Bos Amazon Jeff Bezos Suntik Lagi Startup Indonesia, Kali Ini Lummo

Pendiri Amazon Jeff Bezos kembali menyuntik modal startup Indonesia, yakni Lummo. Salah satu orang terkaya di dunia ini sebelumnya berinvestasi di Ula.
Desy Setyowati
16 Februari 2022, 12:06
Jeff Bezos, amazon, startup, lummo, pendanaan
NASA Robotics Competitions Sheyene Gerardi
Jeff Bezos

Pendiri Amazon Jeff Bezos kembali berinvestasi di startup Indonesia. Kali ini Lummo yang meraih pendanaan.

Lummo merupakan penyedia solusi layanan perangkat lunak penghubung bisnis dengan pelanggan atau direct to consumer (D2C) software-as-a-service (SaaS). Startup ini meraih pendanaan seri C US$ 80 juta.

Pendanaan itu dipimpin oleh Tiger Global dan Sequoia Capital India. Jeff Bezos berpartisipasi lewat perusahaan pengelolaan aset pribadinya, Bezos Expedition.

Bezos Expedition sebelumnya berinvestasi di Ula.

Advertisement

“Kami bangga mendapatkan dukungan Jeff Bezos di putaran investasi Seri C ini,” kata pendiri sekaligus CEO Lummo Krishnan Menon dalam keterangan pers, Rabu (6/2).

Ia menyampaikan, perusahaan tengah memprioritaskan pertumbuhan eksponensial secara jangka panjang. “Investasi ini semakin memperkuat upaya Lummo untuk mengembangkan solusi D2C,” ujarnya.

Menurutnya, keikutsertaan Jeff Bezos dalam seri pendanaan itu dapat memperkuat ambisi Lummo untuk mempercepat pertumbuhan bisnis pengusaha dan pemilik merek di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara.

Jeff Bezos dikenal secara global sebagai pelopor dunia e-commerce. Menurut Krishnan, model D2C Lummo selaras dengan komitmen salah satu orang terkaya di dunia itu, karena menawarkan peluang kepada pengusaha dan pemilik merek (brand) untuk membangun bisnis kompetitif jangka panjang.

“Dukungan skala ini menggarisbawahi keyakinan kami bahwa Indonesia dan Asia Tenggara adalah tujuan yang tepat bagi para investor teknologi,” ujar Krishnan.

Menurut laporan Google, Temasek, dan Bain pada 2020, nilai transaksi bruto alias gross merchandise value (GMV) ekonomi internet Asia Tenggara akan mencapai lebih dari US$ 300 miliar pada 2025. Sedangkan Indonesia US$ 124 miliar.

Namun masih ada kesenjangan inklusi digital dan keuangan. Krishnan menilai, para inovator dan startup muda sangat dibutuhkan untuk mengatasi tantangan ini.

Dia mengklaim, pendekatan D2C seperti Lummo memberikan dampak berkelanjutan bagi pengembangan bisnis di Indonesia. Selain itu, membuka lebih banyak potensi bisnis bagi usaha kecil dan menengah di tengah persaingan bisnis online.

Berbekal pengalaman mendalam tentang pasar di Indonesia, Lummo optimistis dapat menciptakan solusi teknologi yang mampu memecahkan tantangan bisnis yang dihadapi para pengusaha.

“Kami melihat pengusaha Indonesia sangat berambisi dan berorientasi pada pertumbuhan bisnis, serta berfokus membangun merek lokal mereka sendiri,” kata Krishnan.

Lummo pun membuat layanan LummoSHOP. Ini memberikan akses pada pelaku usaha dan pemilik merek untuk menganalisis dan menargetkan pelanggan untuk kembali melakukan pembelian melalui catatan dan riwayat pembelian pelanggan.

Fitur lainnya yakni chat commerce, integrasi katalog, custom domain dan situs web khusus, manajemen multi-platform hingga fitur yang dipersonalisasi untuk branding bisnis.

GMV LummoSHOP tumbuh 11 kali lipat sejak Desember 2020 hingga Desember 2021. LummoSHOP yang sebelumnya dikenal TOKKO juga memenangkan Google Play Users Choice Award 2022 kategori ‘Aplikasi Pilihan Penggun’.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait