Gojek dan TBS Bentuk Usaha Patungan Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Gojek menggaet TBS Energi Utama dalam membentuk perusahaan patungan bernama Electrum. Join venture ini akan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Image title
18 November 2021, 13:40
Gojek, tbs energi utama, kendaraan listrik
Gojek
CoFounder sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi (kedua dari kiri) dan Wakil Direktur Utama PT TBS Energi Utama Tbk Pandu Patria Sjahrir (kedua dari kanan) menandatangani komitmen kerja sama dalam membentuk usaha patungan atau Joint Venture (JV) bernama Electrum di Jakarta pada Kamis (18/11/2021),

Gojek berkerja sama dengan PT TBS Energi Utama Tbk melalui PT Karya Baru TBS, dan membentuk perusahaan patungan bernama Electrum. Join venture ini akan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Co-Founder sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi mengatakan, perusahaan patungan itu akan membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir. "Mulai dari manufacturing, pengemasan baterai, distribusi, hingga pembiayaan kendaraan listrik bagi mitra," katanya dalam konferensi pers virtual pada Kamis (18/11).

Decacorn Tanah Air itu memilih bekerja sama dalam pengembangan kendaraan listrik. “Kalau digarap masing-masing tidak akan berhasil," katanya.

Advertisement

Gojek mempunyai rencana pengembangan lebih lanjut pada perusahaan patungan itu. Dalam waktu dekat, hasil pengembangan kendaraan listrik oleh Electrum akan diaplikasikan terhadap sejumlah layanan seperti, pesan-antar makanan GoFood hingga pengiriman barang atau GoSend.

Wakil Direktur Utama PT TBS Energi Utama Tbk Pandu Sjahrir berharap, hasil pengembangan kendaraan listrik dari Electrum bisa menjadi layanan utama bagi Gojek. "Ini agar bisa membangun industri yang lebih baik lagi," katanya.

Dalam waktu dekat, pengembangan Electrum masih menyasar roda dua. Sebab, Pandu menilai bahwa pasar kendaraan roda dua di Indonesia sangat besar.

Ke depan, tidak menutup kemungkinan Electrum akan mengembangkan jenis kendaraan lain. 

Upaya pengembangan kendaraan listrik itu sejalan dengan target Gojek sebagai platform karbon-netral. Decacorn ini juga menargetkan transisi 100% kendaraan listrik roda dua pada 2030.

Sebelumnya, Gojek mengumumkan kemitraan strategis dengan perusahaan asal Taiwan, Gogoro. Kemitraan itu mencakup dua pola kerja sama. Pertama, investasi induk Gojek, GoTo Group di Gogoro melalui skema Private Investment in Public Equity (PIPE).

Investasi tersebut dimulai sejak September. Sedangkan transaksi ditargetkan rampung awal 2022. 

Kedua, kerja sama Gojek dan Gogoro dalam mengembangkan percontohan baterai swap pada kendaraan listrik. Keduanya menggandeng perusahaan berpelat merah, Pertamina.

Gojek juga mengumumkan uji coba komersial pemanfaatan motor listrik dengan skema baterai swap. Pada tahap ini, Gojek menggunakan 500 unit motor listrik di Jakarta Selatan. 

Selanjutnya, Gojek akan meningkatkan skala uji coba dengan target awal pemanfaatan 5.000 unit motor listrik dan jarak tempuh 1 juta kilometer. Data hasil uji coba ini juga bakal dimanfaatkan untuk mencari kombinasi teknologi yang tepat untuk penggunaan kendaraan listrik oleh mitra.

Gojek juga membuat layanan GoTransit untuk mendukung nol emisi 2030. GoTransits merupakan solusi mobilitas yang membantu pengguna menentukan rute perjalanan. Melalui layanan itu, decacorn ini mengintegrasikan layanan dengan transportasi lain.

Selain itu, Gojek membuat fitur hitung emisi karbon yakni GoGreener Carbon Offset dengan menggaet startup Jejak.in. Melalui fitur ini, pengguna bisa menghitung jumlah emisi karbon sehari-hari dan mengonversinya dengan menanam pohon.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait