Lepas dari Huawei, Honor Jadi Merek Ponsel Terbesar Ketiga di Cina

Honor resmi lepas dari Huawei sejak akhir tahun lalu. Setelah berpisah, Honor meraih predikat merek ponsel terbesar ketiga di Cina, di atas Xiaomi.
Image title
29 Oktober 2021, 13:49
Honor, honor 50, huawei, cina
Hihonor
Honor 50

Honor resmi lepas dari Huawei sejak akhir tahun lalu. Setelah berpisah, Honor meraih predikat merek (brand) ponsel pintar (smartphone) terbesar ketiga di Cina.

Berdasarkan laporan terbaru Counterpoint, pangsa pasar Honor di Cina 15% pada Agustus. "Ini menjadikannya pemain smartphone terbesar ketiga di Cina untuk pertama kalinya," kata Counterpoint dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (28/10).

Posisi Honor ada di bawah Oppo meraup pangsa pasar penjualan 21% dan di atas Xiaomi 14%. Vivo berada di peringkat pertama dengan pangsa 23%.

Setelah sukses memperkuat pasar ponsel di Cina tanpa Huawei, Honor berencana memperkuat penjualan secara global. Pangsa pasarnya secara internasional baru 3,7%, naik dari 1,5% per Februari.

Advertisement

Untuk menjangkau lebih banyak pasar global, Honor akan meluncurkan ponsel baru yakni Honor 50 di 40 negara.

Ponsel itu bertenaga cip (chipset) buatan Qualcomm yakni Snapdragon 778G. Kapasitas baterainya 4.300 mAh dengan daya pengisian cepat atau fast charging 66W.

Layar Honor 50 berukuran 6,57 inci dan mempunyai kemampuan refresh rate 120 Hz. 

Honor memiliki empat kemera belakang yakni utama 108 Megapiksel (MP), ultrawide 8 MP, makro 2 MP dan depth 2 MP.

Ponsel tersebut dibanderol 529 euro atau US$ 617 (Rp 8,7 juta) dengan RAM 6GB dan storage 128 GB. Sedangkan model 8GB dan storage 256GB dijual 599 euro atau US$ 699 (Rp 9,8 juta).

Honor sebelumnya merupakan bagian integral dari bisnis smartphone Huawei. Namun, Huawei memutuskan untuk menjual Honor kepada konsorsium Shenzhen Zhixin New Information Techonology Co. Ltd.

Konsorsium itu terdiri dari 30 lebih perusahaan Cina, yang dikabarkan membeli Honor sekitar US$ 15,2 miliar.

Huawei menjual Honor sebagai solusi dari tekanan pemerintah Amerika Serikat (AS). Huawei masuk daftar hitam perdagangan AS sejak Mei 2019, karena diangap mengancam keamanan nasional.

Imbas sanksi itu, raksasa teknologi asal Cina tersebut tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan AS.

“Setelah ‘bercerai’, tidak akan ada lagi hubungan di bawah meja dengan Honor. Kami menangani pemisahan ini secara dewasa, dan akan dengan ketat mematuhi peraturan dan norma internasional,” kata pendiri Huawei Ren Zhengfei dikutip dari Bloomberg, akhir tahun lalu (28/11/2020).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait