Jumlah Startup Fintech Lending Diramal Kian Menyusut Tahun Depan

Meski penyelenggara fintech lending diramal menyusut, minat investor dinilai bakal tetap besar.
Image title
24 Desember 2021, 15:05
startup, fintech, ojk, bank, pinjol, pinjaman online
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi fintech

Jumlah startup di sektor teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) turun dari 149 per 10 Januari menjadi 104 pada November 2021. Jumlahnya diprediksi susut lagi tahun depan, tetapi investor tetap berminat. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pembayaran Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansah menyampaikan, sektor ini menghadapi dinamika dan aturan sejak awal tahun. Salah satunya, ijtima ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan aktivitas pinjaman online (pinjol) haram.

“Kami mengapresiasi DSN MUI yang juga memberikan fatwa tentang produk fintech syariah. Jadi untuk masyarakat dengan preferensi nilai syariah, dapat memilih layanan ini, yang juga merupakan anggota AFPI,” kata Kuseryansah kepada Katadata.co.id, Kamis (23/12).

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa kali menutup sementara pendaftaran fintech lending sejak awal 2020. Regulator ini juga berencana mengatur minimal penyaluran kredit ke sektor produktif dan ke luar Jawa

Advertisement

“Hal ini memang secara natural harus menjadi perhatian. Bagaimana meningkatkan porsi pencairan pendanaan di luar Jawa,” kata dia.

Kemudian, ada wacana membuat aturan yang membatasi bank menyalurkan pinjaman lewat fintech lending.

Meski begitu, Kuseryansah optimistis bahwa pertumbuhan fintech lending di atas rerata sektor jasa keuangan konvensional. Ini dengan asumsi kasus harian Covid-19 terus melandai.

Apalagi, 101 dari 104 penyelenggara sudah berstatus berizin. “Ini akan meningkatkan kredibilitas dan percaya diri pemangku kepentingan untuk semakin intensif bekerja sama,” ujar dia.

Sepengetahuannya, OJK juga akan menerbitkan aturan baru akhir tahun ini. Regulasi ini bertujuan memperkuat tata kelola dan pengelolaan risiko di industri.

Ia pun memperkirakan, pertumbuhan penyaluran kredit akan tinggi tahun depan.

Berdasarkan data OJK, penyaluran pinjaman oleh fintech lending tumbuh 52,06% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 13,61 triliun per Oktober.

Namun Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, jumlah fintech lending berkurang lagi tahun depan. “Akan ada banyak konsolidasi," kata dia.

Menurutnya, banyak startup fintech lending yang tidak bisa mengendalikan rasio gagal bayar atau kredit macet. Alhasil, penyelenggara kemungkinan besar akan tutup buku.

OJK sebelumnya menjelaskan bahwa penurunan jumlah fintech lending seiring dengan upaya otoritas menambah sejumlah persyaratan, seperti uji kelayakan (fit and proper test) bagi pengurus, peningkatan modal disetor hingga ekuitas minimum.

Regulator juga meminta penyelenggara fintech lending meningkatkan jumlah ketentuan modal inti yang harus disetor dari minimal Rp 2,5 miliar menjadi Rp 15 miliar. Ini harus dipenuhi ketika mengajukan perizinan.

Selain itu, memberlakukan moratorium atau penundaan penerbitan izin fintech lending baru.

Bhima pun memperkirakan, kolaborasi fintech lending dengan perbankan terhambat pada tahun depan. Sebab, OJK berencana membatasi pemberi pinjaman atau lender institusi seperti bank menyalurkan kredit lewat platform ini.  

"Ini akan jadi tantangan buat fintech lending. Aturan itu membuat mereka ekspansi ke lender yang sifatnya ritel," katanya. Alhasil, startup akan menawarkan skema bunga dan imbal hasil yang tinggi untuk menggaet investor individu.

Meski begitu, CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro menilai bahwa startup di sektor ini tetap diminati oleh investor tahun depan. "Kami masih melihat tren positif," katanya.

Hal itu karena fintech lending didorong untuk menyalurkan pinjaman di sektor produktif. Selain itu, startup di bidang ini berpotensi untuk exit strategy.

Exit strategy adalah pendekatan yang direncanakan untuk mengakhiri investasi dengan cara yang akan memaksimalkan keuntungan dan/atau meminimalkan kerugian. Ini bisa berupa IPO, merger, atau akuisisi.

"Ada Kredivo yang berencana mencatatkan penawaran saham perdana ke publik atau IPO. Ada juga fintech lending yang berencana membeli bank, dan lainnya," kata Eddi.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait