Riset: Ekonomi Digital RI Diramal Tembus Rp 2.000 Triliun pada 2025

Nilai ekonomi digital Indonesia diprediksi hampir Rp 1.000 triliun tahun ini. Nilainya diperkirakan tumbuh dua kali lipat menjadi Rp 2.080 triliun pada 2025.
Desy Setyowati
10 November 2021, 15:51
ekonomi digital, startup, ojek online, e-commerce
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/AWW.
Warga mengamati aplikasi-aplikasi startup yang dapat diunduh melalui telepon pintar di Jakarta, Selasa (26/10/2021).

Google, Temasek, dan Bain dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2021 memperkirakan, nilai ekonomi digital Indonesia US$ 70 miliar atau Rp 997 triliun tahun ini. Nilainya diprediksi melonjak menjadi US$ 146 miliar atau sekitar Rp 2.080 triliun pada 2025.

Nilai ekonomi digital di Indonesia tumbuh 49% dibandingkan tahun lalu (year on year/yoy). “Ekonomi digital Indonesia US$ 70 miliar mengindikasikan prospek yang optimistis untuk negara berpopulasi besar ini,” demikian dikutip dari laporan tersebut, yang dirilis Rabu (10/11).

Mesi begitu, pertumbuhan tertinggi terjadi di Filipina, yakni 93% yoy. Disusul oleh Thailand 51% dan Indonesia 49%. Rinciannya dapat dilihat pada Bagan di bawah ini:

 

Advertisement
Prediksi transaksi ekonomi digital di Asia Tenggara
Prediksi transaksi ekonomi digital di Asia Tenggara (Google, Temasek, dan Bain & Company)

 

Proyeksi nilai ekonomi tersebut berdasarkan transaksi bruto alias gross merchandise value (GMV) lima sektor, yakni e-commerce, berbagi tumpangan (ride hailing) dan pesan-antar makanan, media digital, online travel, serta finansial.

Di Asia Tenggara, GMV e-commerce diprediksi melonjak 62% yoy menjadi US$ 120 miliar pada tahun ini dan naik 18% menjadi US$ 234 miliar pada 2025. Satu dari dua pembeli di Asia Tenggara menunjukkan frekuensi pembelian yang lebih tinggi sejak pandemi corona.

"Hasilnya, kami juga melihat peningkatan penekanan pada kelekatan pengguna dan pertumbuhan nilai pesanan seiring dengan meningkatnya penetrasi, di atas upaya akuisisi pengguna yang berkelanjutan," demikian dikutip.

Sedangkan nilai transaksi online media diproyeksikan tumbuh 32% menjadi US$ 22 miliar tahun ini.

Lalu, sektor transportasi dan pesan-antar makanan membaik dibanding tahun lalu yang stagnan. Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan, transaksi sektor ini tumbuh 36% menjadi US$ 18 miliar.

Rincian proyeksi transaksi per sektor dapat dilihat pada Bagan di bawah ini:

Prediksi transaksi per sektor digital di Asia Tenggara
Prediksi transaksi per sektor digital di Asia Tenggara (Google, Temasek, Bain and Company)

 

Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat, lebih dari 75% populasi di enam negara besar Asia Tenggara memiliki akses ke internet. Mayoritas dari mereka berbelanja online setidaknya sekali.

Sebanyak 40 juta orang di Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand menggunakan internet untuk pertama kalinya tahun ini. Dengan begitu, total pengguna internet di Asia Tenggara lebih dari 440 juta saat ini.

“Sebanyak 80% di antaranya melakukan pembelian online setidaknya sekali,” demikian dikutip. “Lebih dari 60 juta orang menggunakan layanan digital untuk pertama kalinya karena Covid-19 dan 20 juta di antaranya bertransaksi pada paruh pertama tahun ini.”

Pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara diprediksi terus melonjak, seiring meningkatnya jumlah pengguna internet. Rincian proyeksi nilai transaksi pada 2030 dapat dilihat pada Bagan di bawah ini:

Prediksi ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2030
Prediksi ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2030 (Google, Temasek, dan Bain & Company)

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait