisnis ekonomi hijau. Namun ada dua tantangan yang harus dihadapi, salah satunya keinginan pemerintah.
Image title
7 Oktober 2021, 17:10
Ekonomi Hijau, gojek, grab, startup, talenta digital
Gojek
Ilustrasi GoGreener Gojek

Startup jumbo seperti Gojek dan Grab merambah bisnis ekonomi hijau. Namun perusahaan venture builder UMG Idealab menilai, ada dua tantangan.

Berdasarkan laporan berjudul ‘Southeast Asia's Green Economy: Opportunities on the Road to Net Zero’, Asia Tenggara membutuhkan investasi US$ 2 triliun hingga 2030 untuk mengurangi emisi.

Dana tersebut akan dialokasikan untuk sejumlah upaya, seperti mempercepat peralihan ke energi hijau, membuat sektor pertanian pangan menjadi lebih efisien, mengurangi polusi hingga cara yang tidak merusak lingkungan. 

Dengan investasi tersebut, Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura memperkirakan, 90% emisi di Asia Tenggara berkurang. Upaya transformasi bisnis menuju ekonomi ramah lingkungan di kawasan juga akan menawarkan keuntungan US$ 1 triliun per tahun pada 2030.

Namun Founder UMG IdeaLab Kiwi Aliwarga menilai, startup yang merambah bisnis ekonomi hijau akan menghadapi dua tantangan, sebagai berikut:

1. Keinginan pemerintah

"Indonesia saat ini masih mengandalkan batu bara. Ini jadi dilema," kata Kiwi saat konferensi pers virtual, Kamis (7/10).

Menurutnya, energi batu bara masih memberi nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia. "Apabila mau berganti ke ekonomi hijau, butuh investasi yang tidak sedikit," katanya.

Meski begitu, menurutnya pemerintah perlu memiliki target jelas dalam pengembangan ekonomi hijau. "Pada 2030 zero carbon. Harus ada target seperti itu," ujarnya.

Pemerintah sendiri menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 29% dengan usaha sendiri dan 41% lewat dukungan internasional pada 2030. Untuk mencapai target ini, butuh dana Rp 266,2 triliun.

2. Talenta digital

Kiwi menyampaikan, startup Indonesia saat ini menghadapi minimnya talenta digital. Hal ini membuat perusahaan rintisan kesulitan mengembangkan berbagai teknologi yang menunjang untuk beralih ke ekonomi hijau.

Riset McKinsey dan Bank Dunia menunjukkan, Indonesia membutuhkan sembilan juta tenaga digital hingga 2030. Ini artinya, ada kebutuhan 600 ribu pekerja digital per tahunnya.

Dari sisi potensi, Bain & Company, Microsoft dan Temasek Holdings Singapura menilai bahwa Indonesia memiliki ukuran dan sumber daya alam (SDA) besar. “Ini menjadi game changer di Asia Tenggara untuk keberlanjutan," demikian dikutip dari laporan, Kamis (30/9).

Menurut laporan tersebut, ruang investasi hijau di Indonesia juga akan terus tumbuh. "Aktivitas investasi di ekonomi hijau akan menjanjikan,” demikian isi laporan.

Sedangkan sejumlah startup di Indonesia gencar mengembangkan bisnis ekonomi hijau. Decacorn Tanah Air Gojek misalnya, mempunyai komitmen Three Zeros: Zero Emissions, Zero Waste dan Zero Barriers atau nol emisi pada 2030.

Gojek juga mengembangkan kendaraan listrik dilakukan sebagai komitmen untuk nol emisi pada 2030. Decacorn ini ingin seluruh motor dan mobil di lini bisnis transportasi berbasis listrik.

Selain itu, Gojek membuat fitur hitung emisi karbon GoGreener Carbon Offset. Gojek menggaet startup Jejak.in untuk membuat fitur ini. Melalui fitur itu, pengguna bisa menghitung jumlah emisi karbon sehari-hari dan mengonversinya dengan menanam pohon.

Kemudian, startup Jejak.in yang menyediakan solusi berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligent (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk membantu bisnis melakukan perimbangan karbon (carbon offset). Jejak.in juga mengikuti program akselerasi Gojek Xcelerate. 

Founder sekaligus CEO Jejak.in Arfan Arlanda mengatakan, perusahaan menggaet pabrik skala besar dan kecil untuk mengurangi emisi karbon. Salah satu produk yang dibuat Jejak.in yakni Tree and Carbon Storage Monitoring Platform, yang dapat mengumpulkan dan menganalisis data ekologis lingkungan.

"Kami berharap masyarakat berpartisipasi aktif ikuti pengurangan jejak karbon," ujar Arfan, tahun lalu (14/9/2020).

Ada juga startup perikanan eFishery yang memanfaatkan kemampuan data dan teknologi IoT guna meningkatkan produktivitas perikanan pengusaha skala kecil dan keberlanjutan. Perusahaan mendapatkan pendanaan hingga seri B US$ 20,2 juta.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait